
sekarang aku berada disebuah lingkaran sihir yang akan membawaku kesebuah benua para manusia setengah ikan hidup yang pasti itu berada di tengah tengah laut yang lebih parahnya lagi mungkin saja aku harus berada di bawah laut, membuatku frustasi apalagi aku yang sedikit trauma akibat aku yang mati tenggelam, aku tidak mengetahui alasanku begitu lemah bahkan sampai aku ketakutan dengan hal hal kecil.
sihir teleportasi aktif dan beberapa waktu kemudian kami berada di pinggir pantai dengan tiang tiang penjaga yang mengelilingi kami yang berukuruan sebesar lingkaran sihir malihat kesekitar tanganku sedikit gemetar tapi dengan cepat kusembunyikan dengan meremas tanganku kuat kuat sampai terasa mati rasa.
"tuan, Kita akan menuju istana kekaisaran okeanos kira kira membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai disana dengan kereta kuda apakah tuan ingin mengaktifkan kembali sihir teleportasi" Ron menanyakan pendapatku sambil melihat lihat sekitar.
"aku akan menunggang kuda" ucapku sambil berjalan menuju sebuah kereta kuda yang berada tidak jauh dari tempat ku berada merbicara sebentar dengan seseorang yang menjaga kuda itu setelah perbincangan singkat dia memisahkan kuda itu dari kereta kuda bersamaan denganku yang melepaskan vast sekaligus jasku yang hampir mencekikku manyisakan kemeja tampa basa basi aku menaikunya dan memacu kuda itu secepat yang dia bisa sedangkan Ron hanya menghala nafas cemas akan kelakuanku yang semakin di luar prediksinya.
aku melewati hutan memacu kuda dijalan yang setapak tiba tiba aku merasakan ada sesuatu yang membuatku langsung menghentikan kuda yang kutunggangi dan bertepatan dengan aku yang berhenti api muncul lalu menghalagi jalan yang akan kulewati api yang berwarna biru itu yang muncul secara tiba tiba.
menghala nafas panjang melihat kesekitar tidak merasakan kehadiran apapun.
"keluar" ucapanku dengan penuh penekana yang menandakan aku benar benar marah sekarang sesuatu tiba tiba melompat kearahku dengan reflek aku mengambil pedang pendak yang disediakan ron di saku celanaku lalu menebasnya tampa keraguan sedikitpun merasakan ada sedikit cairan berwarna merah yang kuyakini adalah darah aku dengan cepat mamacu kudaku kembali dengan pisau yang selalu ku pegang.
"hutan adalah medan perang paling berbahaya, apalagi dengan musuh yang sepertinya sudah mengetahui dengan jelas daerah hutan ini, ini jelas jelas merugikanku akan lebih baik jika dia adalah hewan peliharaanku tapi tidak mungkin karna dia masih kukurung di dalam sistem, lalu yang terakhir siapapun yang menggunakan api biru bukan lah lawan yang mampu kukalahkan" gumamku terus berusaha mengingat ingat apa yang tertulis di novel yang kumasuki tentang api biru tapi nihil aku tidak mengingat apapun karna novel itu hanya menceritakan kisah para peneran utama bahkan latar bekang ceritanya saja tidak jelas.
ding
[ misi khusus : melarikan diri dari ular bisa api
hadiah: umur diperpanjang
hukuman: kematian
batas waktu: 30 menit ]
aku menatap lamat lamat layar biru di depanku lalu kembali pokus mengemudikan kuda yang sedikit liar yang bahkan kadang kadang membuatku kesusahan untuk mengendalikannya.
"sistem ini apa gunanya bisanya hanya memeras dan muncul hanya untuk memberikan misi yang menyusahkan lebih baik aku tidak memilikinya bahkan tampa bantuan siapa pun aku masih mampu untuk bengkit sendiri" ucapku dengan cepat aku berbalik sebentar lalu memutar untuk mengetahui dengan jelas wilayah musuh.
kuda yang kutunggangI mulai melambat dan sesuai dugaanku ini tidak mudah ingin turun karna dia monster apapun dia jika ada kata ular disana berarti dia tidak jauh berbeda dengan ularkan kemungkinan besar menurut informasi dari kehidupan sebelumnya ular tidak takut dengan garam jadi mungkin saja untuk dia tinggal di daerah ini, sekarang aku berada di hutan liar yang jelas tidak terurus dan berpehuni lalu hutan jelas dipenuhi tumbuhan selain pohon semoga saja ada tumbuhan ataupun tanaman yang bisa ku menfaatkan.
