
para rombongan yang di pimpin pangeran Demian terlihat sudah hampir sampai di perbatasan, namun tiba-tiba ribuan anak panah menghujam ke arah mereka hingga sebagian dari para prajurit terkena karena tidak bisa menghindar
"sial panah ini beracun!"ucap Demian saat membantu mencabut anak panah dari salah satu prajurit nya
karena hal itu Demian mau tidak mau harus kehilangan prajurit nya dalam jumlah yang cukup banyak,
"bangsa hun benar-benar licik"ucap jenderal song kini sudah berdiri di samping Demian menyaksikan ratusan prajurit nya terkapar tidak bernyawa
"ayo kita lanjutkan perjalanan, dan Habisi mereka!"ucap Demian marah
"baik yang mulai!"ucap jendral langsung memberikan perintah pada semua prajurit untuk segera bersiap melanjutkan perjalanan
sekitar satu jam mereka berjalan akhirnya mereka sampai di perbatasan, dan melihat keadaan desa dan penduduk yang sebagian besar wanita dan anak-anak yang terlihat mengenaskan
"to-tolong kami"ucap wanita tua yang tampak sangat memprihatikan kerena tubuhnya yang penuh dengan luka cambukan
pangeran Demian tidak kuasa melihatnya kemudian berlalu meninggalkan mereka dan memerintah para tabib Untuk mengobati luka dan para prajurit memberikan makanan untuk mereka
"selalu begini jika kita berperang wanita dan anak-anak yang akan paling menderita tidak hanya kehilangan keluarga dan suami tapi juga kehormatan mereka" ujar jendral song membuat Demian menoleh
"ya, maka dari itu perang ini harus secepatnya di akhiri!"ucap Demian serius
"pasukan bangsa hun ada di sebelah timur , mereka tampak telah mempersiapkan armada yang cukup besar untuk menyambut kita" lanjut Jendra song menatap sebuah peta yang menunjukkan titik-titik di mana musuh berjaga
"tengah hari nanti kita serbu pasukan bangsa hun!"ucap Demian kemudian mengambil pedang kesayangan menatap dengan mantap kedepan
di sisi lain justin tengah berada di dalam tenda bersama penasehat kerajaan bangsa hun,
"yang mulai saya mohon kembali lah dan pimpin peperangan kali ini"ujar penasehat itu
"sudah ku bilang aku tidak ingin terlibat lagi dengan urusan kerajaan "ucap Justin berbicara tanpa melepaskan topengnya
ia sangat tidak suka dengan sikap dari ayahnya yang sangat ingan menaklukkan kerajaan fenexzela , karena ia tidak ingin mengorbankan begitu banyak nyawa hanya untuk ambisi yang tidak berujung
__ADS_1
ia berbalik hendak meningkatkan tenda tersebut namun langkah nya terhenti karena melihat sosok ayahnya memasuki tempat itu
"sudah ku duga kau tidak akan mau membantu ku"ucap raja bangsa hun itu dengan wajah datar memperlihatkan wajah Justin meski kini tengah tertutup topeng
"Anda sudah tau apa alasannya bukan, jadi tolong jangan salahkan aku"ujar Justin tak kalah dingin nya
sang raja menghela nafas panjang kemudian memperhatikan sekeliling dengan nanar
"mau sampai kapan kau seperti ini Justin, kau satu-satunya putra ku harus bagaimana aku memberi tahu bahwa kau adalah satu-satunya pewaris ku yang akan meneruskan tahta, belajar lah untuk menjadi kuat seperti ku agar nanti kau tidak akan di ragukan siapa pun!"ucap raja dengan wajah prustrasi sedang Justin masih diam memikirkan setiap ucapan sang ayah
bangsa hun adalah bangsa yang paling setia karena mereka hanya boleh menikahi satu wanita di dalam hidupnya, termasuk walaupun ia seorang raja,karena itu lah para lelaki yang masih lajang di haruskan memakai topeng untuk menutupi wajahnya dari dunia luar sampai ia menemukan jodoh yang cocok untuk dirinya
