
[Bertemu denganku? Baiklah, kapan kita akan bertemu?]
[Temui aku sekarang juga, Kak!] jawab Erina di ujung sambungan telepon.
[Baik, sekarang juga aku akan pergi ke rumah sakit.] Mauren menutup ponselnya, lalu melirik pada Sean.
"Ada apa, Sayang?"
"Erina minta bertemu denganku di rumah sakit sekarang."
"Memangnya ada apa masalah apa lagi? Apa itu masih ada hubungannya dengan Billy?"
"Kemungkinan seperti itu, dari nada bicaranya dia terdengar begitu marah. Sepertinya Billy memang belum merespon dirinya."
Sean pun tersenyum kecut. "Cinta memang tidak bisa dipaksakan, Mauren. Biarkan saja Billy memutuskan siapa yang akan jadi pasangan hidupnya, seperti kita. Meskipun ada wanita lain yang sudah berusaha merusak rumah tangga kita, tapi pada akhirnya aku tetap tidak bisa berpaling darimu karena cuma kamu satu-satunya wanita yang kucintai. Karena cinta itu tidak bisa dipaksakan, kau mengerti kan?"
Mauren pun mengangguk. "Lalu, aku harus bagaimana? Aku ingin Erina tetap menjadi adik iparku."
"Tapi bagaimana kalau Billy tidak mau? Kita tidak berhak mencampuri urusan pribadi orang lain, meskipun dia masih menjadi bagian dari keluarga kita. Tapi untuk masalah hati, kita tidak berhak untuk memaksanya."
Mauren pun terdiam mendengar perkataan Sean, dia pun membenarkan semua yang dikatakan oleh Sean. Namun, ego di dalam dirinya yang selalu menginginkan Erina untuk menjadi adik iparnya seolah mengalahkan nuraninya.
"Mauren, kenapa kau diam? Bukankah tadi kau bilang mau pergi ke rumah sakit ?"
"Iya Mas, aku pergi dulu," pamit Mauren, lalu pergi meninggalkan Sean.
Tak berapa lama, setelah Mauren pergi ponsel Sean pun berbunyi. Laki-laki itu kemudian mengangkat panggilan telepon tersebut yang berasal dari sekretarisnya, Johan.
[Iya ada apa, Johan.] jawab Sean. Beberapa saat setelah menerima telepon itu, raut wajah Sean pun berubah, keningnya tampak berkerut disertai mata yang mulai menyipit, seolah sedang mengartikan perkataan Johan.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang, akan kuurus sekarang juga," ujar Sean, lalu pergi dari rumah orang tua Mauren, setelah sebelumnya menitipkan Zico terlebih dulu pada baby sitternya.
***
Di sisi lain, Mauren yang sudah sampai di rumah sakit, saat ini sudah memasuki kamar perawatan Erina. Ketika dia masuk ke kamar itu, Erina tengah duduk di atas brankar disertai tatapan mata kosong.
__ADS_1
"Hai Erina, selamat sore," sapa Mauren. Erina pun menoleh, namun sapaan tersebut tak mendapat tanggapan apapun dari Erina, hanya tatapan kosong yang sulit diartikan.
"Bagaimana keadaanmu, Erina?" tanya Mauren sambil menggenggam tangan Erina.
"Tidak usah berpura-pura baik padaku, Kak. Sekarang, aku sudah tahu siapa kau yang sebenarnya."
Mendengar perkataan Erina, Mauren pun tampak memicingkan alisnya. "Apa maksudmu Erina? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Ck, tidak usah berpura-pura, Kak. Sebenarnya kaulah yang menjadi penyebab retaknya hubunganku dengan Billy kan?"
"Apa apa maksudmu, Erina? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Bukankah sudah kukatakan tidak usah berpura-pura lagi padaku, Kak. Aku sudah tahu semuanya!"
"Erina, tolong jelaskan dulu padaku. Aku benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataanmu itu."
"Kak Mauren memang serigala berbulu domba. Kak Mauren sebenarnya tidak menyukai hubunganku dengan Billy kan? Jadi Kak Mauren sengaja menjodohkan Billy dengan wanita lain."
"Erina tolong jangan berkata seperti itu. Demi Tuhan, satu-satunya orang yang kuinginkan menjadi adik iparku yaitu kau! Dan, aku tidak pernah melakukan hal yang kau tuduhkan padaku!"
"Tidak usah berpura-pura lagi, Kak. Aku sudah memiliki buktinya. Lihat ini!" balas Mauren sambil memperlihatkan beberapa foto seorang wanita yang turun dari mobil Billy, ketika mobil itu terparkir di depan rumah Mauren. Tak hanya itu, Erina pun memperlihatkan foto-foto Billy dan seorang wanita yang Mauren duga adalah Bunga.
"Billy dengan Bunga? Bagaimana mungkin? Ini benar-benar sulit untuk dipercaya," lirihnya.
