Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Maaf


__ADS_3

"Bi ... Billy, ini salah paham. Ini nggak seperti yang kamu denger."


"Cih, cukup Erina. Kau tidak usah mengelak, aku tidak tuli, dan bisa mendengar semua perkataanmu dengan jelas. Jadi, kau yang membunuh Alexa bukan? Aku benar-benar tidak menyangka ternyata hatimu begitu busuk. Dan sekarang, kau tidak mungkin bisa menyangkal lagi karena pengakuanmu sudah aku rekam!" sahut Billy sambil memperlihatkan rekaman di ponselnya.


Billy menatap Erina disertai kilat amarah di kedua matanya. Wajahnya pun terlihat memerah menahan amarah dan luka. Akan tetapi, sekuat tenaga Billy berusaha meredam amarahnya karena saat itu mereka sedang berada di rumah sakit tempatnya bekerja. Dia tidak ingin membuat reputasi rumah sakit tersebut tercoreng.


"Bu ... Bukan begitu, begini maksudku, setelah Alexa meninggal, susah payah aku mencoba merebut hatimu, lalu kau memutuskan hubungan pertunangan kita dan memilih wanita murahan ini."


"Jaga kata-katamu, Erina. Bunga bukanlah wanita seperti itu! Dia selalu menjaga kehormatannya!"


"Menjaga kehormatan katamu? Bagaimana mungkin wanita yang sudah menjebak suami orang bisa kau sebut selalu menjaga kehormatan! Apa kau sudah tidak waras Billy?"


"Satu hal yang perlu digaris bawahi, Erina. Bunga terpaksa melakukan itu untuk menyelamatkan panti asuhan tempatnya bernaung. Setidaknya, dia melakukan semua itu untuk kepentingan orang lain. Bukan untuk dirinya sendiri, tidak sepertimu yang tega menghabisi sahabatmu, Alexa hanya untuk keegoisanmu!"


Mendengar suara bentakan dari arah samping, Erina pun menoleh pada Mauren. Ya, wanita itulah yang baru saja membentaknya. Dan Erina, tak menyangka Mauren bisa bersikap seperti itu padanya.


"Kenapa? Kau kaget aku bersikap seperti ini padamu?"


Erina menatap Mauren dengan tatapan nanar, seakan masih tak percaya Mauren akan bersikap seperti itu padanya.


"Kak Mauren?" lirih Erina.


"Kenapa? Aku kecewa padamu, Erina. Aku selalu mendukung dan membantu hubunganmu dengan Billy, tapi apa? Ternyata aku salah. Aku sudah salah menilai, dan mendukung seorang penjahat! Hatimu ternyata sangat busuk dan aku menyesal telah mendukung manusia biadab sepertimu!"


"Tapi Kak, kau seharusnya mengerti jika aku melakukan seperti ini karena aku mencintai adikmu, Kak!"


"Apa kau bilang? Cinta? Itu bukan cinta tapi obsesi gila, Erina. Kalau kau benar-benar mencintai Billy, bukan seperti ini caranya. Kau melakukan semua ini untuk mendapatkan Billy hanya untuk ego-mu semata tapi kau sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan Billy, bahkan kau tega sampai membunuh Alexa. Kau itu manusia atau bukan Erina!"

__ADS_1


"CUKUP KAK!"


"Cukup katamu? Aku sudah cukup sabar melihatmu kelakuanmu dan kedua orang tuaku saat kalian mencelakai Bunga. Bahkan, aku rela memberikan kebahagiaanku dengan meminta suamiku untuk rujuk dengan Bunga. Memang sudah cukup aku berurusan denganmu, aku muak padamu, Erina. Dan sekarang, lebih baik kau pertanggung jawabkan perbuatan bejatmu itu!"


"Apa maksudmu, Kak!" sahut Erina. Billy pun mendekat ke arah Erina, lalu menepuk bahunya.


"Erina, sudah saatnya kau mempertanggung jawabkan semua kejahatan yang pernah kau buat."


