
Sementara itu, di dalam ruang perawatan Alea, Bunga tampak begitu bahagia saat melihat Billy yang masuk ke dalam ruangan itu. Hari sudah sore, dan dia baru melihat sosoknya. Padahal, sejak tadi dia sudah menanti. Lebih tepatnya, sejak tadi malam setelah Billy pergi meninggalkan ruang tersebut, ada sebuah rasa tidak rela dan rindu sebelum laki-laki itu pergi meninggalkannya.
Tetapi, Bunga menampik segala rasa itu, dia pun cukup sadar diri jika dirinya tak pantas merindukan laki-laki yang saat ini berdiri di hadapannya sambil tersenyum simpul hingga membuatnya terpana.
"Bunga!" panggil Billy. Lamunan Bunga pun tersentak.
"Oh iya, Dok."
"Kamu kenapa, Bunga?"
"Emh, tidak apa-apa. Aku cuma kaget tiba-tiba dokter Billy datang." Billy pun tersenyum mendengar perkataan Bunga.
"Bagaimana keadaan Alea?"
"Sudah jauh lebih baik, kata dokter yang memeriksa Alea tadi siang, mungkin besok sudah diijinkan pulang."
"Syukurlah kalau begitu. Emh Bunga, kalau boleh tahu, alamatmu di mana? Biar besok ku antarkan saja."
Bunga pun hanya bisa terdiam mendengar perkataan Billy, dia tidak tahu harus menjawab apa. Kemarin, setelah pergi dari gubuk kecilnya, Bunga memang berniat pindah ke luar kota agar tidak bertemu dengan Sean kembali. Entah mengapa, setelah bertemu dengan Sean, ada ketakutan begitu besar pada dirinya. Tetapi sayangnya, tiba-tiba Alea sakit, sehingga Alea harus mendapatkan perawatan terlebih dulu di rumah sakit.
"Bunga, kenapa kamu diam? Alamat kamu di mana? Biar besok kuantarkan kamu pulang ke rumah."
"Emh, sebenarnya kemarin aku sedang mencari tempat tinggal baru dengan Alea. Tetapi, di jalan tiba-tiba Alea sakit, jadi aku membawanya ke rumah sakit ini terlebih dulu."
Billy tertegun mendengar jawaban Bunga, dia tak menyangka jika saat ini ternyata wanita itu tidak memiliki tempat tinggal. "Jadi, kau sedang mencari tempat tinggal? Biar kubantu carikan, sebentar kuhubungi temanku. Barang kali, dia masih memiliki rumah kosong yang disewakan."
__ADS_1
"Jangan Dok, pasti harganya mahal. Aku pasti tidak bisa membayar kontrakkan itu. Lebih baik, aku mencari kost-kostan saja."
"Kau tenang saja, Bunga. Tidak usah kau pikirkan."
"Tapi Dok..."
"Bunga, tolong menurut padaku. Kalau tidak, aku tak mau merawat putrimu lagi." Bunga pun diam, memilih menuruti perkataan Billy, meskipun di dalam hatinya dia merasa sungkan.
***
Sementara itu, di luar ruang perawatan, tampak Sean mendekat pada Mauren yang sedang mengintip dari celah jendela. Dia pun tahu, di dalam Billy sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita yang sedang mendampingi putrinya. Namun, dia tak tahu siapa wanita tersebut, karena posisi wanita itu membelakanginya.
"Mauren!" panggil Sean. Reflek, Mauren pun membalikkan tubuhnya dan melihat sosok suaminya sudah berdiri di belakangnya. "Mas?" ujar Mauren disertai kening yang berkerut.
"Kamu sedang apa di sini, Sayang?"
"Oh, emh aku baru saja menengok rekan bisnisku. Lalu, aku melihatnu berjalan ke ruangan ini. Jadi, kuikuti saja kau sampai ke sini. Memangnya, apa yang sedang kau lakukan di sini?"
Mauren pun tampak bingung, tidak mungkin jika dia harus menjawab kalau saat ini dia curiga pada Billy karena Billy telah membuka luka lamanya. Apalagi, luka itu ada hubungannya dengan suaminya.
"Sayang kamu kenapa kok malah diem gitu?"
"Oh, tadi aku sedang mencari Billy. Lalu, kulihat Billy masuk ke dalam ruangan ini."
"Mencari Billy? Memangnya ada perlu apa, Sayang?"
__ADS_1
"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya tentang hasil tes kesehatan Papa dan Mama pada Billy."
"Hanya itu? Bukankah kau bisa meneleponnya? Lebih baik kau tidak usah mengganggu Billy bekerja. Situasinya tidak terlalu mendesak kan?"
Mauren menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, lebih baik kita pulang sekarang. Ini sudah sore, aku juga sudah kangen dengan Zico." Mauren pun mengangguk, sebenarnya dia masih ingin mencari tahu apa yang telah terjadi. Tetapi, tentunya hal tersebut akan membuat Sean curiga.
Sean menggandeng Mauren keluar dari rumah sakit, untuk pulang ke rumah mereka. Hatinya terasa begitu lega, karena Mauren mengurungkan niatnya masuk ke kamar perawatan Bunga, yang tentunya akan membuka rahasianya. Meskipun, ketika dalam perjalanan, Mauren hanya terdiam, larut dalam pikirannya sendiri. Sesekali, Sean melirik pada Mauren yang menatap ke arah depan dengan tatapan datar tanpa arti.
"Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Mauren? Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu?" batin Sean. Tetapi dia mencoba berpikir positif dan menampik firasat buruk yang tiba-tiba datang merasukinya.
Malamnya, Mauren tak bisa tidur. Entah mengapa, sikap Billy tadi siang benar-benar mengganggu ketentraman hatinya. Dia pun melirik pada Sean yang saat ini sudah terlelap disertai dengkuran harus yang keluar dari bibirnya.
"Sepertinya dia sudah nyenyak. Bagaimana kalau aku pergi ke rumah sakit saja sekarang? Ya sepertinya aku harus memastikan siapa sebenarnya wanita yang ditemui oleh Billy. Mustahil jika itu hanya sekedar pasien biasa, karena Billy tidak menggunakan sneli di tubuhnya," gumam Mauren. Gegas, dia beranjak dari atas ranjang lalu pergi ke rumah sakit.
Tak berapa lama, Mauren pun sudah sampai di rumah sakit tersebut. Meskipun, dilanda perasaan yang begitu berkecamuk di dalam dada, antara rasa takut dan cemas, Mauren dengan langkah cepat menuju ke ruang perawatan tempat Billy menemui seorang wanita tadi sore. Dengan meneguhkan hatinya, ketika dia berdiri di depan pintu ruang perawatan itu, Mauren pun mengetuk pintu tersebut.
TOK TOK TOK
Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu ruang perawatan itu pun terbuka.
CEKLEK
Saat melihat sosok yang ada di depannya, Mauren pun tampak begitu terkejut. Spontan, tangannya menutup kedua mulutnya seraya memundurkan langkah kakinya.
"Kau?" lirihnya disertai bibir yang bergetar, tubuhnya pun seakan dialiri arus listrik. Belum hilang rasa terkejutnya, di saat yang bersamaan terdengar suara seorang balita perempuan yang menangis dari dalam ruang perawatan tersebut.
__ADS_1
"Ada bayi? Siapa dia? Apa dia anak Sean?"