
profesor Adnan, terkenal dengan sifat kerasnya dalam melatih para murid akademi yang merupakan antagonis yang paling sedikit kehadirannya didalam novel, seseorang yang tewas karna caranya yang tegas dalam mendidik pemeran utama wanita dalam berpedang, mengingat hal itu membuat ku tanpa sadar tertawa kecil.
"tuan, apakah ada yang membuat anda merasa senang"
"ya aku menyadari satu hal bahwa sebuah cerita tidak akan menarik jika hanya memiliki satu konflik dan antagonis bodoh yang mengemis cinta pemeran utama" aku menatap keheningan yang terjadi dengan senyuman tipis yang hanya disadari oleh ron.
"jadi maksud anda sebuah cerita akan menarik jika memiliki banyak konflik yang berkepanjangan serta antagonis cerdik yang lihai dalam memainkan peran"
"ya bisa dibilang seperti itu tapi tidak akan seru jika antagonis hanya bertarung sendirian melawan para pemeran utama yang memiliki banyak pendukung, antagonis pun harus memiliki bidak catur yang bisa ia mainkan sesuka hatinya untuk tujuannya"
"seperti anda bukan.... anda mengumpulkan orang yang berguna dan bisa anda manfaatkan suatu saat nanti untuk tujuan anda sendiri" aku menahan tawaku perkataannya sangat benar sampai membuatku hampir tertawa keras tapi di dalam lubuk hatiku entah kenapa ada perasaan aneh yang membuatku terdiam seketika, tidak mau terlalu lama terkurung dalam perasaan aneh itu aku berdiri memegang pambatas lalu mengetuknya pelan dengan sedikit menggunakan mana untuk menimbulkan bunyi nyaring.
"mohon maaf profesor Adnan acara dimulai terlebih dahulu sebelum seluruh profesor berada di aula atas perintahku, aku ingin menunggu lebih lama tapi sayangnya aku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu lebih lama karna ada beberapa urusan mendesak yang harus diselesaikan secepatnya, didalam perjanjian aku harus menghadiri acara resmi akademi jadi aku tidak bisa pergi meninggalkan aula dan jika aku mengerjakan pekerjaanku disini menurutku itu bukanlah hal yang baik dilakukan" jeda sesaat dengan situasi yang semakin hening membuatku hanya bisa memberikan senyuman dan menyuruh pelayan untuk mengantarkan profesor Andan kekursinya, melihat hal itu aku mengangguk dan kembali duduk.
"tuan, walaupun posisi anda tidak bisa diremehkan tapi tolong jangan terlalu sering membuat masalah karena itu akan mempengaruhi citra anda kedepannya, dan haruskah saya menyiapkan pedang Sofia, pedang kebijaksanaan" aku tidak meliriknya dan masih fokus kepada acara karna beberapa waktu yang lalu aku merasakan ada yang aneh dari beberapa peserta.
"kau tidak perlu melakukan apapun dan jika kau sampai menyiapkan pedang kebijaksanaan kau sangat berlebihan, walaupun aku tidak bisa mengeluarkan mana sihirku secara bebas mulai sekarang aku masih mampu menghadapinya tampa menggunakan sihir dan panguat dari mana, kau tidak perlu memikirkan apapun yang tidak perlu dan fokuslah kepada beberapa peserta yang memiliki keanehan, aku merasakan firasat buruk bahwa semuanya tidak akan berjalan dengan baik mulai sekarang"Ron mengangguk mulai menelisik kearah peserta ia mundur selangkah lalu berjalan keluar menuju pintu belakang lalu kembali menggambil beberapa anak panah serta busur beserta beberapa catatan yang langsung ia serahkan kepadaku.
catatan itu tidaklah penting hanya tiga data pribadi siswa baru akademi bangsawan, rea ras manusia yang merupakan seorang pelayan seorang putri count pernah tinggal di jalanan selama hampir seumur hidupnya setelah kedua orang tuanya dibantai, yang kedua adalah Luna awalnya seorang anak yatim piatu yang beruntung karena di adopsi oleh keluarga ternama yang tidak memiliki gelar berasal dari kerajaan setengah hewan buas (beast) terlahir dari ras rubah, terakhir seseorang yang membuatku terasa familiar azaxs dari kekaisaran okeanos dengan identitas yang tidak biasa sampai Achlys sendiri tidak diizinkan untuk mengaksesnya.
"sepertinya kau mengamati seseorang yang salah Ron, mereka bertiga memang mencurigakan dan berada dalam daftar seseorang yang harus diperhatikan tapi bukan mereka... arah jam 1 dikursi ke 458 ia memiliki aura yang berbeda dan orang orang disekitarnya seakan akan tidak nyaman walaupun ia terlihat biasa saja, kedua arah jam 3 dikursi ke 762 ia seakan akan menunggu sesuatu...dia mungkin sedang menunggu pengumuman siswa terbaik tapi tidak menuntut kemungkinan ia menunggu sesuatu yang buruk, dua orang itu yang harusnya kau awasi" tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku suara dentuman sesuatu yang memekakkan telinga membuatku mau tak mau menutup mataku debu dari reruntuhan bangunan membuat ku batuk beberapa kali.
__ADS_1
"benar bukan tidak ada yang baik yang terjadi"
"topi tuan tidak seburuk itu juga bukan, saya akan menyelesaikannya"
"bilang kepada mereka bahwa acara akan dipindahkan di lapangan, acara akan terus berlanjut hingga selesai dan aku tidak mengijinkan pengulangan acara" mengatakan aku berjalan perlahan menuju pintu keluar.