"Apa maksudmu, Billy? Kenapa kalian bersikap seperti itu padaku?"


"Tidak usah berpura-pura bodoh Erina. Percuma kau mengelak, karena semuanya sudah jelas!" balas Mauren. "Benar apa kata Kak Mauren, kau harus memepertanggung jawabkan perbuatanmu pada pihak yang berwajib."


"Apa? Sembarangan sekali kau berkata seperti itu padaku! Sebelum kalian melakukan semua itu, aku yang terlebih dulu akan membuat kalian menyesal!"


Erina pun menatap semua orang yang ada di ruang perawatan tersebut dengan tatapan tajam seraya mengacungkan jari telunjukanya. Setelah itu, dia pun membalik tubuhnya, berniat keluar dari ruang perawan itu. Akan tetapi, tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Kau? Untuk apa kau datang ke sini? Aku sama sekali tidak ada urusannya denganmu!" sahut Erina.


"Tidak ada urusannya denganku bagaimana, Erina? Apa kau lupa kalau sudah meminta istriku untuk menyuruhku rujuk dengan Bunga. Kau pikir aku terima diperlakukan seperti itu? Aku lelaki yang punya harga diri, Erina. Dan tidak bisa diinjak-injak begitu saja hanya demi ego-mu semata!"


"Dasar brengsek kau Sean!"


"Aku memang brengsek, tapi tidak ada yang lebih brengsek dari seorang wanita yang membunuh sahabatnya sendiri. Pak polisi, tangkap wanita itu!" perintah Sean.


Beberapa orang polisi yang datang bersama Sean pun mendekat ke arah Erina, lalu mencengkram tangan wanita itu.


"Apa-apaan ini? Kalian tidak bisa menangkapku begitu saja! Sekarang tolong lepaskan aku!"

__ADS_1


"Nona Erina, lebih baik anda menjelaskannya di kantor saja," sahut salah seorang polisi tersebut.


"Tolong bersikap kooperative lah, Nona, agar tidak menambah hukuman anda," timpal polisi yang lain.


"Dasar kalian semua brengsek!" Erina menatap nyalang pada semua orang yang ada di ruangan tersebut. Namun, dia tidak bisa berkutik karena polisi tersebut gegas menyeretnya keluar dari ruang perawatan itu.


Setelah Erina dan beberapa orang polisi tersebut keluar, Sean tampak mendekat pada Mauren, lalu menggenggam tangan wanita itu.


"Maaf aku harus melakukan ini, aku sengaja melakukannya."


Sean membelai rambut Mauren seraya menatap istrinya dengan tatapan hangat.


"Saat kau memintaku untuk rujuk dengan Bunga, aku yakin sesuatu hal pasti akan terjadi. Dan hal itu terbukti kan? Kau dan Erina pergi menemui Bunga untuk memaksanya kembali denganku. Saat mendengar perdebatan kalian semakin memanas, aku langsung menghubungi polisi dan juga Billy karena aku tidak mau sesuatu hal yang buruk menimpa kembali pada Bunga."


Sean melirik pada Bunga. "Sudah cukup aku berbuat jahat pada Bunga, kau mengartikan, Sayang?"


Mauren pun mengangguk, lalu memberi kode agar mendekat pada Bunga dan Billy.


"Bunga maafkan aku," lirih Mauren.


"Aku juga minta maaf padamu, Bunga


aku tahu, aku adalah orang terkejam yang pernah kau temui kan? Maaf atas semua kejahatanku, kalau kau tidak terima dengan semua kejahatan yang pernah kulakukan, kau boleh menghukumku, Bunga. Kau boleh melaporkanku juga pada pihak yang berwajib. Semua terserah padamu, aku terima apapun keputusanmu, Bunga."


Bunga lalu melirik pada Billy seolah meminta pendapat dari calon suaminya itu.


NOTE:

__ADS_1


Maaf baru sempet up, othor lagi sakit. Terima kasih yang masih mau membaca, lope lope sekebon cabe punya Pak RT 😍🤗


__ADS_2