
Billy sangat terkejut mendengar perkataan Bunga, dia benar-benar tidak menyangka jika ayah kandung dari Alea, adalah Sean, kakak iparnya sendiri, terlebih Sean dikenal sebagai sosok yang setia, dan sangat mencintai Mauren. Hal itu, seakan begitu mustahil baginya. Akan tetapi, tidak mungkin juga Bunga berbohong padanya.
"Kenapa dokter? Apa anda terkejut? Ya, itulah kenyataannya, Tuan Sean adalah ayah kandung dari Alea, kau pasti tidak percaya kan? Namun, itulah kenyataannya, dan semua ini terjadi bukan karena kesalahan mereka, tapi karena kebodohan dan kecerobohanku. Saat itu, aku berpura-pura menjebak Tuan Sean agar dia menikahiku, dan aku melakukan itu karena panti asuhan tempatku dibesarkan mengalami kesulitan keuangan."
Bunga menghela napas, seakan ingin membuang rasa sesak di dada, lalu melanjutkan kisahnya kembali.
"Tuan Sean begitu marah padaku, hingga akhirnya dia merenggut kesucianku. Setelah itu, aku pergi dari rumah mereka karena tidak ingin situasinya kian rumit, tanpa mereka tahu, kesalahan satu malam itu telah menghadirkan Alea. Dua tahun kemudian, aku kembali bertemu dengan Tuan Sean, dan Nyonya Mauren memintaku tinggal bersama mereka. Tapi percayalah dokter, kalau Tuan Sean itu sama sekali tidak pernah mencintaiku. Di sini, posisi saya lah yang saya salah karena saya bukanlah wanita baik-baik, Dokter. Jadi, tolong pikirkan kembali niat anda untuk menikahi saya."
Bunga melempar pandangan dari Billy yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan datar. Namun, detik selanjutnya, jemarinya digenggam hangat oleh laki-laki itu.
"Lihat aku, Bunga," sahut Billy sambil memegang dagu Bunga, mencari manik mata hitamnya yang kini sudah berkabut. Sebenarnya, Billy pun masih syok mendengar penuturan Bunga, akan tetapi, dia tetap berusaha tenang dan terlihat baik-baik saja di depan wanita itu.
Bily juga mencoba menarik benang merah dari semua kejadian yang telah terjadi, mulai dari pertemuan pertamanya dengan Bunga, orang jahat yang hendak meracuni Bunga ketika di rumah sakit dan juga kecelakaan yang dialami oleh Bunga. Dan bagi Billy, tidak menutup kemungkinan semua ini ada hubungannya dengan keluarganya.
"Dengarkan aku Bunga, aku tidak pernah peduli siapapun itu ayah kandung dari Alea, dan bagaimana masa lalumu. Jika ayah kandung Alea adalah Kak Sean, bagiku itu hanyalah sebuah kebetulan semata. Dan aku pun tidak pernah peduli bagaimana masa lalu kalian."
Mendengar perkataan Billy, tentu saja Bunga merasa tertegun, dia pun menoleh pada laki-laki itu yang tampak sedang menatap Bunga dengan tatapan begitu hangat
"Bunga, bagiku pertemuanmu dengan keluarga kakakku adalah salah satu jalan agar kita dipertemukan. Semua yang terjadi, sudah mengalir sesuai skenario kehidupan dari Sang Pencipta. Dan semua ini, tidak ada yang perlu disesali. Kau juga tidak perlu merasa rendah diri karena di mataku, kau adalah Bunga, satu-satunya wanita yang kucintai."
"Tapi dokter..."
Billy menempelkan telunjuknya di bibir Bunga. "Tidak ada tapi-tapian Bunga, bagiku masa lalu hanyalah sebatas kenangan saja, sedangkan yang akan kita lalui adalah masa depan, masa depan yang akan kita lalui bersama anak-anak kita. Tutup masa lalu kelammu, dan hiduplah denganku. Aku tahu, dengan apa yang telah kita lalui, pasti awalnya pernikahan ini tidak mudah. Akan tetapi, aku janji akan berusaha untuk membahagiakanmu. Kau mau kan menemaniku berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan itu?"
Billy menatap Bunga dengan tatapan sendu, seolah meminta persetujuan dari wanita itu yang kini juga menatapnya disertai mata yang sudah tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bunga, tolong percaya padaku, dan berikan aku kesempatan. Apa kau tidak kasihan padaku? Kasihanilah dokter jomblo ini, aku juga pingin punya istri Bunga, kan cape tidur sendirian terus. Hahahahahaha..." ledek Billy di akhir kalimatnya, hingga membuat Bunga ikut tertawa.
Mendengar tawa nyaring Bunga, serta raut wajahnya yang sudah berubah ceria, Billy pun gegas menggenggam jemari tangan Bunga, hingga membuat tawa Bunga terhenti.
"Kita nikah ya?"
Tanpa ragu, Bunga pun mengangguk sembari menyunggingkan senyum tipisnya.
"Terima kasih, Bunga. Kalau begitu, kita akan menikah secepatnya."
"Tapi, masa idahku masih lama, Dokter."
Billy pun mengerutkan keningnya. "Memangnya, masih berapa lama?"
"Lama sekali," gerutu Billy. "Tapi, tak apa, anggap saja sambil menunggu sampai kau sembuh."
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih sudah mau jatuh cinta padaku, terima kasih sudah mau menungguku, dan terima kasih atas semua yang kamu berikan, Dokter Billy," ucap Bunga dengan senyumnya yang terlihat begitu manis, hingga membuat Billy merasa gemas. Laki-laki itu pun terkekeh setelah mendengar perkataan Bunga.
"Kenapa dokter malah tertawa seperti itu?"
"Terima kasih yang kau ucapkan banyak sekali, aku sampai lelah mendengarnya. Lalu, sampai kapan kau mau memanggilku dengan sebutan dokter? Bukankah sebentar lagi kau menjadi istriku?"
"Tapi, bukankah kau memang seorang dokter?"
"Sekaligus calon suamimu," timpal Billy. "Jadi, panggil aku Mas Suami. Hahahaha..."
__ADS_1
"Panggilan yang aneh, sama sepertimu."
"Mentang-mentang kau calon istriku, jadi kau sudah berani mengejekku, Bunga?"
"Memangnya kenapa? Kalau kau protes, aku tinggal membatalkan pernikahan kita. Mudah saja kan? Hahahahaha..."
"Jadi kau mau meledekku?"
"Ya, memangnya kau bisa apa tanpaku, Dokter? Pasti hidupmu kesepian tanpaku, iya kan? Hahahaha..."
"Bunga..."
"Wekkkk..."
***
Siangnya...
Pintu kamar perawatan Bunga tampak terbuka, Bunga yang sedang memejamkan mata, refleks membuka matanya saat mendengar handle pintu yang terbuka. Saat Bunga melihat ke arah pintu, tampak 2 orang wanita berjalan ke arahnya.
Melihat dua sosok itu, Bunga pun merasa begitu terkejut, sekaligus juga cemas, apalagi saat itu Billy sedang memeriksa pasien di ruangannya. Dia tidak ingin mengganggu Billy yang sedang bekerja.
Akan tetapi, rasa cemas itu sirna tatkala melihat salah seorang wanita tersebut, kini mulai berlutut di samping brankarnya. Apa lagi, wanita itu kini tampak terisak.
"Bunga, tolong aku. Tolong lepaskan Billy untukku, karena saat ini aku sedang mengandung darah daging Billy."
__ADS_1