
"Bisakah kita bertemu dengannya, Ronald?"
"Oh tentu saja, ayo kita ke ruang ICU sekarang!" ajak Ronal.
Meskipun Billy tidak tahu siapa wanita yang dimaksud, tetapi entah mengapa pikiran Billy melayang pada Bunga dan Alea. Ada rasa takut kehilangan yang kini membuat seluruh darah Billy seolah berhenti mengalir. Rasanya sakit dan menyesakkan dada, baginya Bunga harus baik-baik saja.
Akan tetapi, mendengar perkataan Ronald sungguh membuatnya sangat khawatir, apalagi dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Bunga setelah beberapa hari mencarinya. Billy tidak hanya cemas, namun lebih jauh dari itu, lebih tepatnya dia sangat takut kehilangan.
Akan tetapi, saat Billy dan Ronald baru saja membuka pintu ruang kerja Ronald, tiba-tiba sosok yang Billy kenali sudah berdiri di depan ruang kerja Ronald tersebut. Dan tentunya, Billy pun tak menyangka jika wanita itu sudah tahu keberadaan Billy sekarang. Hal itu, membuat Billy sebenarnya merasa sangat terkejut.
"Kau?" tanya Billy sambil mengerutkan keningnya ketika melihat wanita di depannya yang mengenakan celana pensil dipadukan dengan blus warna pink.
"Kenapa? Apa kau terkejut? Ingat Billy, kemanapun kau pergi, aku pasti bisa mencarimu."
Billy pun hanya tersenyum sinis mendengar perkataanya. "Memangnya, ada urusan apa lagi kau sampai mencariku ke sini, Erina? To the point saja, aku sedang banyak pekerjaan."
"Loh kok malah tanya ada apa sih, ada sesuatu ada yang harus kita bicarakan, Billy."
"Ada apa lagi Erina? Bukankah semuanya sudah jelas?"
"Lebih baik, kita cari tempat yang nyaman untuk bicara, di sini panas sekali," ujar Erina seraya mengipas lehernya dengan menggunakan telapak tangannya.
"Erina, bukankah sudah sering kali kukatakan hubungan kita sudah berakhir, dan sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi."
__ADS_1
"Jangan menganggap semuanya selesai semudah itu," balas Erina seraya menyipitkan matanya. "Apakah kau lupa Billy, kita bertunangan di hadapan keluarga besar kita, diresmikan dengan perayaan yang sangat mewah. Semua rekan bisnis orang tua kita mengetahuinya. Lalu, sekarang kau anggap semuanya selesai dan memutuskanku dengan begitu mudah? Sepele sekali kau memandangku dan hubungan kita selama 2 tahun terakhir ini."
"Memangnya kau ingin aku melakukan apa?" tanya Billy.
"Mari kita bicara di tempat yang lebih nyaman," ujar Erina.
"Katakan di sini saja."
"Di sini banyak petugas medis dan pasien yang berlalu lalang, Billy. Apa kau mau reputasimu sebagai dokter baru yang bekerja di rumah sakit ini hancur?"
Billy pun memandang ke arah sekeliling lalu meminta persetujuan pada Ronald. Ronald pun mengangguk, setelah itu dengan terpaksa Billy menyetujui ajakan Erina.
"Baik, kita ke kantin yang ada di rumah sakit ini," putus Billy.
"Pelakor?" Billy tentunya tidak terima jika Bunga dianggap sebagai pelakor.
"Ya, kau pikir aku tidak tahu, wanita yang tinggal bersama Kak Mauren, dia yang sudah merebutmu dariku kan Billy?"
"Maksudmu Bunga? Erina, dia tidak serendah yang kau pikirkan. Dia wanita bermartabat, dan asal kau tahu, kami belum memiliki hubungan apapun. Jadi, jangan sebut Bunga sebagai pelakor!"
"Tapi, buktinya dia hadir saat kau masih bersamaku, dan dialah yang menjadi perusak dalam hubungan pertunangan kita, kan? Dia merebutmu dariku!" tegas Erina.
"Bukan dia yang hadir secara sengaja, tapi memang akulah yang mendekat padannya, aku memang menginginkan dia selalu berada di sampingku, Erina."
__ADS_1
"Jahat sekali kamu berkata seperti itu padaku Billy." Mata Erina mendadak berkaca-kaca.