__ADS_1
setidaknya ada serai,lidah mertua mungkin, bahan bahan dapur seperti bawang merah bawang putih, obat obatan andrographis paniculata yang sangat pahit, bunga marigold, bunga agapanthus merah muda yang memiliki bau menjengkelkan untuk ular, apapun itu yang tidak disukai ular tapi sepertinya itu tidak terlalu berefek pada monster itu tapI semoga saja cukup mampu untuk membuatku kabur dari hutan ini.
memang namanya hutan terlihat tenang dan indah sampai melupakan fakta bahwa dihutan banyak hewan buasnya, puas mengelilingi hutan dan tidak menemukan apapun aku merasakan bahaya yang sedang mengitariku.
"hewan tidak berotak dan aku yang sudah mengalami banyaknya cobaan pembunuhan benar benar serasi dalam segi saling membunuh"
aku memutar pedang pendekku turun dari kudah lalu menepuk pelan bokongnya yang menyebabkan dia lari padahal aku tidak memiliki niatan untuk membuatnya lari lalu setelah aku berhasil membuatnya legah apakah aku harus lari dengan kakiku yang sangat jelas akan tertangkap lalu dimakan hidup hidup.
tiba tiba api biru mengarah kepadaku dan tepat setelah itu aku melemparkan pedang pendekku tepat ke arah api itu berasal mengenai sesuatu aku ingin mengambil pedang pendekku kembali tapi diluar rencana aku berlari kembali ke arah dimana ada sihir teleportasi aku ingin meminta mantuan sistem tapi aku terlihat seperti orang bodoh jika melakukan itu karna aku sedang berada dalam misi jadi tidak mungkin kan sistem akan membantuku.
aku Baru saja membunuh anak dari monster yang kuhadapi tidak mungkin monster itu akan membiarkanku hidup setelah aku membunuh anaknya saat aku sedang berlari sebuah ekor menghalangi jalanku menelan saliva ku dengan susah payah menatap ke arah kiriku menemukan ular raksasa dengan banyak mata mentapku membuatku mau tau mau harus melakukan sesuatu untuk melarikan diri.
aku memadatkan manaku sampai bisa membuat rapier pedang asal prancis karna aku hanya mempelajari itu itupun hanya karna rasa penasaran sesaat yang mempu bertahan sampai satu bulan sebelum aku bosan dan tidak mempelajarinya lagi.
"aku memasuki sebuah novel dengan genre romansa fantasi bukan fantasi aksi jadi berikan aku alasan kenapa bisa ada monster dinovel ini" gumamku, aku hanya mampu mundur selangkah untuk membuatnya menyerahku terlebih dahulu karna dari segi fisik monster beberapa kali lebih kauat dariku yang hanya manusia asli.
dia ingin memakanku tapi mampu kutahan dengan pedang di tanganku walaupun terliahat lemah tapi manaku tidak terbatas yang mampu membuatku ungggul dalam pertempuran ini, aku tidak peduli dengan sistem dia ingin membunuhku maka aku juga akan membunuhnya untuk menghindari sesuatu yang buruk dikemudian hari.
dia ingin menyemburkan api dengan cepat aku memusatkan manaku di kedua kaki agar aku mempu berlari tapi diluar digaan dia membuatku terdorong kedepan dengan ekornya lalu dengan cepat dia menyemburkan apinya kearahku, aku ingin sekali menggunakan sihir tapi aku hanya mengatahui beberapa hal tentang sihir tapi tidak dengan mantra untuk membuat serangan aku lebih berfokus kepada penciptaan mana.
saat aku berada cukup jauh aku kembali memusatkan manaku ke kedua kakiku lalu melompat untuk menyerangnya tapi aku lupa bahwa dia memiliki banyak mata dan sudah mengetahui rencanaku tepat saat aku ingin menebasnya ekornya langsung memukulku yang membuatku langsung terjatuh dari ketinggian yang cukup membuat tulangku patah dan bunyi yang cukup nyaring tampa kuketahuI terdengar oleh penduduk desa yang paling dekat dengan tempatku berada membuat pemduduk desa ketakutan karenanya.
seteguk darah berhasil kumuntahkan, ku tatap darah yang menetes ini pertama kalinya aku mengalami muntah darah dan seekor monster yang menyebabkannya jika dia adalah seorang manusia aku akan dengan senang hati memakluminya tapi ini dengan binatang yang memiliki rupa sangat buruk dan tidak jelas hewan apa dia.
ku ambil rapier pedang pipih yang tidak berada jauh dari tempatku berada ku tancapkan pedang itu ditanah untuk membantuku berdiri lalu saat aku berdiri sempurna ku arahkan pedangku ke arahnya yang setinggi dua kali pohon cemara melihatnya merespon tindakanku itu menandakan penglihatannya baik baik saja.
