Menjadi Adik Kesayangan Sang Antagonis

Menjadi Adik Kesayangan Sang Antagonis
cerita lain


__ADS_3

aneas membuka matanya dan melihat ribuan tetesan air yang seakan akan tidak memiliki gravitasi yang membuat mereka seakan akan terbang, eneas mencoba menggapai salah satu dari tetesan air itu tapi saat tangannya menyentuhnya sensasi dingin yang seakan akan menusuk membuatnya entah kenapa menggenggam tetesan air itu, tepat setelah aneas membuka ngenggaman tangannya sebuah pecahan salju dan darahnya berubah menjadi seseorang yang membuat aneas merasakan perasaan familiar seakan akan mereka pernah bertemu sebelumnya, dia menggenggam tangan aneas lalu mendorongnya kebelakang dimana saat aneas menoleh nafasnya seakan akan tercekat oleh sesuatu, sunyi, gelap aneas tidak melihat apapun dan hal itu benar benar membuat aneas merasa sangat ketakutan perasaan ini benar benar sama persis dengan perasaan yang tiada di kehidupannya sebelumnya.


tapi beberapa saat kemudian seperti di dalam sebuah lautan seseorang berenang mendekati aneas dan menariknya keluar, saat aneas bisa menghirup udara kembali enatah kenapa saat itu juga dia ingin menangis sejadi jadinya, sementara itu seseorang yang menariknya dari dalam laut terkekeh.


"hei... kau tidak bisa berenang tapi kenapa kau bisa berada di tengah lautan seperti ini" orang itu menepuk nepuk punggung aneas perlahan.


"tenanglah, semakin kau panik dan membuat pergerakan yang tidak tidak kau akan kembali tenggelam" orang itu menarik aneas menuju darat perlahan, aneas yang mengalami kejadian yang membuatnya semakin membenci lautan hanya bisa diam dengan nafas yang berusaha ia atur.


"kau cukup tenang untuk ukuran seseorang yang hampir tenggelam" aneas yang seakan akan mendapatkan kesadarannya secara penuh memukul orang yang menyelamatkannya.


"aku bukan tidak berterima kasih tapi bukankah ucapannya itu terkesan keterlaluan atau aku yang terlalu berfikir berlebihan" aneas terus berucap dan hanya dibalasnya dengan kekehan.


"memang kurasa kau yang terlalu berfikir berlebihan, melihat kau bisa berbicara kurasa kau sudah mulai membaik kenalkan namaku Adrian"


"raizel"


"aizel" sekali lagi aneas memukul kepalanya tapi Adrian hanya meresponnya dengan senyuman.


"katanya seseorang akan mengingat orang lain yang memanggil namanya dengan nama panggilan, dan sebagai nama panggilan khusus dariku aku akan memanggilmu aizel"


"kekanak kanakan dan kau masih percaya itu"


"bukan aku yang kekanak kanakan tapi mungkin kau saja yang terlalu kolot" aneas menatap lelah kearah lain membiarkan Adrian berceloteh semaunya saat sampai di tepi aneas baru menyadari bahwa Adrian memiliki ekor sebagai ganti kakinya.

__ADS_1


"aizel, kau tidak kaget melihat...."


"seseorang tidak akan tertawa karena lelocon yang sama untuk yang kesekian kalinya, dan aku tidak peduli mau bagaimanapun dirimu karna itu bukan urusanku dan kau tidak sebegitu penting sampai aku harus mempermasalahkan serta mengurusi fisikmu"


"kejamnya"


"terima kasih. aku akan kembali sekarang, semoga kita tidak pernah bertemu lagi Rian" berjalan menjauh sementara Adrian yang mendengarnya lantas tertawa dan bersandar pada batu di hadapannya.


"jika kau bicara seperti itu orang orang akan salah sangka mengira bahwa kau adalah seseorang yang sulit untuk didekati, ubahlah gaya bicaramu karna mungkin kau akan kesulitan nantinya mengejar wanita yang kau sukai" aneas menghentikan langkahnya kata kata Adrian seakan akan memperjelas ingatannya pada kahidupan ya sebelumnya, aneas berbalik wajahnya datar matanya menatap dingin kearah Adrian.


"aku tidak akan mengubah apapun pada diriku hanya untuk seorang dimasa depan yang akan membunuhku" Adrian mencoba naik kedaratan ekornya yang berada di atas permukaan air berubah menjadi kaki seketika membuatnya bisa berjalan menghampiri aneas yang masih menatapnya dingin, tepat saat Adrian berhadapan dengan aneas Adrian menyapukan tangannya yang masih basah ke wajah aneas, membuat aneas jengkel bukan main dan tanpa aba aba aneas hendak memberikan Adrian tendangan memutar tapi Adrian memegang pergelangan kakinya dengan ekspresi meremehkan.