"Kak, bukankah sudah kukatakan jangan berpura-pura seperti itu. Kau tidak perlu mengelak lagi, wanita itu tinggal di rumahmu kan? Kau sengaja mendekatkan dia dengan Billy! Iya kan, Kak?"
Seketika Mauren pun menggelengkan kepalanya. "Tidak Erina, aku tidak pernah melakukan hal itu. Memang, wanita itu tinggal di rumahku, tetapi aku tidak tahu kalau ternyata dia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Billy."
"Kau pikir, aku percaya dengan kata-katamu? Lalu untuk apa dia tinggal di rumahmu jika kau tidak mempunyai tujuan tertentu? Kau pasti ingin mendekatkan wanita itu dengan Billy kan?"
Mauren pun menggenggam tangan Erina. "Erina, percayalah padaku. Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang itu. Memang, dia tinggal di rumahku tetapi aku tidak pernah memiliki tujuan untuk mendekatkannya dengan Billy. Jika mereka sampai memiliki hubungan dekat, itu sungguh itu di luar dugaanku."
"Lalu, untuk apa dia tinggal di rumahmu? Dan tolong katakan siapa bayi itu sebenarnya? Jawab pertanyaanku dengan jujur, Kak Mauren. Aku ingin tahu sampai sejauh mana hubungan wanita itu dengan Billy!"
"Erina, tolong percaya padaku. Aku tidak tahu apapun tentang hubungan mereka, dan mengenai alasan wanita itu tinggal di rumahku, untuk saat ini maaf aku belum bisa menjawabnya. Percayalah, bayi itu bukanlah dari daging Billy. Tapi..."
__ADS_1
Mauren menggantung kalimatnya, disertai rasa sakit yang tiba-tiba menusuk begitu saja ke dalam dada. Untuk saat ini, tidak mungkin dia menjelaskan pada dunia siapa itu Bunga dan Alea, dia belum sanggup menerima konsekuensi jika ada orang yang tahu siapa mereka sebenarnya.
"Kau kenapa diam, Kak? Siapa sebenarnya wanita dan bayi itu?"
"Erina, tolong percaya padaku, anak wanita itu bukanlah darah daging Billy. Lalu, mengenai kedekatan mereka, aku akan mencari tahu dan memastikan itu sekarang juga."
Erina menatap Mauren dengan tatapan nanar. "Kau harus bertanggung jawab, Kak. Kalau kau benar-benar tidak tahu apapun tentang hubungan mereka, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu yang sudah sembarangan membawa wanita yang merusak hubungan kami."
"Maafkan aku, Erina."
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau kau belum membantuku menyelesaikan masalah ini, Kak Mauren." Mauren pun mengangguk seraya memejamkan matanya.
"Baiklah, aku akan menyelesaikan masalah ini. Aku pergi dulu," pamit Mauren, lalu pergi meninggalkan ruang perawatan Erina. Melihat hal itu, senyum sinis pun tersungging di bibir Erina.
"Hahaha... Kau benar-benar bodoh Kak Mauren!"
***
Sementara itu, Sean yang saat ini baru saja sampai di rumahnya, tampak berjalan menuju ke ruang kerjanya, berniat mengambil beberapa dokumen yang dia butuhkan untuk rapat mendadaknya dengan salah satu klien saat dihubungi oleh Johan beberapa saat yang lalu. Namun, ketikasedang berjalan ke arah ruang kerjanya, tiba-tiba atensinya tertuju pada Bunga yang saat ini sedang menyuapi Alea makan malam di ruang tengah.
"Bunga? Benarkah itu Bunga?" gumam Sean saat melihat penampilan baru dari Bunga. Ya, wanita itu memang terlihat begitu cantik hingga membuat Sean terpana untuk beberapa saat.
Setelah itu, dia pun mendekat pada Bunga. "Hai wanita sialan!" panggil Sean.
Mendengar suara yang dia kenal, sontak Bunga pun menoleh, meskipun disertai perasaan takut dan jantung yang berdegup begitu kencang.
"Tuan Sean. Selamat malam."
"Oh, jadi ini yang dimaksud oleh Mauren? Penampilan baru dari Bunga? Ya, memang dia terlihat cantik," batin Sean saat melihat Bunga di depannya.
"Dasar wanita sialan, kau pikir setelah mengubah penampilan seperti ini, aku akan tertarik padamu? Jangan pernah memiliki pemikiran bodoh seperti itu!"
"Tidak Tuan, saya tidak pernah berpikir seperti itu."
"Aku tidak butuh pengakuanmu itu, karena bagiku kau wanita yang begitu terhina!"
__ADS_1
Bunga pun menunduk, tak mampu lagi menatap wajah Sean yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi. Bersamaan dengan itu, deru mobil pun terdengar di luar. Sean yang mendengar suara mobil yang terhenti itu pun bergegas mendekat ke arah Bunga dan mengobrak-abrik pakaian serta penampilannya agar terlihat berantakan.
"Apa yang kau lakukan padaku, Bunga! Jangan pernah kau coba-coba untuk merayuku!"