"Bukankah selama ini aku selalu setia padamu? Kenapa kau bersikap seperti itu padaku?" Billy menarik nafas dalam-dalam, dia tahu bahwa keputusannya untuk memutuskan hubungan pertunangan mereka memang sangat menyakiti hati Erina. Padahal selama ini Billy pun tahu, Erina tidak pernah macam-macam, bahkan selalu memahami dirinya serta penolakan yang selalu dilakukan olehnya. Akan tetapi, masalah hati memang rumit dan tidak bisa dipaksakan.
"Aku minta maaf, Erina. Aku memang sudah bertindak sangat kejam padamu. Oke aku salah, tapi tidak ada yang bisa diperbaiki dalam hubungan ini. Cinta tidak bisa dipaksakan, aku tidak ingin kau tersakiti kalau hubungan ini terus berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Ketahuilah Erina, hidup dengan orang yang tidak mencintai kita, itu sangat menyakitkan. Jadi, carilah orang yang benar-benar mencintaimu, berbahagialah dengan orang itu. Dan itu, bukan aku."
"Tapi aku cuma ingin hidup bersamamu, Billy. Bukankah kau bilang kalau kalian belum memiliki hubungan apapun? Kau tahu kan, asal usul wanita itu saja tidak jelas. Dia berasal dari panti asuhan, belum lagi dia adalah seorang janda. Hidup bersamanya pasti hanya akan menambah bebanmu saja. Apalagi, keberadaan wanita itu juga sekarang tidak kau ketahui kan, Billy? Lalu, untuk apa kau masih mengharap wanita itu? Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk mencari wanita tidak jelas itu, Billy. Berharap padanya, sama saja kau berharap pada Alexa yang sudah tidak ada di muka bumi ini lagi. Sia-sia usahaku selama i..." Erina menggantung perkataannya saat menyadari satu hal.
Mendengar perkataan Erina, Billy pun tertawa kecil seraya menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Ditatapnya mantan tunangannya itu dengan sorot mata yang dipenuhi kemarahan.
"Kenapa kau tiba-tiba diam? Ternyata kau sudah banyak tahu tentang Bunga ya? Dari mana kau tahu semua yang terjadi pada Bunga, Erina? Apa jangan-jangan, kau di balik semua yang terjadi pada Bunga? Aku yakin, pasti kau juga sudah bercerita hal yang tidak-tidak pada Kak Mauren kan? Bodohnya aku baru sadar ternyata kaulah penyebab dari semua ini, Erina? Kalau seperti ini jangan salahkan aku juga kalau aku berpikiran buruk jika meninggalnya Alexa ada hubungannya denganmu."
Mendengar perkataan Billy tentunya Erina merasa sangat takut wajahnya pun seketika memucat.
"Kupikir, kita bisa memperbaiki hubungan dengan menjadi teman yang baik, tetapi sepertinya aku salah, kau tetap saja Erina yang selalu berpikiran sempit. Kehadiranmu semakin membuatku yakin kalau kita memang harus berpisah. Kalau begitu aku pergi dulu Erina, masih banyak pekerjaan dan kau harus ingat sampai kapanpun aku tidak bisa kembali padamu," pamit Billy lalu meninggalkan Erina begitu saja yang saat ini tampak menggigit bibirnya.
Wanita itu pun sadar telah mengucap kesalahan yang telah membuat Billy menjadi sangat marah, dan tentunya semakin membenci dirinya.
"Sial, sudah sampai sejauh ini aku mencari tahu keberadaanmu, Billy. Akan tetapi, tetap saja kau menolakku. Bahkan, saat wanita itu sudah tidak ada lagi di hidupmu, kau masih saja menolakku. Lalu, bagaimana kalau Billy benar-benar curiga kalau aku lah yang membuat Alexa meninggal?"
Sementara itu Billy yang saat ini berjalan ke ruang ICU, tampak bergumam lirih. "Sepertinya, aku harus berani membuka luka lama tentang kematian Alexa. Apakah kematian itu memang ada unsur kesengajaan?"
Saat ini, Billy sudah sampai di depan ruang ICU. Ketika dia membuka pintu ruangan tersebut, tampak seorang wanita tertidur di atas brankar dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya. Seketika, bola mata Billy menatap nanar pada sosok wanita itu.
__ADS_1
"Jadi..."