Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Harga Yang Pantas


__ADS_3

Setelah selesai membuatkan susu, Bunga mendekat ke arah sosok mungil itu. Bibirnya melengkung tatkala melihat bayi mungilnya menyedot dengan rakus susu dalam dot yang baru saja diberikan olehnya.


"Alea sayang, kamu laper ya? Maaf ya, tadi ada insiden kecil. Untungnya..." Bunga tak melanjutkan kata-katanya, saat mengingat orang yang menyelamatkan dirinya adalah Sean. Dia pun tak menampik, jika Sean telah menyelamatkannya dari amukan pemilik mini market itu yang tiba-tiba pergi begitu saja saat melihat Bunga terkapar. Ya, mungkin pemilik mini market itu berpikir jika Bunga telah tertabrak mobil. Jadi, dia lebih memilih untuk pergi daripada terkena masalah.


Bunga mengedarkan pandangannya pada debit card dan beberapa lembar uang kertas yang tergeletak di atas ranjang kayu itu. Senyum di wajah itu hilang, berganti dengan derai air mata yang menetes kian deras membasahi kulit putih yang kini terlihat pucat dan layu.


"Dulu, aku sangat bahagia saat melihat kartu seperti ini diberikan padaku. Kupikir, semua masalah akan berakhir. Tetapi, nyatanya aku salah. Aku tidak menyadari, jika kita mengawali sesuatu hal dengan niat yang buruk, maka hal itu akan berbalik pada diri kita sendiri. Semua yang kulakukan terasa menjadi bumerang bagiku. Tanpa pikir panjang, aku telah menghancurkan rumah tangga orang lain, yang pada akhirnya menghancurkan kehidupanku. Dan inilah, harga yang pantas kuterima atas semua dosa-dosaku."


Bunga mengusap air mata yang membasahi wajahnya, lalu dengan terpaksa memaksakan sebuah senyuman diantara rasa sakit yang begitu menusuk kalbu. Sebenarnya dia tak ingin mengingat masa lalu itu, tetapi pertemuannya dengan Sean, mau tak mau membuka kembali tabir kelam di hidupnya.

__ADS_1


Malam itu, setelah Sean menyetubuhinya, dengan mengendap-endap disertai rasa sakit di bagian inti dan sekujur tubuhnya, Bunga keluar dari rumah tersebut. Awlanya, dia ingin kembali ke panti, tetapi Bunga mengurungkan niatnya, dia tak ingin ibu panti curiga dan tak ingin mereka terluka dengan kebohongannya. Dia pikir, setelah keluar dari rumah itu masalahnya akan berakhir, tetapi nyatanya tidak.


Bahkan, Bunga harus menjual ponselnya agar memiliki tempat tinggal sementara. Setelah itu, dia mencari pekerjaan, dan beberapa hari kemudian, dia mendapatkan pekerjaan sebagai pencuci piring di sebuah rumah makan. Namun, keanehan mulai dia rasakan, setelah satu bulan berkerja di rumah makan itu. Bunga mengalami mual jika mencium masakan, dan tentunya itu sangat mengganggu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku sakit? Kenapa tiba-tiba aku seperti ini?" gumamnya. "Ah lebih baik, aku ke puskesmas saja untuk memeriksakan keadaanku."


Bunga memutuskan memeriksakan kesehatannya. Dan setelah itu, dia pun tahu jika saat ini dirinya sedang hamil, hamil anak Sean. Seketika hidupnya gelap. Hidup sendiri di tengah kejamnya ibu kota, itu bukan hal yang mudah baginya, apalagi dalam kondisi hamil, dan tidak ditemani suami, ataupun sanak saudara. Membayangkan saja, terlalu menyakitkan bagi Bunga, tetapi mau tak mau dia harus menjalani itu. Saat Bunga meraba perutnya, ada sebuah desiran hangat yang membuatnya merasa begitu bahagia, sekaligus menjadi penyemangat hidup.


Bunga menatap bayi mungil yang kini sudah terlelap. "Ini memang tidak mudah, Alea. Tapi kita bisa melaluinya, kan? Terima kasih sudah menemani mama." Bibir itu kembali merekah saat mengingat perjuangannya mencari sesuap nasi dan tempat berteduh bersama Alea di perutnya. Saat itu, tak ada pilihan lain, selain menjadi seorang pemulung.

__ADS_1


Bermodal karung dengan perut besarnya, Bunga berjalan menyisir jalanan ibu kota di bawah teriknya matahari, terkadang tubuhnya pun basah kuyup terkena guyuran hujan. Apalagi, saat melahirkan Alea, tak ada seorang pun yang menemani, tak ada ucapan selamat, kecuali dari seorang bidan yang membantu persalinannya. Memang, bukan hal yang mudah, tetapi dia mencoba menjalani semua ini dengan keikhlasan.


***


Keesokan Harinya..


Dengan membawa Alea sekaligus barang-barang di tangannya, Bunga keluar dari gubuk kecil itu. Dengan langkah cepat, dia menaiki sebuah angkutan umum. Tetapi, saat berada di angkutan umum tersebut, tiba-tiba Alea begitu rewel. "Kamu kenapa, Sayang? Gerah ya?" tanya Bunga sambil mengelus pipi Alea. Detik itu juga, dia merasa begitu panik saat menyadari suhu tubuh Alea yang tinggi.


"Astaga, panas sekali badanmu, Nak," gumam Bunga. Dia pun memilih turun dari angkutan umum tersebut, lalu nekat menaiki sebuah taksi dengan berbekal uang yang diberikan Sean. Tak berapa lama, dia pun sudah sampai di rumah sakit.

__ADS_1


"Sabar ya sayang, sebentar lagi dokternya datang," ujar Bunga menenangkan Alea. Bersamaan dengan itu, seorang dokter mendekat pada Alea, lalu tampak mengamati wanita itu sejenak.


"Kamu..."


__ADS_2