"maaf ayah"ujar Justin kemudian meninggalkan tenda tersebut tanpa menoleh lagi, ia tau persis apa yang akan selanjutnya ayahnya katakan, karena ia sudah sangat hapal akan hal tersebut
di pikiran Justin kali ini hanya lah Ariestha yang ia tinggalkan di tengah hutan sendiri tadi pagi, hingga membuat nya bergegas mencari nya , walaupun ia masih marah setidaknya ia ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja
namun ia tidak menemukan gadis itu di manapun hingga membuat rasa bersalah tibtiba-tiba menjalar di hati nya
namun tiba-tiba pasukan bayangkan milik ayahnya datang secara tiba-tiba hingga membuat lelaki itu terkejut
"apa yang kau lakukan di sini!"ucap Justin tak suka
"maaf putra mahkota, ada masalah mendesak oleh karena itu mau tidak mau anda harus ikut bersama ku"ucap salah satu dari mereka menginfluinsi
"aku tidak akan ikut sebelum kalian katakan apa masalah tersebut"ucap Justin keras kepala hingga membuat para prajurit itu menghela nafas
"yang mulai raja terluka cukup parah saat melawan Jendra song, dan ia memerintahkan kami untuk menemui anda"jelas mereka langsung membuat Justin terkejut dan pergi menemui sang ayah
.
.
.
__ADS_1
ariestha menatap para rombongan prajurit yang kini tampak saling bertarung dengan dingin, kemudian menghunus pedangnya dengan cepat membuat para prajurit dari salah satu kubu sebagian besar tewas , ia tampak tersenyum puas kembali bersiap melakukan serangan kembali
demian yang tengah memperhatikan jalannya perang dari kejauhan terkejut dengan kedatangan gadis yang ia kira sudah mati tersebut
"ariestha? "gumangnya heran
kemudian tanpa berfikir panjang ia menaiki kuda dan menghampiri gadis yang kini sedang fokus bertarung tersebut
ketika sudah dekat bukannya melambat lelaki itu malah mempercepat lari kudanya dan menarik ariestha naik ke atas kuda itu hingga membuat ariestha terkejut bukan main
"apa yang kau lakukan! "ucap ariestha tampak tak senang
"seharusnya aku yang berkata demi kian, kenapa kau bisa ada di Sini? "ucap demian menghentikan laju kuda nya
begitu kuda berhenti gadis itu langsung melompat turun menjaga jarak
"hanya sedang lewat! "ucap ariestha sekenanya, namun demian merasa bahwa gadis itu sedang berbohong untuk menutupi perasaan nya saja
"ariestha? "ujar demian lembut Mencoba menggenggam tangan gadis itu namun dengan cepat gadis itu tepis
"ada apa dengan mu, apakah sudah lupa ingatan tentang bagaimana sikapmu padaku waktu itu! "ucap ariestha sinis demian terlihat menghela nafas melihat kemarahan ariestha
"maafkan aku, aku tau aku bersalah padamu hingga membuat mu tidak Bisa melupakan rasa sakit itu, tapi aku percaya perasaanmu masih ada hingga kau berada di sini untukku"ucap demian membuat ariestha menoleh memperhatikan mata berkaca-kaca lelaki itu
"aku terpaksa berada di sini"ucap ariestha dingin
"aku tidak peduli, yang aku tau kamu sudah di samping ku"ujar demian membuat hati ariestha meradang
'sial, kenapa misi ini harus berhubungan erat dengan nya'batin ariestha emosi
'bersabar lah nona, ini hanya sebentar setelah anda menyelesaikan misi anda bisa bebas melakukan apapun'ucap plapu mencoba menenangkan nonanya yang hampir hilang kesabaran
'termasuk membunuhnya'batin ariestha lagi membuat plapu malas kemudian menghilang
__ADS_1