Ron yang melihat tuannya sudah dipastikan dalam kondisi aman langsung melompat dari tempatnya berada sekaligus membidik beberapa titik dengan anak panah yang terbuat dari mana yang menyebabkan saat panahnya mengenai target panah itu akan meledak.
Ron membidik beberapa orang yang bersembunyi dalam bayangan ledakan kembali terdengar aula menjadi kacau para segerombolan murid berhamburan mencari tempat aman serta para profesor yang berusaha menenangkan situasi, situasi semakin tidak terkendali dengan datangnya penjaga akadem.
Ron berdiri di udara memijit pelipis kepalanya suara riuh membuatnya hampir tidak bisa berfikir jernih, target yang ia bidik lolos begitu saja karna kerumunan yang menghalanginya Ron bisa saja membidik mereka tapi Ron tidak bisa menjamin bahwa tidak ada korban yang terluka.
"situasi, semakin kacau. aku tidak bisa berbuat apapun, mereka tidak mau diam, sangat menyebalkan. jika tuan memperbolehkan menggunakan cara kasar aku akan melakukannya saat ini juga" olea berucap kasar sambil melirik kebawah dimana masih terjadi kehebohan.
"itu tidak penting lagi sekarang, kelompok achlys saat dibentuk sudah memiliki peraturan untuk tidak menyakiti siapapun di akademi ini dan itu tidak akan bisa diubah oleh siapapun karna peraturan itu mutlak jika kau melupakan itu olea, tuan meminta untuk melanjutkan acara dilapangan atau gerbang depan , kuharap kau bisa mengurusnya secepatnya" Luna mengangguk dan terbang turun sementara olea melirik Ron sebentar.
"aku harus mengajukan permintaan khusus tentang para bangsawan ini" Ron mendengar itu tidak bisa berucap lagi karna jika Ron melanjutkannya Terget dari orang yang menghancurkan acara dan menghambat tuannya akan menghilang dari pandangannya.
Luna menoleh kearah olea, olea yang tau bahwa Luna tidak tau ingin berbuat apapun olea langsung berteriak dengan menggunakan mana.
"keluar dari ruangan segera dan menuju kelapangan gerbang depan akademi diserang" teriaknya yang langsung membuat seluruh orang di dalam aula berhamburan keluar dari pintu lalu berlari keluar dari menuju gerbang utama, olea yang melihat hal itu lantas tidak bisa berhenti mengumpat sementara itu Luna yang mendengar itu menghela nafas lelah dan menepuk pundak olea untuk menyadarkannya akan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
para murid tahun kedua dan tahun ketiga yang tidak mengetahui apapun lantas mengerutkan kening mereka saling tatap.
"apakah penyambutan murid baru mengalami perubahan"
"jangan pedulikan itu, sebaiknya kita selesaikan kerjaan kita terlebih dahulu toh... jika memang begitu pasti tim media akan menyampaikannya di bola sihir besok pagi"
"tapi ekspresi mereka seakan akan ketakutan"
"jika memang terjadi sesuatu pihak keamanan akademi akan menyampaikan tanda merah sebagai peringatan, berhentilah ikut campur" mereka melihat regombolan murid yang masih berlari saling tatap.
"tidak masalah bukan ingin mengetahui, dan kurasa itu hal wajar asalkan tidak berlebihan dan tau batasan" ia mengangkat kardus di tangannya dan berjalan mendahului sahabatnya itu.
"ya ya ya ya terserah kau lah, asal kau tau batasan, tidak memaksakan seseorang untuk memberitahukan apa yang kau ingin, dan kau bisa mengontrol omonganmu aku tidak masalah, aku hanya tidak ingin kau menjadi seperti salah satu tim itu yang dihukum lalu ditunda kelulusannya karna mereka tidak tau batasan" tertawa setelahnya tampa tau ada seseorang yang menggerakkan bibirnya menahan amarah,tangannya mengepal hingga mengeluarkan darab dengan hawa kebencian yang tidak tertahan sampai mampu membuat orang orang di sekitarnya menahan nafas.
ia berjalan rambut hitamnya terurai tangannya yang berdarah ia berjalan dan siapapun yang melihatnya lantas mengalihkan pandangan sekaligus diam membisu membuat langkah kakinya terdengar menggema di lorong, Ron yang baru saja menangkap beberapa orang yang membuat kekacauan sambil membersihkan noda merah di tangannya berpapasan dengannya lantang menghentikan langkah seseorang disebelahnya.
"Lena, tahun ketiga yang ditunda kelulusannya yang dulunya adalah komplotan dari mereka yang menyebabkan kekacauan di aula" membatu Lena semakin mengepalkan tangannya ia berusaha mengelak tapi Ron tau dari gelagatnya.
"percuma kau berbohong, aku sudah terlalu sering menemui kebohongan belakangan ini, jika sandiwaramu bahkan tidak sesempurna dirinya semua yang kau lakukan akan semakin percuma, aku hanya ingin meminta waktumu sebentar tuanku mungkin tertarik ingin bertemu denganmu" Lena melirik Ron dengan tatapan kosong dan smirik saat ide baru terlintas di pikirannya.
"katanya sifat seseorang itu tergantung dengan lingkungan yang berada disekitarnya, dan sekarang aku tau kenapa tuan seperti itu karna orang orang yang ia anggap bisa dimanfaatkan saja perlu ditanyakan kewarasannya" membatin Ron berjalan mendahului Lena sambil melirik sekekali kebelakang.
__ADS_1