
Demian juga langsung bangkit menyamakan posisi pada ariestha dengan senyum merekah
"aku merindukan mu nona"bisik Demian Tiba-tiba hingga membuat gadis itu merinding dan langsung memegangi telinga nya sambil melotot
"ka-kau!"ariestha langsung mundur beberapa langkah dengan wajah yang tidak bisa di definisikan
Demian tidak peduli dengan sikap abnormal ariestha itu dan langsung menarik tubuh gadis itu kepelukan nya merasakan hangatnya sensasi saat mereka bersama
"apakah anda ingin membunuhku yang mulia!"ucap ariestha , membuat Demian Heran
"aku tidak akan pernah menyakiti mu nona apalagi akan membunuhmu, itu mustahil!"ucap Demian penuh keyakinan
"dengan anda memelukku seperti ini, jika ada yang melihat maka akan sangat berisiko untuk ku yang mulia"ucap Ariesta dengan nada datar,
seketika demian langsung melepaskan pelukannya dan membuat jarak dengan ariestha
"apakah kau percaya aku bisa langsung menjadi kan mu permaisuri ku jika kau terus ketakutan seperti ini nona"ucap Demian sontak membuat locetot yang sedari tadi memalingkan wajahnya itu menoleh
'yang mulia tampaknya sangat menyukai nona, aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikap nya sekarang ini, benar-benar tidak sabaran'batin locetot
"ap-apa maksud mu, aku tidak mau!"ucap Ariesta langsung bersingut mundur
"jangan menolak ku nona, aku tidak suka dengan penolakan!"ucap Demian terdengar seperti ancaman bagi gadis itu
"aku juga tidak suka di paksa!"ucap ariestha tegas, membuat Demian mengepalkan tangannya
tanpa berbicara lagi lelaki itu langsung pergi meninggalkan Ariesta dengan amarah, sangat berbeda dengan sifatnya yang sebelumnya yang pasti akan membunuh siapa saja yang berani menyinggung nya
perasaan nya pada Ariesta secara tidak langsung langsung mengubah sifanya yang arogan itu
locetot yang masih mematung memperhatikan tuan nya itu, sebenarnya ia merasa kasihan dengan kisah cinta mereka berdua yang seperti tidak akan pernah bisa menyatu
sedang ariestha memilih untuk berkeliling taman, entah lah perasaan nya menjadi resah setelah melihat kemarahan Demian
"tampak nya nona sedang di Landa kesedihan"ucap seseorang membuat gadis itu langsung menoleh ke sumber suara
gadis itu langsung mengernyit saat melihat lelaki bertopeng itu kembali muncul di hadapan nya tepatnya di atas pohon yang saat ini ada di dekatnya
"apakah kau kera!, setiap muncul pasti di atas pohon!"ucap Ariesta ketus melewati Lelaki itu yang tampak mencebik tidak peduli
lelaki itu langsung turun dan berjalan bersama ariestha
"suasana hati mu sangat buruk Tampaknya"ucap lelaki itu kemudian tertawa renyah, membuat ariestha langsung menatap nya dengan tajam
bukannya berhenti tertawa lelaki itu malah tambah tergelak melihat reaksi gadis di sampingnya itu
__ADS_1
"bisakah kau menghentikan tawa bodohmu itu!" ucap Ariesta dengan tatapan mengerikan seakan mau menguliti
"ayolah nona, kau ini sangat pemarah, untung saja aku ini sangat lah sabar menghadapi mu"ucap lelaki itu masih dengan senyum menghiasi wajahnya walaupun tertutup oleh topeng
Ariesta menghela nafas panjang tidak ingin marah dan emosi lagi dan mencoba untuk tersenyum walaupun terpaksa
"kau tau kau ini sangat lah lancang!"ucap ariestha Santai
lelaki itu hanya tersenyum memperhatikan deretan gigi nya yang putih,
"aku rasa kau yang lebih lancang nona, karena berani menolak putra mahkota dengan sangat tidak berperasaan!"ucap nya jelas menohok untuk ariestha, sehingga ia menyipitkan matanya dan langsung menoleh
"Kau mengintip kami!!"bentak ariestha keras hingga membuat burung-burung di sekelilingnya langsung berterbangan menjauh
.
.