aku benar benar ingin mengakhiri ini secepatnya karna tulang tulangku rasanya seakan akan remuk karna terjatuh dari ketinggian, aku melakukan hal yang sama meloncat ke arahnya dia juga melakukan hal yang sama tapI sebelum ekornya mengenaiku aku membuat dinding transparan yang membuat serangannya berefek balik kepadanya yang menghamtam dinding yang kubuat sampai menimbulkan bunyi yang memekakkan telingaku yang berada sangat dekat dengan tempat kejadian.
disaat itulah aku memiliki kesempatan untuk menyerangnya dengan cepat aku salurkan manaku kepada pedang di tanganku yang membuatku sedikit kesulitan untuk menyalurkan manaku Tampa menghancurkan padatan mana yang kubentuk menjadi pedang karna jika padatan mana yang berbentuk pedang itu menjadi mana kembali maka seranganku akan kehilangan sebagaian besar dampak serangan yang kuberikan.
aku menebasnya berharap mana dariku bisa sedikit memberikan dampak kepadanya tapi diluar prediksiku monster itu terbelah menjadi dua dengan tanah tanah dibelakangnya juga ikut terbelah yang membuat satu garis pencang yang cukup dalam dengan suara yang mampu terdengar sampaI istana kekaisaran okeanos berada.
__ADS_1
[ ***hukuman karna membunuh monster dengan tingkat kelangkaan paling tinggi di benua ini
tubuh anda akan melemah, mana anda akan terkuncI yang menyebabkan anda tidak bisa menggunakan mana untuk waktu yang belum di tentukan, poin akan dikurangi setengah dari poin yang ada ]
[ warning !!!
hukuman karna tidak menyelesaikan misi:
muntah darah sewaktu waktu, mata anda akan berwarna merah selama tiga hari kedepan, poin akan dikurangi setengah dari poin yang sudah ada, Luka yang anda terima tidak akan membaik ataupun sembuh dalam waktu yang sudah di tentukan ]
[anda tidak mati karna terbunuh oleh monster ular bisa api
selamat anda mendapatkan rewards, apakah anda ingin membuka rewards***??]
setelah membaca layar hologram yamg berubah menjadi warna merah di depanku aku terjatuh dan tersangkut disalah satu dahan pohon lalu dahan pohon itu patah karna tidak mampu menahan berat bedanku yang membuatku benar benar jatuh ketanah.
"apakah takdir mempermainkanku, seluruh poinku hampir habis tidak tersisa padahal aku menggunakan banyak koin untuk mengumpulkan mereka lalu apa lagi…tidak bisa munggunakan mana dalam waktu yamg bahkan tidak bisa di tentukan, ini lagi menjadi lemah dan luka yang didapatkan tidak akan sembuh apakah aku benar benar harus hidup dengan rasa sakut di tubuhku, mataku menjadi merah dan romor tentangku mataku berwarna biru sistem ini sepertinya sangat ingin melihat leherku terpenggal di alun alun kota" gumamku yang sambil menatap pohon hijau yang menghalangi sinar matahari.
"buka rewards"
[ ***selmat anda mendapatkan 2 poin ]
[selamat anda mendapatkan bisa monster yang anda bunuh ]
[selamat anda mendapatkan kesetiaan darI seluruh monster di daerah ini***]
aku terus menunggu tapi nihil tidak ada layar hologram yang kembali muncul suara rumput yang terinjak membuatku mengalihkan perhatian dan terlihatlah seekor kelinci dengan bulu putihna dengan mata yang menatapku iba.
"kesetiaan kau bilang aku tidak membutuhkan kesetiaan darI hewan yang sering dimangsa tapi maaf aku hanya menginginkan hewan pemangsa" batinku lalu tiba tiba suara langkah kuda menggema di telingaku yang membuatku langsung berdiri dan menunggang kuda yang kutunggangi beberapa waktu lalu sebelum aku harus berhadapan dengan monster itu.
tidak ada yang kulakukan aku hanya berbaring disana hanya untuk mengamankanku dari serangga serangga dihutan ataupun hewan buas tapi seperti memiliki fikiran kuda itu melaju kencang menuju istana kekaisaran sedangkan di arena pertempuran terlihat seorang laki laki yang memiliki rambut biru langit dengan mata senada Mencabut sebuah pedang pendek yang bertuliskan namaku disana.
__ADS_1
aneas agriche
"cukup hebat memiliki banyak mana dan mampu bertahan hidup dengan Luka yang tidak sedikit, kau oramg yang cocok untuk dijadikan tumbal monster laut" setelah orang itu pergi sambil membawa pedang ku yang tertancap disebuah pohon aku merasakan hawa dingin yang sampaI membuatku merinding.