
"Sampai bertemu besok, Bunga," ujar Billy saat dia mengantarkan Bunga pulang ke rumah kakaknya.
"Sampai bertemu besok? Apa kita akan bertemu lagi besok, Dokter?" balas Bunga.
"Jadi kau tidak mau bertemu denganku?" Bunga pun hanya meringis disertai binar bahagia di wajahnya.
"Kenapa kau diam? Apa besok kau tidak ingin bertemu denganku?" Bunga pun hanya menggelengkan kepalanya dengan begitu cepat.
"Jadi, besok kau mau kan bertemu denganku lagi? Bunga pun mengangguk dengan anggukan yang begitu cepat pula. Tingkahnya itu, tentu saja membuat Billy tertawa terbahak-bahak. Apalagi, wajah Bunga memang terlihat childish, hingga membuat laki-laki itu merasa semakin gemas. Spontan, dia pun mencubit kedua pipi bunga.
"Dasar Himawari!"
"Siapa itu Himawari?"
"Jadi, kau tidak tahu siapa itu Himawari?"
Bunga pun menggelengkan kepalanya. "Himawari itu adiknya Sinchan! Huh, begitu saja tidak tahu!"
"Kalau aku adiknya Sinchan, lantas kau siapa? Marsupilami?"
"Enak saja, mana ada Marsupilami setampan diriku?"
"Himawari juga tidak secantik diriku!"
"Lantas kau mirip siapa?"
"Yoona..."
"Hahaha... Yoona, siapa dia? Apa dia adiknya Yuni?"
"Bukan gitu konsepnya, Dokter Billy. Mereka nggak mungkin bersaudara karena Yoona aja nggak kenal sama Yuni!"
"Terus, jadi gimana?"
__ADS_1
"Emh, pokoknya aku cantik seperti artis Korea." Billy pun mengangkat kedua matanya seraya mengerutkan keningnya.
"Kenapa raut wajahmu seperti itu, Dokter Billy?"
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Bukankah aku tampan?"
"Tidak, karena kau terlihat seperti sedang mengejekku!" sungut Bunga.
Billy pun terkekeh, lagi-lagi wajah Bunga kembali membuatnya merasa gemas. Bahkan ingin rasanya dia mengecup pipi wanita itu. "Aku tidak sedang mengejekmu. Hanya sedang memikirkan seperti apa itu Yoona? Ngomong-ngomong bentuknya itu gimana sih?"
"Dasar kudet! Artis terkenal saja tidak tahu," gerutu Bunga. Wanita itu tampak mengerucutkan bibirnya.
"Maaf Bunga, seleraku bukan drama Korea. Jadi, aku tidak tahu siapa itu nama yang kau katakan, yang aku tahu hanya Bunga si Himawari. Ahhahahaha..."
"Sudah Dok, aku lelah berdebat denganmu, Dokter. Terlalu lama berdebat denganmu, bisa-bisa kecantikanku memudar. Ya sudah, kalau begitu aku turun dulu. Kita sudah pergi terlalu lama, aku tidak enak kalau tidak membantu Bi Arni mengerjakan pekerjaan rumah."
"Baiklah sampai bertemu besok, Himawari!" ujar Billy sambil mengacak rambut Bunga.
"Sampai bertemu besok juga Marsupilami."
"Ada apa?"
"Ini untukmu," ujar Billy sambil memberikan beberapa buah paper bag pada Bunga. Wanita itu pun tampak mengerutkan keningnya. "Ini untukku?"
"Iya."
"Tidak usah repot-repot seperti ini, Dokter Billy."
"Sudah terima saja dan jangan banyak protes. Kalau tidak mau, aku akan memanggilmu Himawari sepanjang hidupku!" Bunga pun hanya menatap Billy dengan tatapan yang sulit diterka.
"Kenapa kau diam? Sudah terima saja!"
"Kau memang pemaksa, Dokter. Baiklah aku terima. Emh, terima kasih banyak."
__ADS_1
"Sama-sama," jawab Billy. Bunga lalu turun dari mobil laki-laki itu seraya membawa beberapa buah paper bag di tangannya. Sedangkan di dalam mobil, mata Billy tampak mengekor sosok Bunga, sampai dia tak lagi terlihat.
"Sampai bertemu besok, Himawari. Katamu kau mirip Siapa? Yoona? Tidak, kau tidak mirip dengannya tetapi kau jauh lebih cantik darinya."
Melihat penampilan Bunga yang tampak berbeda disertai belanjaan di tangannya, Bi Arni pun merasa heran. Apalagi, saat melihat Alea yang saat ini sedang tertidur di atas stroller barunya. Tetapi, walaupun merasakan ada yang berbeda pada diri Bunga, Bi Arni tidak menanyakan hal tersebut pada wanita itu, karena dia tidak ingin bertanya tentang privasi orang. Kecuali, jika orang tersebut yang menceritakan terlebih dulu padanya. Dia pun memilih untuk memendamnya di dalam hati, dan tetap menyapa Bunga dengan ramah.
"Selamat sore, Bunga. Kau terlihat bahagia sekali."
"Emh iya Bi, salah seorang temanku mengajakku pergi berjalan-jalan, sekaligus memberikan belanjaan seperti ini. Dia juga mengajakku pergi ke salon dan memberikan stroller untuk Alea."
"Wah, kau beruntung sekali punya teman seperti dia, Bunga." Bunga pun mengangguk seraya mengingat Billy. Tiba-tiba, bayangan laki-laki itu terlintas begitu saja dalam benaknya hingga membuat senyum manis tercetak di bibir mungilnya.
"Ya sudah kalau begitu, lebih baik kau istirahat saja di kamar."
"Iya Bi, terima kasih," jawab Bunga. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya, sementara Bi Arni kembali mengepel rumah tersebut. Tak berapa lama, tiba-tiba Mauren pulang.
"Selamat sore, Nyonya Mauren."
"Selamat sore, Bi."
"Maaf Nyonya, kenapa Nyonya tidak mengatakan kalau Nyonya akan pulang? Hari ini, saya tidak memasak apapun, Nyonya."
"Oh tidak apa-apa, aku cuma ingin mengambil barang Zico yang tertinggal. Nanti malam aku masih menginap di rumah Papa dan Mama."
"Oh baik, Nyonya."
"Bagaimana dengan Bunga?"
"Oh Bunga ada di kamarnya, Nyonya."
Mauren pun mengangguk. Di saat itulah, Bunga keluar dari kamarnya, berniat membuatkan susu untuk Alea yang baru saja terbangun.
"Nyonya Mauren anda sudah pulang?" sapa Bunga. Namun, bukannya membalas sapaan Bunga. Mauren hanya terdiam dan tampak terkejut saat melihat penampilan Bunga yang terlihat berbeda.
__ADS_1
"Kenapa Bunga terlihat cantik sekali?Kenapa tiba-tiba dia berpenampilan seperti ini? Wajahnya juga terlihat sangat segar. Apa benar yang dikatakan Mas Sean kalau Bunga sedang menggoda dirinya hingga dia merubah penampilannya seperti ini untuk menggoda suamiku?" batin Mauren.