
ariestha dengan langkah terburu menuju kamarnya memastikan keadaan Justin, namun ia tidak menemukan keberadaan lelaki itu
"sial di mana dia!"umpat ariestha berkacak pinggang kesal
akhirnya ia memutuskan untuk mencari lelaki itu ia begitu khawatir karena luka nya belum kering dan bisa saja lukanya kembali terbuka memikirkan nya saja membuat perasaan ariestha tidak karuan
namun karena begitu kebingungan mencari Justin ia tidak menyadari kalau dia sedang di buntuti oleh pelayan Teresa, Liyan
dengan mengendap-endap pelayan itu mencoba mendekati tubuh ariestha dengan membawa sebilah pisau mengkilap
"nona"panggil pelayan itu saat mereka berada di tempat yang sepi , ariestha menoleh menatap pelayan itu dengan alis bertaut
"apa yang kau lakukan"tanya ariestha heran sedangkan liyan tampak sedang tersenyum smirk
"aku akan membuat mu merasakan akibat karena telah berani menggoda pangeran Demian, milik putri Teresa!"ucap liyan mendekati ariestha dengan menodongkan pisau itu ke arah ariestha dengan sembarang
"oh kau ingin bermain dengan ku ya"ujar ariestha santai tersenyum tipis
"tutup mulutmu!"teriak liyan mengarahkan pisau itu ke wajah Ariestha berniat menggoresnya
namun dengan sigap ariestha menahan pergelangan tangan Liyan dan merebut pisau itu dengan kasar
"jangan salahkan aku jika pada akhirnya nyawamu lah yang akan hilang! "ucap ariestha dingin
"ap-apa!"ucap liyan terbata Mundur beberapa langkah
ariestha mengarahkan pisau itu ke leher liyan sambil tersenyum licik
.
.
.
"agggth! tolong!"
Teresa berteriak kencang saat locetot menggendongnya melompat-lompat di antara pepohonan rindang di tengah hutan
"diamlah!"ucap locetot dingin menatap teresa yang terus saja memejamkan matanya karena ketakutan
setelah telah berada di tengah hutan locetot berhenti dan bersiap menjalankan perintah Demian , sedangkan Teresa gemetar ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi padanya beberapa detik kemudian
"tolong jangan bunuh aku?"ucap Teresa memelas merangkak memegang kaki locetot
"aku tidak bisa mengabaikan perintah!"ucap locetot sambil menarik pedangnya
__ADS_1
Teresa menangis melihat pedang mengkilap di hadapan nya itu
"tenang saja ini akan sangat cepat, bahkan kau tidak akan merasakan apapun!"lanjut locetot menatap datar gadis itu
"tolong aku mohon jangan lakukan itu,apa salahku aku hanya mencintai seseorang terlalu dalam ,apakah itu salah di matamu,aku mohon jangan bunuh aku"melas terasa menatap manik locetot sambil menangis
locetot menghela nafas panjang, baru kali ini ia merasa bimbang dengan perintah Demian
"tapi bagi tuanku kau salah!"ucap locetot membalas tatapan Teresa tajam
"aku mohon jangan, aku bersumpah akan menjadi pelayanmu seumur hidup ku jika kau ampuni nyawaku"ucap Teresa ia tidak perduli apapun lagi sekarang, ia sangat takut akan mati
locetot terlihat terkejut mendengar ucapan Teresa, tetapi ia merasa tertarik mendengar hal yang di janjikan putri itu padanya
"apa kau tau maksud dari sumpahmu itu tuan putri?"tanya locetot datar berjongkok menatap wajah Teresa dalam
"iy-iya aku janji ,ah tidak aku bersumpah akan setia kepada mu seumur hidupku tuan ku"ucap Teresa gemetar menatap dalam mata locetot penuh harap
locetot menghela nafas kemudian berdiri membelakangi gadis itu,
"baiklah, tapi kau tidak boleh kembali ke istana mu"ucap locetot melirik Teresa yang membeku di belakangnya
"ta-tapi aku akan merindukan ayahanda dan ibundaku,tu-tuan bagaimana ini"ucap Teresa kini menangis sesenggukan
"itu adalah pilihan nya mati atau tidak akan bisa kembali ke istana mu selamanya"ucap locetot datar
"aku tidak mungkin membiarkan mu kembali, karena tuanku Demian akan mengetahui jika aku mengabaikan perintah nya, dan aku pasti akan mati"ucap locetot lembut membuat Teresa mengangkat kepalanya hingga pandangan mereka langsung bersirobok
