
"Bunga, kau kenapa?" tanya Mauren panik. "Kak, dia sebenarnya siapa?" Laki-laki tampan yang ada di samping Mauren menatap Bunga dengan tatapan penuh tanda tanya. "Nanti kakak ceritakan. Bunga, apa yang terjadi, kenapa kau tiba-tiba berteriak? Kau tadi bilang apa, gila?" tanya Mauren kembali.
Bunga hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Awalnya, dia memang berniat untuk berpura-pura gila, tetapi saat melihat ada laki-laki tampan di samping Mauren, Bunga mengurungkan niatnya. Tentunya, dia tidak mau merendahkan harga dirinya, lebih tepatnya harga diri yang sebenarnya sudah jatuh sejak dia memutuskna untuk menjebak laki-laki tak berdosa.
"Bunga..." panggil Mauren kembali. Bunga pun hanya meringis. "Aku tidak apa-apa," sahutnya. Tentunya jawaban Bunga tak membuat Mauren yakin. "Lebih baik, sekarang kau istirahat saja, ayo berdiri! Billy, tolong bantu Bunga!" Laki-laki yang ada di samping Mauren pun patuh mengikuti perintah kakaknya, dia membantu Bunga berdiri, lalu memapah gadis itu menuju ranjang. Tentu saja, hal tersebut membuat Bunga salah tingkah. Jantungnya berdegup kian kencang, saat kulitnya bersentuhan dengan laki-laki itu. Apalagi, wangi maskulin yang keluar dari tubuh itu, membuat debaran di jantungnya terasa semakin kencang.
"Ah, sepertinya aku salah menjebak orang, seharusnya yang kujebak pria tampan ini saja. Sepertinya dia juga belum memiliki istri. Aku benar-benar bodoh, dan ceroboh! Nyonya, maafkan aku, kedatanganku menjadi musibah bagimu. Ya, akulah si pembawa musibah itu," batin Bunga. Raut wajahnya begitu murung menyesali perbuatannga sendiri. Tetapi, Mauren menangkap hal itu sebagai sebuah tekanan mental akibat perbuatan suaminya.
"Jangan sedih, Bunga. Aku tahu, ini pasti bukan hal yang mudah bagimu. Sekarang tenangkan dirimu terlebih dulu, besok akan kujadwalkan kau untuk memeriksakan kejiwaanmu pada seorang psikolog."
"APA?" Sontak Bunga pun berteriak mendengar kata kejiwaan. Hal itu, justru membuat Mauren cemas. "Lihat Billy, sepertinya dia sangat terpukul."
"Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi, Kak? Apa dia gila?"
"AAAAA... TIDAK!" teriak Bunga, tetapi dihiraukan begitu saja oleh Mauren, karena baginya saat ini Bunga sedang mengalami tekanan mental, jadi teriakan yang terlontar dari mulut Bunga, tidak dihiraukan oleh wanita itu, dan justru balas menatapnya dengan sorot mata memelas.
"Nyonya, dengarkan aku. Sebenarnya, aku tidak mendapat pelecehan, jadi lebih baik saya pulang saja," cerocos Bunga. Namun, lagi-lagi Mauren tak mengindahkan perkataannya, malah semakin menatap iba padanya. "Billy, lihatlah sepertinya dia sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa dirinya. Tolong kau jaga dia sebentar, aku akan menelepon dokter."
__ADS_1
"Iya Kak," angguk Billy, lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang, saat Mauren keluar dari kamar. Bunga yang didekati laki-laki tampan yang menjadi idamannya, tampak begitu salah tingkah. Dia meringis, sambil memainkan telunjuknya.
"Buah belimbing, buah kedondong. Abang, senyum dong," lirih Bunga, wajahnya tampak menunduk malu. "Sepertinya kau memang mengalami gangguan kejiwaan," sahut Billy iba. Sontak perkataan Billy pun membuat bola mata Bunga membelalak lebar. "Enak saja kau menyebutku gila," sangkal Bunga dengan raut wajah cemberut, rasanya sia-sia dia merayu Billy.