"aizel aku akan membuatmu jatuh cinta dalam waktu kurang dari 24 jam percayalah" menarik pergelangan kakinya membuat mau tak mau aneas benar benar menempel dengan Adrian sekarang.


"kau bisa dan aku memilikinya, jadi mari sekarang kita bersenang senang" setelah mengatakan hal itu Adrian merangkul erat aneas selayaknya aneas yang sedari tadi mencoba melepaskan rangkulan Adrian namun selalu nihil.


"sistem" ucapnya dalam hati namun seperti awal penyebab aneas berada di tempat yang tidak ia ketahui hanya ada layar hologram berwarna merah dengan tulisan error dan warning, yang membuat aneas menghela nafasnya dan hanya bisa pasrah mengikuti Adrian yang membawanya kesebuah mansion minimalis dengan gaya modern.


"aku tidak menyangka bahwa orang sepertimu adalah generasi penerus suatu perusahaan"


"apa yang kau harapkan dari seseorang yang bukan manusia aizel?, ini hanyalah sebuah rumah tertinggal tidak terawat yang kujadikan tempat peristirahatan" aneas melirik Adrian menggeleng lalu memijit kepalanya.


" terdampar pada tempat yang tidak diketahui sangat menguntungkan jika ini adalah bumi tempat tinggalku dulu, jika bukan!!!! ...sekaligus bersama dengan seseorang yang membuatku ingin menguburnya hidup hidup serta sistem yang tidak bekerja, berfikir secara rasional rasanya melelahkan" aneas membatin dan menatap lelah kearah Adrian, sementara Adrian yang diperhatikan hanya menyengir dan menarik aneas kedalam garasi yang di dalamnya terdapat satu motor balap dengan warna blue dark.

__ADS_1


"ini bukan mobil tapi motor" tanpa basa basi aneas melepas sarung tangannya dan memperhatikan motor di hadapannya yang seakan akan lebih canggih dari teknologi dunianya.


"apa kau tidak bisa mengendarainya"


"sebelum kau bertanya tantang itu, jawab pertanyaanku dulu di rumah ini ada berapa buku"


"3000 lebih dan aku membakar sebagainnya, apakah kau ingin membacanya"


"tidak, dan apakah di rumah ini ada sesuatu yang menurutmu janggal karna aku hanya merasa aneh"


"tidak ada semuanya terlihat normal dan tidak berbahaya sama sekali"


"karna kau mengatakan itu aku semakin curiga tidakkah kau peka akan sesuatu di sekitarmu" ucap aneas dalam hanya.


"baik karna ada tiga ribu buku lebih dirumah ini, orang itu memiliki kepribadian yang terbuka dan mau mencoba hal hal baru serta memiliki banyak ide,dalam artian.... orang itu adalah seseorang yang dikenal aneh oleh orang orang sekitarnya dan sebagian kecil orang beranggapan orang aneh adalah orang jenius dan orang jenius biasanya memiliki suatu rahasia"


"tolong antarkan aku menuju tampat dimana buku buku itu berasal" Adrian mengangguk dan menuntunku menuju satu ruangan selama berjalan jalan di dalam mansion aku menemukan banyak hal tentang pemilik rumah ini sebelumnya, saat Adrian membuka salah satu pintu mataku terpaku akan ribuan buku buku yang memenuhi dinding tapi tidak lama setelahnya aku berjalan ke arah meja sata satunya meja diruangan itu, duduk membuka beberapa laci membaca kilat beberapa berkas lalu melemparnya kesembarang arah.


berkas berkas itu tidak ada hal hal yang penting dan saat aku mengeluarkan seluruh laci juga tidak ada hal hal yang aneas, dan saat aku mencoba meraba bagian atas laci hanya ada pena bulu, kuas, bolpoin, serta pensil warna berwarna biru.


"bukankah ini terlalu mudah, pena bulu, kuas, bolpoin, pensil warna biru, tapi entah kenapa aku merasa tertantang sekarang. jika kau meminta aku untuk bertindak profesionalisme dan percaya baik aku terima tantanganmu, tapi jangan menyesal sudah membuatku tertarik"


"Adrian sepertinya aku akan benar benar jatuh cinta dalam waktu 24 jam pada pemilik rumah ini"

__ADS_1


__ADS_2