
di sisi lain Justin sedang melintas di antara pepohonan hutan larangan karena merasa perasaannya tidak enak, apalagi setelah ia merasakan aura jahat terasa sangat kuat ketika ia masuk semakin dalam ke hutan
tidak dapat di pungkirinuya ia sangat khawatir saat Ariestha berkata akan ke hutan ini menemui Demian, walau ia telah melarang tapi akhirnya ia tidak bisa berbuat apa-apa karena gadis itu memaksa, sekarang entah apa yang terjadi tetapi ia harap ini tidak ada hubungannya dengan gadis itu
"ku harap kau baik-baik saja"gumangnya sambil terus masuk ke hutan
namun kekhawatiran nya bertambah kian besar saat melihat Ariestha tampak menjerit kesakitan di kepung aura yang sangat kuat di tengah hutan
Lelaki itu berusaha menerobos dinding pembatas yang tercipta oleh tekanan energi dan aura pedang darah, tentu ia tidak mampu menembus nya , namun ia tidak putus asa ia terus mengeluarkan energi nya untuk menembus dinding itu walaupun hasilnya nihil
"sial, energi ini terlalu kuat!"gumang kesal
"aku harus bagaimana Ariestha, kau benar-benar bodoh kenapa kau bisa terjebak di situ sial!!! agghh..."lanjutnya kebingungan
ia tidak tega melihat penderitaan gadis itu hingga tanpa sadar ia menangis, ia kira ia akan kehilangan gadis menyebalkan itu hingga ia terlibat benar-benar kacau sambil terus berusaha namun tetap saja ia tidak mampu dan terpental jauh
tidak lama setelah itu Ariestha terjatuh tak sadarkan diri membuat lelaki itu bertambah limbung dan meruntuki ke lemahannya, namun walaupun sedikit terlambat tetapi ia juga menyadari bahwa pembatas yang sedari tadi menghalangi nya telah hilang
"Ariestha!!,"teriak Justin berlari tidak sabaran
dengan cepat ia menghampiri gadis itu, ia mencoba menyentuh nya tapi ia langsung di kaget kan oleh energi yang telah mengelilingi gadis itu hingga ia langsung mengurung kan niatnya
ia melihat pedang itu masih saja melekat di tangan gadis itu ia menyadari tampaknya benda itu tidak akan berhenti sebelum dahaga nya lenyap
"tidak ada pilihan lain"ujar Justin kemudian menggores tangannya cukup dalam kemudian meneteskan darahnya ke pedang tersebut
__ADS_1
dan benar saja pedang tersebut telah terlepas sedikit demi sedikit dari tangan Ariestha , dengan cepat Justin juga mengeluarkan tenaga dalam nya untuk memulihkan keadaan Ariestha, Justin terus melakukan hal tersebut berulang hingga tenaga nya habis terkuras
"Justin!"ucap gadis itu langsung bangkit saat melihat lelaki itu tampak begitu pucat
"apa yang kau lakukan, hentikan lah aku sudah sadar!"ucap Ariestha khawatir memegang kedua pundak Justin kencang membuat lelaki itu meringis
"iya baiklah-baiklah ,wajahmu sangat jelek jika seperti ini"ujar Justin terkekeh membuat gadis itu meradang
"bisa-bisa nya kau tertawa, lihatlah kau sampai kehabisan tenaga!"ucap Ariestha geram hingga mendorong tubuh lelaki itu kesal
"tidak apa-apa, yang penting kau baik-baik saja itu sudah cukup"ucap Justin tersenyum penuh arti sedangkan gadis yang mendengar nya diam-diam terenyuh kemudian menghela nafas panjang
dan Ariestha langsung berhamburan memeluk Justin dengan eratnya, dengan perasaan campur aduk antara sedih dan senang
"terimakasih sudah menyelamatkan ku"ujarnya menepuk-nepuk punggung Justin pelan
"kau benar-benar membuat ku hampir gila karena kehilanganmu Ariestha"gumangnya membalas pelukan gadis itu dengan lembut
Deg!
'apa-apaan ini kenapa jantungku berdebar apa aku sudah mulai men...tidak, tidak mungkin hal itu adalah hal yang mustahil!'batin Ariestha kemudian melepaskan pelukannya dengan pelahan Karena perasaan nya tiba-tiba menjadi tidak nyaman
gadis itu kemudian melirik pedang indah yang tampak tergeletak di dekat nya , kemudian mengambil nya dengan cepat hingga membuat lelaki itu histeris
"Ariestha apa yang kau lakukan!"teriak Justin menggema, ia takut hal buruk serupa akan terjadi pada gadis itu, namun tampaknya kekhawatiran nya tidak benar-benar terjadi seperti tadi
__ADS_1
"apa?,aku hanya ingin melihat nya sebelum aku menghancurkannya!"ucap Ariestha datar sambil membolak-balik kan pedang itu dengan santai
"aneh kenapa pedang itu tidak bereaksi seperti tadi,apa jangan-jangan kekuatan nya sudah lenyap"lanjutnya membuat Justin bertambah geram
"kau ini selalu saja bertindak sesuka hatimu, aku tidak mau tau lagi jika kau dalam bahaya lagi karena ini!"ucap Justin kemudian berdiri menatap Ariestha kesal, berharap gadis itu mau mengerti ketakutan nya
"Justin jangan berlebihan aku tidak apa-apa tenanglah"ujar Ariestha berusaha menyakinkan namun lelaki itu masih saja marah
kemudian lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Ariestha sendiri, hingga membuat gadis itu tercengang,
"kenapa dia begitu marah, aku tau di khawatir tapi tidak seharusnya ia bersikap begitu, Hem tapi tidak bisa ku pungkiri dia memang selalu ada untuk ku walaupun ia sedikit menyebalkan, biarkan dia tenang terlebih Dulu "gumang gadis tersenyum tipis sambil menatap nanar kepergian Justin
.
.
.
locetot membuka pintu gudang dengan tidak sabaran di ikuti Yuka dan Irena , lelaki itu tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya saat ini
ia langsung masuk begitu pintu terbuka dan menghampiri Teresa yang tampak bersandar sambil menutup mata itu
"terasa bangun, Teresa!"ucap locetot menepuk-nepuk pipi gadis itu
kerena tidak mendapatkan respon lelaki itu langsung menggendong tubuh mungil itu dengan khawatir menuju kamarnya, kemudian memerintahkan Irena dan yuka memanggil dokter ,
__ADS_1
"maafkan aku, cepatlah sadar"ujar locetot memperhatikan wajah terasa dengan lekat
rasa bersalah kini telah hinggap di hatinya , ia tidak bisa membayangkan seorang putri harus merasakan pengap dan gelap nya gudang hingga membuat emosi nya meradang kepada Lona