
"yang mulia"ucap ariestha sopan
Demian tampak langsung berbalik setelah mendengar suara gadis itu dengan senyuman
"ariestha entah mengapa aku begitu merindukan mu"ucap Demian tanpa basa basi membuat locetot yang sedari tadi hanya memperhatikan langsung tersedak air liurnya sendiri
sedangkan ariestha hanya tersenyum kaku mendengar penuturan lelaki itu, baginya ucapan itu terlalu tiba-tiba hingga terdengar aneh
"Anda terlalu memuji yang mulia"ucap Ariestha kali ini dengan senyuman untuk membuat suasana mencair
"ayo berkeliling taman,ada banyak hal yang ingin Ku bicarakan padamu"ajak Demian langsung menarik tangan ariestha dengan lembut mengajaknya berjalan
ariestha hanya diam mengikuti nya tanpa kata saat ini pikiran nya malah tertuju pada Justin ia khawatir ada yang melihat lelaki itu di kamarnya, karena tadi ia bahkan tidak sempat menutup pintu
"ariestha?"panggil Demian
"eh, ada apa yang mulia,maaf ak-aku tidak mendengarkan"ucap ariestha gugup menatap Demian yang kini tengah memandang heran
"apa yang membuat mu terlihat begitu resah nona?"ucap Demian, membuat ariestha salah tingkah
"ti-tidak ada yang mulia,aku hanya sedikit gugup berdua saja seperti ini dengan mu"dusta ariestha tersenyum kaku
Demian terkejut mendengar perkataan ariestha, namun tidak di pungkiri lelaki itu begitu senang karena ia mengira gadis itu sudah mencintai nya
'rasanya perutku mual mengatakan hal yang begitu menjijikkan itu padanya'batin ariestha menatap senyuman kini terbit di bibit Demian
"ariestha kau?"ucap demian mengulurkan tangannya ke wajah gadis itu dengan senyuman manisnya
ariestha yang menerima perlakuan demikian hanya terdiam kaku antara terkejut dan bingung, namun mata gadis itu membola kala menyadari wajah Demian semakin dekat dengan nya
'haruskah ku pukul saja wajahnya?!'batin ariestha bergejolak
tangan lelaki itu kini semakin turun, dan sudah menyentuh bibir tipis milik ariestha membuat gadis itu ingin mematahkan tangan itu
"pangeran Demian?"ucap seseorang sehingga suasana tiba-tiba menjadi canggung
mereka berdua bersamaan menoleh ke sumber suara, tampaklah Teresa tengah menatap tajam mereka
__ADS_1
"ada apa Teresa, apakah kau sangat suka menggangu!"ucap demian terdengar kesal
sedangkan Teresa kini semakin mendekat kearah mereka tanpa menjawab perkataan Demian
"apakah statusku tidak cukup kuat untuk mengganggu mu?, aku calon permaisuri mu Demian!"ucap Teresa emosional
ariestha mendengar penuturan gadis cantik dihadapan nya itu sedikit terkejut namun hal itu tidak terlalu menggangu nya, entahlah ia bingung sendiri dengan hatinya apakah dia benar-benar mencintai atau hanya sekadar merasa tersanjung akan sikap manis lelaki itu, tapi apapun itu saat ini pikiran hanya tertuju pada Justin
"dan kau apakan kau tidak sadar akan status mu sendiri, cepat pergi,aku dan Demian ingin berbicara berdua!"langsung Teresa tatapannya mengintimidasi ariestha.
ariestha memutar bola mata malasnya menghela nafas panjang menahan kesal
"tidak perlu ariestha, jika kau ingin bicara, tinggal bicara saja di depannya!"ucap Demian menatap ariestha penuh kasih, menambah sakit untuk Teresa
ariestha bertambah muak berada di antara mereka berdua
"seperti nya benar apa yang putri ucapkan aku tidak lah pantas di antara kalian berdua, lebih baik aku pergi"ucap ariestha datar, namun di mata Demian gadis itu terlihat begitu memelas dan sedih sehingga ia begitu tidak tega
"tidak!, kau sangat pantas untuk ku ariestha, aku mohon jangan bicara seperti itu"ucap Demian mengangkat dagu ariestha lembut
'apa apaan ini!'batin ariestha rasanya ingin menggigit tangan itu
"baiklah"ucap demian pasrah
ariestha langsung beranjak pergi sedangkan Teresa tampak sedikit menampakan senyumnya melirik liyan pelayan nya, seperti intruksi sedangkan liyan tampak mengangguk sebagai tanda ia mengerti
.