"ak-aku mengerti kau pasti kesulitan karena menerima permintaan ku"ucap Teresa menghapus air matanya mencoba tersenyum walaupun perasaannya campur aduk
"jangan memaksakan tersenyum jika kau tidak bahagia"ucap locetot menghapus sisa air mata yang ada di pipi Teresa
gadis itu hanya diam memperhatikan wajah lelaki yang kini telah menjadi tuannya itu
'kenapa nasibku begini'batin Teresa sedih menahan sesak di dadanya
"ayo"ucap locetot mengulurkan tangan kepada Teresa
gadis itu hanya diam mengulurkan tangannya tanpa bicara ataupun berekspresi perasaan nya benar-benar hancur ,ia tidak percaya bahwa cinta nya yang terlalu besar pada Demian akan membawa nasib nya seperti ini
"ahhhh!"teresa berteriak
karena locetot langsung menggendong dan mengajaknya kembali melintasi pepohonan di dalam hutan tersebut
"kita mau kemana tuan"ucap teresa dengan memejamkan matanya gadis itu memang takut ketinggian
__ADS_1
locetot hanya diam tetapi matanya diam-diam melirik wajah gadis itu, tanpa sadar ia sedikit menarik bibirnya
"rumah"jawabnya singkat, terasa pun tidak berani bertanya lagi karena dia tidak ingin membuat locetot terganggu
setelah cukup lama akhirnya locetot berhenti dan menurunkan gadis itu di depan sebuah vila besar di pinggir hutan
"ini rumah mu"ucap Teresa refleks sambil menatap bangunan itu
"iya, masuklah"jawab locetot menarik tangan Teresa memasuki vila itu
di depan gerbang terlihat beberapa penjaga menyambut kedatangan mereka dengan sopan
"kenapa hanya diam saja, ayo jalan"ucap locetot ketika melihat Teresa terdiam di sampingnya
Teresa menatap locetot dengan mata berkaca-kaca, membuat locetot lagi-lagi menghela nafas
'ada apa dengan gadis ini'batinnya
"apakah keputusan ku ini benar"gumang locetot namun tidak di dengar oleh Teresa
semua pelayan di dalam vila tersebut menyambut mereka dengan hangat membuat Teresa merasa sedikit tenang namun nyali gadis itu langsung hilang saat melihat kedua sosok yang tengah duduk menikmati teh di hadapannya saat ini tiba-tiba menatap dirinya dengan datar
"ayah, ibu kenapa kalian ada di vila ku"ucap locetot datar membuat wanita paru baya di hadapannya itu berkacak pinggang
"apa maksud mu locetot, jadi maksud mu ibu tidak boleh ke tempat mu!"ucap ibu locatot melotot kearah nya
"aku tidak pernah bilang begitu , bukankah kalian malas bertemu dengan anak kalian ini"ucap locetot sambil menduduki salah satu kursi di dekat mereka
sedangkan teresa hanya diam masih terus berdiri membuat locetot langsung menarik tangan nya agar gadis itu segera duduk
"tentu saja aku sangat malas bertemu dengan lelaki dingin dan cuek seperti mu, mana ada seorang gadis pun yang akan tertarik kalau kau terus begini, ibu ingin cucu locetot!"ucap ibu locetot bersungut-sungut
Teresa melirik locetot yang tampak hanya diam saja seperti tidak peduli di sampingnya itu,
'apakah lelaki ini separah itu'batin teresa
"eh tunggu-tunggu, aku sampai tidak menyadari kalau ada seorang gadis bersama locetot pulang, ayah coba lihat gadis ini sangat cantik dan sopan , locetot apakah dia kekasih mu?"ucap ibu locetot antusias
sedangkan locetot masih diam sambil melirik Teresa , sedangkan Teresa hanya tersenyum kikuk menatap kedua orang tua locetot
"bukan,tolong jangan buat dia tidak nyaman"ucap locetot datar membuat wanita paru baya itu lesu seketika
"aih..benar juga mana ada seorang gadis akan menyukai mu "ucap ibu locetot pasrah
melihat hal itu Teresa merasa tidak tega dan kasihan, ia juga tidak mau jika locetot terus-menerus di anggap tidak laku, entah setan apa yang saat ini merasuki diri nya
__ADS_1
"ibu sebenarnya kami memang sedang menjalin hubungan, tapi kami baru tahap pengenalan , makanya locetot belum berani mengakui nya" ucap Teresa , membuat semua orang di tempat itu terkejut
'apa yang ada di fikiran gadis ini sebenarnya'batin locetot