Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Kencan


__ADS_3

Bunga yang saat ini sedang membuka paper bag yang baru saja diberikan Billy padanya, begitu terkejut saat melihat barang yang diberikan oleh Billy adalah sebuah ponsel.


"Apa ini? Apa maksud Dokter Billy memberikan ponsel ini? Bukankah harga ponsel ini mahal? Kenapa dia membelikan barang semahal ini untukku? Oh tidak, sebaiknya besok kukembalikan saja, aku tidak mau berhutang pada siapapun," gumam Bunga.


Di saat itulah, tiba-tiba ponsel itu berbunyi. Sebuah panggilan masuk ke ponsel tersebut, yang ternyata sudah diaktifkan oleh Billy sebelumnya. Bahkan, di layar ponsel itu sudah terpampang nama Billy. Dengan kata lain, Billy sudah memasukkan nomornya ke ponsel itu. Gegas, Bunga pun mengangkat panggilan tersebut.


[Halo Bunga.]


[Halo Dokter Billy. Emh, dokter kenapa anda memberikan ponsel ini padaku?] tanya Bunga tanpa basa-basi terlebih dulu. Di ujung sambungan telepon Billy pun tersenyum.


[Karena aku hanya ingin kita bisa berkomunikasi Bunga, itu saja tidak lebih.]


[Tetapi, harga ponsel ini sangat mahal Dokter Billy.]


[Tidak usah kau pikirkan, aku butuh seorang teman dan aku pikir hanya kau yang saat ini cocok untuk menjadi temanku, aku butuh teman untuk mendengar keluh kesahku. Jadi, tolong terima ponsel itu untuk menjadi teman yang selalu mendengar keluh kesahku.]


[Tapi...]


[Tidak ada tapi-tapian, kau harus menjadi temanku. Dengan menjadi temanku, anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah merawat putrimu, bagaimana?]

__ADS_1


Bunga pun hanya terdiam mendengar paksaan Billy, seolah dia memang sudah tidak punya pilihan lain selain menerima ponsel itu.


[Bagaimana Bunga? Kau mau kan menjadi temanku?]


[Baiklah kalau begitu, aku terima pemberianmu, Dokter. Tetapi, nanti kalau aku sudah punya pekerjaan, aku akan mengembalikan nominal uang seharga ponsel ini, bagaimana Dokter?]


[Itu terserah kau saja, yang terpenting sekarang kau mau menerima pemberian dariku.]


[Baik Dokter Billy.]


[Kalau begitu, sekarang tidurlah. Besok pukul 09.00 pagi kau akan kujemput.]


[Besok aku ambil cuti, jadi aku akan mengajakmu dan Alea untuk berjalan-jalan. Jadi, lebih baik sekarang kau tidur saja. Sampai bertemu besok, Bunga.] Billy lalu menutup sambungan telepon itu, sedangkan Bunga hanya bisa terdiam, lalu menempelkan ponsel itu di dadanya.


"Apa ini yang disebut kencan? Dokter Billy mengajakku kencan?"


***


"Bunga menggodaku lagi, Mauren."

__ADS_1


Mauren ternganga mendengar perkataan suaminya. Sebenarnya dia terkejut, tetapi Mauren belum sepenuhnya bisa percaya dengan perkataan suaminya itu. Karena, dia tahu Sean sangat membenci Bunga, dan bisa jadi dia mengatakan hal seperti itu agar Mauren mengusir Bunga dari rumah mereka, begitu yang ada di dalam benak Mauren.


"Kenapa kau diam? Apa kau tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu Mas, setelah apa yang kita lalui, aku hanya tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri. Aku ingin membuktikan kebenaran itu terlebih dulu. Jika Bunga sampai melakukan kesalahan lagi, maka sepanjang hidupku aku tidak akan pernah memaafkan dirinya."


"Baiklah kalau begitu, tidak apa kalau kau belum percaya padaku. Tapi, aku yakin suatu saat kau pasti akan menemukan kebenaran itu, Mauren."


Mauren pun hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Tetapi, dalam hatinya, dia berkeyakinan untuk membuktikan perkataan dari Sean.


"Ya sudah kalau begitu, kita tidur saja dulu. Besok kita bicarakan hal ini lagi, sekaligus mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi orang tuamu." Mauren pun mengangguk, lalu mengikuti langkah Sean tidur di atas ranjang.


***


Sementara itu, di sebuah kamar tampak seorang wanita sedang duduk di lantai, menekuk kakinya seraya terisak.


"Sebenarnya, siapa wanita itu, Billy? Siapa wanita yang sudah berhasil merebut hatimu dariku? Aku masih bisa terima jika saat ini kau masih mencintai Alexa, tetapi tidak dengan kehadiran cinta yang baru di dalam hidupmu. Cih, enak saja dia sudah melangkahiku merebut hatimu dariku. Padahal, aku yang sudah bersusah payah menyingkirkan Alexa."


Wanita itu mengusap air matanya dengan kasar. "Jika aku tidak bisa mendapatkan hatimu dengan cara yang wajar, baiklah aku akan mendapatkanmu kembali dengan cara yang tidak wajar seperti ini!"

__ADS_1


Erina tampak menggerakkan sebuah benda kecil di atas tangannya, detik selanjutnya darah segar pun mengalir di tangan itu. Tak berapa lama, tubuh Erina pun ambruk di atas lantai.


__ADS_2