"Hmmm... Memang tidak ada orang gila yang mengakui dirinya gila, itu wajar." Billy menyahut dengan tatapan miris, seketika emosi Bunga pun memuncak. "Siapa yang gila? Aku bukan orang gila, ya memang aku telah melakukan kegilaan, tapi aku bukan orang gilaaaa!" Sikap Bunga yang tiba-tiba berteriak padanya, tentu saja membuat Billy kaget.
"Orang gila memang sangat menakutkan," gumamnya. Hal itu membuat Bunga semakin kesal. "Percuma saja menerangkan pada alien sepertimu. Buat apa punya wajah yang tampan tapi bodoh, enak saja wanita kece kaya Han So-hee gini dibilang gila. Idih, lu aja keleus!" balas Bunga sambil menyibak rambutnya ke belakang bahu.
"Ah, dia memang gila. Kasihan sekali, mana masih muda. Ck, ck, ck..." Bunga yang semakin kesal mendengar penuturan Billy akhirnya memilih diam, merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya. Saat ini, tubuhnya memang sudah begitu lelah setelah mengalami kejadian yang begitu luar biasa, akibat perbuatannya sendiri.
Tak berapa lama, dengkuran lirih terdengar dari bibir gadis itu. Melihat Bunga yang mulai terlelap, Billy pun terkekeh. "Dasar gadis aneh, kasihan sekali, masih muda sudah mengalami gangguan kejiwaan. Tapi, siapa dia?" gumam Billy, bersamaan dengan Mauren yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.
"Kak, dia siapa?" tanya Billy kembali. "O-oh, dia Ijem. Pembantu baru di sini, kamu tahu kan kakak sedang hamil. Jadi, Sean sengaja menambah pembantu di rumah ini," dusta Mauren.
"Oh jadi dia pembantu baru? Tapi kenapa dia berlagak seperti orang gila, Kak?"
"Oh, itu karena saat dalam perjalanan ke rumah ini, dia mengalami pelecehan. Jadi, dia mengalami sedikit goncangan mental." Billy tampak menganggukan kepalanya, sedangkan Mauren hanya bisa membatin di dalam hati, meminta maaf karena sudah berbohong.
__ADS_1
"Tuhan, ampuni aku. Bunga, maafkan aku sudah berbohong seperti ini. Aku janji saat tiba waktu yang tepat, aku pasti akan membuka jati dirimu yang sebenarnya," batin Mauren. "Billy, sebaiknya kita keluar dulu. Biarkan Bunga beristirahat, aku sudah bicara dengan psikolog, besok dia baru bisa datang ke rumah ini. Sebaiknya, kita biarkan dia beristirahat terlebih dulu."
"Iya Kak," sahut Billy, keduanya kemudian keluar dari kamar Bunga.
***
Entah berapa lama Bunga tertidur, saat dia membuka matanya, tampak di luar jendela sudah gelap. "Oh ternyata sudah malam, aku memang sangat lelah, sampai tak sadar sudah tidur begitu lama. Tapi, eh dimana laki-laki tampan reseh itu? Ah, kenapa aku jadi mikirin dia? Bunga, ayo kembali waras... Uhuk, uhuk." Saat masih bergumam, tiba-tiba kerongkongan Bunga terasa begitu kering.
"Haus sekali, lebih baik aku ambil minum di luar saja. Sekarang sudah pukul dua belas malam, pasti orang-orang di rumah ini sudah tidur." Bunga kemudian bangkit dari atas ranjang, lalu berjalan ke arah pintu. Namun, saat pintu itu baru terbuka, Bunga dikagetkan dengan sosok Sean yang sudah berdiri di depannya. Sontak, Bunga pun begitu terkejut, sekaligus takut melihat sorot mata Sean yang memerah. Tak hanya itu, bau alkohol pun terasa begitu menyengat dari tubuh laki-laki itu.
"Kau mau kemana pembohong?"
"E-emh Tuan. Sa-saya. .."
"Dasar pembohong tidak tahu diri! Kau memang wanita bodoh yang tidak punya harga diri, apa kau tahu bohong itu dosa? Bagaimana kalau kebohonganmu pada semua orang kuwujudkan saja sekarang, jadi kau tak perlu berdusta lagi kan?"
"A-apa maksud, Tuan?"
__ADS_1
"Hahahhahaha... Katamu, aku sudah menyentuhmu kan? Kalau begitu, kuwujudkan kata-katamu sekarang. Hahahahaha..."