
Bunga sebenarnya mendengar bunyi bel tersebut, tetapi dia tidak turun untuk membukakan pintu. Selain karena ada Bi Arni, dia pun sadar, jika rumah ini, bukanlah bukan miliknya. Dan, dia yakin tamu yang datang pasti bukan untuk mencari dirinya. Apalagi saat ini, dia sedang sibuk mengobati tangannya yang terasa masih begitu sakit. Sementara itu, ketika Bi Arni sudah membukakan pintu, tampak Billy berdiri di depannya.
"Selamat siang, Tuan Billy," sapa Bi Arni.
"Bi, apa Bunga dan putrinya ada di rumah ini?"
"Iya Tuan, mereka ada di sini."
"Bisakah aku minta tolong untuk memanggilkan mereka?"
"Emh, begini Tuan. Bunga saat ini sedang terluka, mungkin dia sedang mengobati lukanya di kamar. Jadi, lebih baik kita ke kamarnya saja, kasihan dia," jawab Bi Arni.
Meskipun Billy merasa terkejut saat mendengar jika Bunga sedang terluka, dia tak menanyakan hal itu, dan memilih menyembunyikan rasa cemasnya. Dia kemudian mengikuti pembantu rumah itu berjalan menuju ke kamar Bunga.
"Bunga, apa kau ada di dalam?" tanya Bi Arni.
"Iya Bi, masuk saja!" jawab Bunga. Namun, saat pintu itu terbuka, Bunga merasa terkejut karena yang masuk ke kamar itu, bukanlah Bi Arni tetapi Billy.
"Dokter Billy?" gumam Bunga. Sementara itu, atensi Billy langsung tertuju pada tangan Bunga yang terluka. Hatinya merasa sakit, apalagi ketika melihat darah yang masih menetes dari telapak tangan Bunga. Spontan, Billy pun berlari lalu duduk di depan wanita itu.
"Kau kenapa, Bunga? Kenapa tanganmu terluka seperti ini?" tanya Billy.
"Oh tidak apa-apa, Dokter. Tadi, aku membersihkan gelas yang pecah, dan tidak sengaja serpihan gelas itu mengenai tanganku."
__ADS_1
"Astaga Bunga, kenapa kau tidak berhati-hati?" ujar Billy. Dengan cekatan, dia pun mengobati tangan Bunga dengan menekan beberapa luka sobekan di tangan tersebut agar darahnya tidak keluar kembali. Tentunya, Bunga merasa senang dengan perlakuan Billy. Namun, dia buru-buru menepis rasa bahagia itu.
"Dokter Billy, dari mana anda tahu saya berada di sini?" tanya Bunga untuk mengalihkan perasaannya yang begitu berkecamuk.
"Oh, ada salah seorang perawat yang mengatakan padaku kalau Kak Mauren tadi malam menjemputmu," dusta Billy. Dia tidak ingin jika Bunga tahu kalau dia sampai mencarinya lewat CCTV.
"Lalu, bukankah ini belum jam pulang kerja, kenapa anda ada di sini?"
"Emh, itu karena sebenarnya hari ini ada acara keluarga di rumahku. Tapi, ada yang harus aku ambil di rumah ini. Jadi, aku mampir ke sini dulu, sekaligus ingin melihat keadaan Alea. Tapi, saat sudah sampai di sini, Bi Arni mengatakan kalau kau sedang terluka. Jadi, aku ingin melihat keadaanmu juga, Bunga," dusta Billy. Tentunya, dia pun tidak ingin kalau Bunga tahu jika dirinya sangat mencemaskan wanita itu.
"Oh jadi seperti itu, memangnya nanti malam ada acara apa di rumah anda, Dokter Billy?"
Seketika jantung Billy pun berdegup kian kencang mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya, dia tidak ingin menghadiri acara keluarga nanti malam, tetapi sepertinya dia tidak punya pilihan.
"Hanya acara kumpul-kumpul keluarga biasa."
"Sudah selesai, Bunga. Beberapa hari lagi, pasti lukanya sudah sembuh, tapi jangan lupa minum obat pereda rasa sakit. Kebetulan aku bawa obatnya, karena aku selalu membawa obat ini kemanapun aku pergi," ujar Billy sambil memberikan obat pereda rasa sakit pada Bunga yang dia keluarkan dari tas-nya.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama. Bunga, boleh aku mengatakan sesuatu padamu?"
"Ya, tentu saja."
__ADS_1
"Bunga, tolong jangan pergi dari rumah ini. Rumah ini, akan menjadi tempat yang nyaman bagimu. Kau dan juga Alea aman di sini, daripada kalian mengontrak sendirian. Aku yakin, Kak Mauren pasti akan bersikap baik pada kalian berdua." Bunga mengangguk seraya tersenyum, menutupi rasa gundah di hatinya.
"Ya, mungkin yang kau lihat di rumah ini aku aman, dan segala sesuatu bisa tercukupi. Tetapi, bagiku rumah ini jauh lebih berbahaya dibandingkan saat aku harus hidup di jalanan, karena mungkin saja sewaktu-waktu nyawaku bisa terancam," batin Bunga.
***
Malamnya tampak Mauren dan kedua orang tuanya begitu cemas karena Billy belum pulang ke rumah. Padahal, saat ini Erina dan keluarganya sudah menunggu kedatangan Billy.
"Kemana sebenarnya anak itu? Kenapa ponselnya juga tidak aktif?" gerutu Mauren seraya berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Kedua orang tuanya yang duduk di ruang tamu bersama orang tua Erina pun sesekali melirik padanya seolah ingin mencari tahu tentang keberadaan Billy. Tetapi, Mauren hanya menggelengkan kepalanya yang membuat orang tuanya semakin merasa panik, dan juga cemas.
Apalagi, orang tua Erina sudah berulang kali menanyakan keberadaan Billy. "Bagaimana kalau kita makan malam saja terlebih dulu, sambil menunggu Billy pulang ke rumah," ujar Wisnu, ayah dari Billy dan Mauren,
"Sepertinya itu ide yang bagus, mungkin di rumah sakit Billy sedang banyak pekerjaan," jawab kedua orang tua Erina yang tidak merasa curiga pada Billy. Tidak seperti Erina, yang saat ini terlihat begitu kesal. Dia sebenarnya pun tahu, jika Billy sedang menghindari acara tersebut. Mereka akhirnya memilih untuk menyantap makan malam terlebih dulu sambil menunggu kedatangan Billy.
Saat mereka sedang menikmati hidangan makan malam, tiba-tiba suara langkah Billy terdengar masuk ke rumah itu. Refleks wajah semua orang yang ada di sekeliling meja makan itu pun berubah ceria, tak terkecuali Erina yang langsung bangkit dari kursi lalu mendekat ke arah Billy.
"Selamat malam semua, maaf kalau aku terlambat. Emh begini, saya sedang tidak ingin banyak berbasa basi pada kalian semua. Maaf kalau saya harus mengatakan ini, saya hanya tidak ingin menyakiti perasaan Erina. Karena itulah, malam ini saya ingin memutuskan hubungan pertunangan kami berdua."
Erina pun begitu terkejut mendengar perkataan Billy. "Tidak, aku tidak mau putus denganmu, Billy!"
***
Di sisi lain, tampak sesosok laki-laki berjalan mendekat pada Bunga yang sedang membuatkan susu untuk Alea.
__ADS_1
"Hai kau wanita bodoh, cepat kemari!"
Mendengar suara bariton rendah yang dikenalnya itu, seketika tubuh Bunga pun meremang. "Apa yang akan dia lakukan padaku? Tuhan, tolong selamatkan aku."