.
setelah acara perjamuan selesai para calon selir langsung di antar untuk beristirahat begitu pun Ariesta walaupun ia tidak mengikuti perjamuan ia diam-diam menyelinap masuk ke barisan
"wah lihat bukakah itu pangeran kedua"
"sangat ramah dan tidak sombong sama sekali, aku jadi semakin tergoda"
Ariesta yang mendengar komentar-komentar dari para calon selir itu penasaran dan langsung menoleh memperhatikan sosok yang di maksud,
"biasa saja"gumam gadis itu mencebik
gadis itu kemudian kembali fokus berkeliling melihat-lihat istana harem tersebut , ia berdecak kagum melihat bangunan dan juga taman yang semuanya tampak indah untuk di pandang
hingga ia berhenti di dekat kolam teratai di tengah-tengah istana harem tersebut, karena putra mahkota belum memiliki selir ataupun permaisuri tempat itu masih bebas untuk di datangi siapapun , entah lah menurut ariestha mereka semua tampak antusias
ia menatap pantulan dari nya di dalam kolam , tanpa di duga kalung Rubi yang ia kenakan terlepas dan langsung terjatuh kedalam kolam
"sial!"gumam ariestha memperhatikan tempat di mana kalungnya itu terjatuh
"hati-hati nona kau bisa terjatuh!"ucap Seseorang membuat ariestha menoleh dengan kesal
Tampak lah seorang lelaki dengan senyum tipis sedang memperhatikan nya,
"yang mulia!"ucap Ariesta kemudian memberikan hormat
"apa yang sedang kau cari, seperti nya kau sedikit kesusahan"ucap pangeran tersebut Ramah
__ADS_1
"egg, aku menjatuhkan kalungku di sini,jadi.."ucap Ariesta menggantung tidak ingin melanjutkan kata-katanya
lelaki itu mendekati kolam tersebut dan mengarahkan tangannya ke kolam seketika air yang ada di dalam kolam langsung terangkat dan melayang-layang sesuai keinginan nya, dan kalung Rubi tersebut langsung terlihat dan langsung di ambil dengan lembut oleh lelaki itu
Ariesta yang masih sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat masih belum menyadari bahwa lelaki itu kini tengah memperhatikan nya dengan senyuman khasnya
"ini kalung nya bukan?"ucap lelaki tersebut mengulurkan tangannya
"egg, iy-iya!!"ucap ariestha dengan cepat mengambil kalung tersebut
"terimakasih yang mulia"ucap Ariesta menunduk hormat,
"panggil saja aku tirtan"ucap lelaki tersebut masih dengan senyum nya yang manis Itu
"hah"Ariesta mengernyitkan alisnya heran dengan ucapan pangeran tersebut , bagaimana mungkin ia dengan lancang memanggil nya dengan nama asli nya di depan umum bisa-bisa ia di hukum penggal
di sisi lain Demian yang sedang asyik menikmati suasana langsung terganggu dengan pemandangan mereka
Langsung berjalan dengan langkah besar mendekati mereka yang tampak akrab di mata nya,
'sepertinya yang mulia tirtan akan dalam masalah kali ini, 'batin locetot menyadari aura cemburu tuannya telah berkorban
"adik kedua, tampak nya sedang bersenang-senang!"ucap Demian dengan tatapan tajam
ariestha langsung menunduk hormat pada lelaki itu namun tidak di pedulikan oleh nya karena ia masih fokus menatap sang adik yang menurutnya lancang itu
"kakak, bagaimana mungkin aku bersenang-senang tanpamu, aku bahkan kelelahan karena mengeluarkan tenaga dalam ku untuk membantu nona ini"ucap tirtan dengan senyum yang selalu menghiasi bibir tipisnya
"apa maksud mu, bicara dengan jelas adik sialan!"ucap Demian mulai di kuasai oleh amarahnya
tirtan tidak dapat menyembunyikan Tawan nya melihat tingkah kakaknya tersebut hingga membuat Demian hampir jengah
"aku hanya membantu mengambil kan kalung Rubi Milikinya yang terjatuh ke dalam kolam, kakak pikir apa?,"ucap tirtan menggoda dengan senyum mengejek
"benarkah itu ariestha?"tanya Demian tajam ke gadis yang sedari tadi hanya diam itu
"benar, dia hanya membantuku"ucap Ariesta tidak ingin berdebat dan memutuskan untuk kembali diam dan menundukkan kepalanya
Demian malah mengangkat dagu gadis itu dan memperhatikan wajah nya dengan seksama
'sialan, kalau bukan di istana akan ku habisi laki-laki ini' batin ariestha meradang
"apakah masih belum puas yang mulia" ariestha tersenyum dengan ekspresi mengerikan, tampaknya mulai tidak tahan untuk tidak marah, terlihat dari tangan gadis itu yang mulai mengepalkan
#bersambung
__ADS_1