.
.
"apa yang ingin kau bicarakan Teresa!"ucap Demian terdengar malas
teresa menghela nafas, mencoba menetralisir perasaan nya
"aku hanya ingin mengatakan jika aku tidak setuju kau mengangkat gadis itu menjadi selir mu!"ucap Teresa berjalan mendekati Demian dengan jumawa
__ADS_1
"dia tidak pantas menjadi selir mu yang mulia, aku yakin dia hanyalah seorang ****** yang sering menjual tubuhnya kepada banyak Lelaki"ucap Teresa kini memegang pergelangan tangan Demian dengan lembut
"aku sudah mengenalnya sebelum dia datang keistana ini, dan dia adalah seorang putri bangsawan, aku malah sedikit ragu dengan sikapmu ini putri"ucap Demian kini melirik Teresa dengan dingin , kemudian melepaskan tangan gadis itu darinya
"aku adalah calon istrimu yang mulia, aku tidak suka jika dirimu bahkan di dapatkan gadis lain sebelum kita menikah"ucap Teresa bersungut-sungut kesal
"sudah aku katakan sedari dulu aku tidak menyukai mu dan tidak akan pernah mencintai mu, seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih aku menerima perjodohan ini walaupun dengan terpaksa, putri!"ucap Demian menohok
Teresa tertunduk mendengar ucapan Demian , dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipi mulusnya , namun tetap saja hal itu tidak membuat Demian iba
"tapi aku tetap calon permaisuri mu!,jadi akan punya hak untuk mengusir gadis sialan itu!"ucap Teresa tegas mengangkat kepala sambil mengusap air matanya kasar
Demian langsung mencengkram dagu teresa kasar sehingga gadis bertubuh mungil itu meringis kesakitan
"kau ini gadis yang sangat lancang!"ucap demian memperkuat cengkraman nya
"kau memang tidak akan mengizinkan ku tapi ibu suri pasti akan mengikuti mau ku, jadi pada ujungnya kau hanya bisa diam!"ucap Teresa menatap tajam Demian percaya diri
"aggght!!"
Demian mendorong gadis itu hingga tersungkur ke tanah hingga baju Teresa terlihat kotor
"itu tidak akan terjadi jika kau tidak bisa bicara lagi tua putri!"ucap Demian tersenyum smirk menatap gadis itu
gadis itu lupa jika lelaki yang ia coba ia gertak itu adalah orang yang sangat kejam, dan tidak berperasaan terhadap siapapun
"ap-apa yang ingin kau lakukan!"ucap teresa dengan suara bergetar , membuat naluri membunuh Demian begejolak , rasa senang nya tidak dapat ia tutupi dengan lengkungan bibirnya terus terbit melihat ketakutan gadis itu
kemudian ia berjongkok menatap Teresa sambil memegang pipi gadis itu lembut,
"selamat tinggal putri "bisik Demian membuat Teresa membeku dengan jantung yang berdetak lebih kencang karena ketakutan melanda hatinya
"locetot!"ucap Demian
pengawal bayangan itu langsung datang di hadapan Demian seperti kilat
"ada perintah apa yang mulia"tanya locetot menatap Demian datar bergantian dengan Teresa
__ADS_1
"bawa gadis itu kehutan dan bunuh dia!"ucap Demian dengan senyum , kemudian dengan tenang meninggalkan mereka berdua
"Demian, ampuni aku Demian !"teriak Teresa dengan air mata menganak sungai menatap kepergian lelaki itu