
justin memperhatikan luka yang ada di dada sang ayah dengan iba, kemudian duduk di samping kelaki paru baya tersebut
"kau kembali justin? "ucap raja sesaat setelah ia baru membuka mata
justin hanya diam tanpa berniat menanggapi ayahnya itu, inilah yang paling ia takuti dari peperangan melihat orang yang ia sayangi terluka bahkan lebih buruk lagi
"di mana jendral kaloga! "ucap justin menoleh memperhatikan pasukan bayangan yang saat ini sedang bersimpuh di tanah
"dia sedang di rawat di tenda yang lain yang mulia, ia juga menderita luka yang cukup parah di bahu sebelah kanan"jelas salah satu dari mereka
justin langsung berdiri kemudian berjalan meninggalkan mereka menuju tenda jendral kerajaan hun tersebut
"bagus kau telah berhasil membuat raja terluka parah jendral"ucap seseorang membuat langkah justin terhenti untuk melangkah masuk
"diamlah, kalau ada yang mendengar kau pikir itu tidak akan membuat orang salah paham"ucap jendral kaloga was was
"iya aku tau, tapi ini semua kita lakukan agar pangeran mau kembali ke kerajaan aku sangat prihatin pada raja, ia selalu membicarakan anak nya itu setiap hari "ucap seseorang yang ternyata adalah penasehat raja
justin yang mendengar hal tersebut tersulut emosi dan langsung memasuki tenda itu
"berani sekali kalian bersekongkol menyakitkan raja!"teriak justin mencabut pedangnya
mereka berdua langsung berlutut meminta ampun
"ampunilah kami yang mulia"ucap penasehat raja dengan suara bergetar
"kami melakukan hal ini juga agar anda dan yang mulia raja bisa berkumpul lagi seperti dulu, hamba yang mempunyai ide seperti itu tolong bunuh saya saja, karena jendral kaloga harus memimpin perang esok hari"ucap penasehat melanjutkan kata-kata nya kemudian mengangkat wajahnya menatap justin mengiba
justin mengepalkan tangannya kemudian mengibaskan pedangnya dengan emosi kearah penasehat, membuat lelaki paru baya tersebut memejamkan mata
namun lelaki paru baya tersebut terkejut membuka matanya karena pedang tersebut hanya menempel di leher nya saja
"yang mulia"ucap penasehat gemetar
"mulai saat ini kau tidak di perkenankan menemui raja, setelah ia sembuh aku akan mendiskusikan agar kau di cabut dari jabatanmu, dan kau jendral setelah perang selesai kau akan ku utus ke daerah pelosok untuk menebus kesalahan mu, maka tetaplah hidup! "ujar justin geram
justin menarik pedangnya kemudian menyimpannya, dengan dengusan kesal ia kemudian pergi meninggalkan tempat itu
justin tak mungkin berani membunuh penasehat karena lelaki setengah tua itu sudah ia anggap seperti ayah keduanya sedari kecil,
__ADS_1
"maafkan hamba yang mulia,"lirih penasehat sedih
.
.
.
