
"Anda hamil?" tanya Bunga seraya mengerutkan keningnya. "Iya Bunga, saat ini aku sedang hamil darah daging Billy. Jadi, tolong kasihanilah aku, Bunga."
"Benarkah? Apakah anda benar-benar hamil. darah daging Dokter Billy?"
"Jadi kau tidak percaya padaku?" sahut Erina yang mulai emosi dengan jawaban Bunga. Melihat sikap Erina, Bunga pun terkekeh.
"Maaf Nona Erina, kalau anda ingin meminta pertanggung jawaban, jangan padaku. Tapi pada Dokter Billy, dan kehamilan anda itu, sama sekali bukan urusanku."
"Tapi karena dirimu lah Billy menjauh dariku. Apa kau tidak sadar kalau kau adalah seorang pelakor! Enteng sekali kau berkata seperti itu."
"Benarkah? Memangnya kapan aku merebut Dokter Billy darimu? Bukankah saat kami mulai jalan bersama kau sudah putus dengannya? Lalu, kenapa kau harus mengadukan kehamilanmu padaku? Kenapa kau tidak langsung meminta pertanggung jawaban pada Dokter Billy? Mumpung kau ada di sini, bagaimana kalau kuberitahu saja kalau kau ada di sini?"
Erina pun menatap Bunga dengan tatapan nanar. Tentunya, dia merasa kesal jika sikap Bunga sangat jauh dari yang dia harapkan. Dia pikir Bunga akan merasa iba padanya, nyatanya tidak. Wanita itu bahkan terlihat seolah sedang menantangnya. Melihat Erina yang kini mulai terdiam, Mauren pun mulai membuka suaranya.
"Bunga, kenapa kau malah berkata seperti itu? Apa kau tidak memiliki rasa empati sedikit pun pada Erina? Apa kau tega hidup bahagia di atas penderitaan orang lain? Apa kau tega melihat anak yang dikandung Erina tidak punya ayah?"
"Bukan seperti itu Nyonya Mauren, saya pun sangat berempati pada Nona Erina. Akan tetapi, tentang tanggung jawab, itu di luar kemampuan saya. Saya tidak bisa memutuskan apapun karena itu adalah masalah pribadi antara Dokter Billy dan Nona Erina. Kalau Dokter Billy mau bertanggung jawab dengan Nona Erina, silahkan saja, saya tentu akan menjauh dari Dokter Billy."
__ADS_1
"Jadi, kau mau menjauh dari hidup Billy kan?" sahut Erina.
"Tentu saja, dan silahkan lanjutkan masalah ini dengan Dokter Billy."
"Tapi sebelumnya kau kuga harus pergi, Bunga! Hari ini juga kau harus pergi dari kehidupan kami!"
Bunga pun mengerutkan keningnya. "Harus pergi sekarang juga? Apa maksud anda, Nona? Apa anda tidak lihat kalau saya sedang sakit? Bagaimana saya bisa pergi dari kehidupan kalian? Kenapa anda harus mengusir saya pergi dari sini?"
"Bunga, tolong jangan keras kepala, kalau kau mau, kami bisa membantumu untuk pindah rumah sakit. Tolong menjauhlah dari kehidupan Billy, dan tolong rujuklah dengan suamiku kembali!" sambung Mauren. Bunga pun menoleh pada Mauren.
"Nyonya, apa anda sadar dengan apa yang anda katakan? Anda menyuruh saya untuk kembali pada suami anda? Permintaan macam apa ini? Pikirkan lah kembali permintaan anda, Nyonya. Lagi pula bukankah anda tahu jika Tuan Sean tidak pernah mencintai saya, untuk apa saya rujuk dengan Tuan Sean?"
"Kebahagiaan adik anda? Benarkah itu, Nyonya? Apa anda pikir Dokter Billy bahagia hidup bersama Nona Erina? Saya sudah tahu semuanya, Nyonya. Dokter Billy terpaksa menjalani pertunangan itu hanya untuk membahagiakan orang tua kalian saja kan? Bagaimana anda bisa mengatakan kebahagiaan Dokter Billy jika selama dua tahun pertunangan itu saja, dia merasa tertekan dan akhirnya menyerah dan memutuskan pertunangan itu."
"Kau lancang sekali, Bunga! Jadi kau mengatakan Billy tidak bahagia denganku kan?"
Bunga pun tersenyum kecut. " Bukankah yang kukatakan kenyataan yang sebenarnya, Nona Erina? Saat menjalani pertunangan denganmu bukankah dokter Billy masih mencintai Alexa? Jika dia benar-benar bahagia dengan pertunangan kalian, Dokter Billy tidak akan memutuskan pertunangan itu kan? Lalu untuk apa dia sampai menjauh ke rumah sakit ini kalau tidak ingin menghindar darimu?"
__ADS_1
Mendengar perkataan Bunga, Erina pun tak dapat lagi membendung emosinya.
"Kau lancang sekali Bunga, kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan kami dan bagaimana hangatnya hubunganku dengan Billy sampai akhirnya kau datang dan merenggut semuanya. Lalu kenapa kau sampai menyebut nama Alexa! Tahu apa kau tentang Alexa hah? Padahal aku sudah bersusah payah melenyapkan Alexa dari dunia ini. Jadi kau sudah tidak usah menyebut-nyebut nama wanita itu lagi!" geram Erina dengan begitu menggebu.
Mendengar pancingan Bunga yang sebenarnya sedang membangkitkan emosinya, wanita itu bahkan tak menyadari jika dia telah membuka rahasia terbesar dalam hidupnya yang sudah lima tahun terakhir dia simpan dengan begitu rapat.
Perkataan Erina tersebut, tentunya membuat Bunga dan Mauren terkejut, terlebih Mauren. Wanita itu tidak menyangka jika Erina lah yang telah membuat Alexa meninggal, seketika rasa sayang yang ada di dalam hati Mauren pun hilang begitu saja manakala tahu jika wanita yang selama ini sangat dia harapkan untuk menjadi adik iparnya adalah seorang pembunuh.
Tak hanya Mauren, Bunga pun juga tertegun mendengar perkataan Erina, dia tak menyangka jika wanita seanggun Erina mampu berbuat kejam pada orang lain.
Bunga juga tidak menyangka jika perkataannya itu membuat Erina terpancing hingga wanita itu membuka rahasianya sendiri. Sedangkan Erina baru mulai menyadari kebodohannya saat melihat tatapan tak biasa dari Mauren dan Bunga.
Seketika dia pun segera meralat kata-katanya. "Emh, begini maksudnya. Te-tentang Alexa..."
"Cukup Erina, kau tidak usah menyangkal lagi. Sebenarnya aku sudah lama curiga padamu, dan sekarang hal itu terbukti kan? Kau memang sudah membunuh Alexa bukan!" sahut sebuah suara yang berasal dari pintu kamar perawatan Bunga.
Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Erina pun menoleh pada seorang laki-laki yang saat ini menatap dirinya dengan tatapan begitu tajam disertai kabut amarah yang tampak begitu menggebu.
__ADS_1
"Oh tidak..."