"lapor yang mulia, putra mahkota kejaan hun yang lama tidak terdengar kabarnya itu terlihat mendatangi tenda raja"ujar salah satu utusan yang terus mengintai lawan
demian yang tengah berlatih berhenti kemudian menatap lelaki berjubah hitam itu
"apa kau yakin dia putra mahkota "tanya demian penuh selidik
"yakin yang mulia, karena walaupun selalu memakai topeng tetapi jenis topeng dan pakaian khas kerajaan hun tidak bisa di sembunyikan apa lagi pasukan bayangan selalu ada di dekat lelaki itu "jelas lelaki itu penuh keyakinan
demian tampak berpikir di detik kemudian iya mempersilahkan utusan rahasia itu untuk segera pergi
sedangkan ariestha yang sedari tadi menyimak tiba-tiba pikirannya tertuju pada justin setelah mendengar penjelasan utusan itu
'justin selalu memakai tolong dan pakaiannya selalu terlihat mewah apakah dia bangsa hun'batin ariestha mulai bimbang
"em,aku hanya sedikit penasaran kenapa bangsa hun yang masih lajang selalu memakai topeng,bukankah itu aneh"ujar ariestha mengalihkan keraguan demian
"dari cerita yang beredar mereka hanya boleh menikah satu pasangan di hidupnya, oleh karena itu mereka harus menutup wajah mereka agar tidak ada yang berani atau membayangkan mereka sebelum mereka sendiri yang memutuskan untuk membuka topeng untuk orang yang benar-benar mereka pilih, tapi menurut ku itu aneh"jelas demian di akhiri dengan cemoohan
"benarkah, astaga mereka sangat setia"ujar ariestha tanpa sadar tersenyum puas
demian yang menyadari ke tertarikan ariestha pada bangsa hun seketika kesal
"ingat mereka lawan!"ucap demian langsung menekankan
ariestha hanya mencebik tidak mempedulikan kemarahan lelaki itu
"aku yang putuskan sendiri mereka lawan atau bukan"ucap gadis itu malas
"apa maksudmu, kau tak benar-benar ingin membantu ku di sini"ucap sekian kesal setengah mati
"sudah ku katakan aku terpaksa berada di sini"ucap ariestha kemudian meninggalkan demian
__ADS_1
"wanita itu, selalu saja!"geram demian memperhatikan punggung ariestha yang mulai menghilang di antara pepohonan
ariestha pergi ke sungai untuk menyendiri sambil memperhatikan air yang tampak bening, ia memikir kan perkataan pengintai tadi
saat sedang membayangkan justin tiba-tiba datang pasukan berpakaian serba hitam menyerangnya hingga gadis itu tidak sempat mengelak dan Terluka di pergelangan tangannya
"sttt.. sial siapa kalian! "ucap Ariestha kesal
"kami pasukan bangsa hun,anggap saja kau sedang bermimpi bertemu dengan kami! "ucap salah satu dari mereka kemudian kembali menyerang dengan brutal di ikuti dengan yang lain
ariestha langsung mencabut pedangnya dan mulai bertarung dengan rombongan itu, namun pasukan bangsa hun itu tiba-tiba mundur setelah merasakan aura dari pedang darah
"ayo kita pergi, pedang itu akan menyerap energi kita jika kita terus memaksa"ujar salah satu dari mereka, sejurus kemudian mereka semua menghilang seperti angin membuat ariestha melongo
'kecepatan itu, sangat mirip dengan justin'batinnya bergejolak
'gawat nona, pedang yang melukai nona tadi memiliki bisa, anda harus segera mencari obat nya "ucap plapu tiba-tiba muncul
"kau sangat menyebalkan plapu, kenapa kau tidak memperingatkan ku tadi! "ucap ariestha kesal
namun tiba-tiba rasa sakit di tangannya itu menjalar ke seluruh tubuh nya membuat gadis itu meringis
'di depan sana, aku melihat tumbuhan obat yang bisa menerkan rasa sakit itu nona'ucap plapu membuat ariestha meradang
"apakah kau tidak ada sesuatu untuk mengobati ku sistem busuk!!"ucap ariestha emosi sambil meringis
'aku bisa menyelamatkan nyawa nona jika nanti terancam, tapi anda harus menebusnya dengan mencari obat dewa yang langka"ucap plapu santai
ariestha tak mempedulikan sistem itu lagi dan memilih berjalan dengan tertatih ke ara yang di tujukan tadi
"dimana tumbuhan yang kau maksud itu plapu, kau tidak sedang membodohiku kan!! "ucap ariestha memperhatikan tangannya yang terlihat membiru karena racun
"tumbuhan itu tepat di hadapan kita nona "ucap plapu menunjuk kearah tumbuhan hijau yang tampak subuh sekitar sepuluhan meter dari mereka
gadis ini dengan meringis langsung menghampiri tumbuhan itu
akkkggh!!
"nona!"
__ADS_1