Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Tentang Bunga


__ADS_3

Billy masuk ke dalam ruang perawatan Alea, lalu mendekat ke arah Bunga yang saat ini sedang duduk di samping brankar putrinya. "Ini makanan untukmu, maaf tadi sudah menjatuhkan makananmu," ujar Billy sambil memberikan satu kantong plastik makanan pada Bunga.


Bunga pun mendongakkan kepalanya, lalu menatap Billy dengan tatapan datar. "Kenapa? Ambil saja!" Terpaksa, Bunga pun menerima makanan tersebut. Dia merasa tak enak hati jika tidak menerima pemberian dari Billy.


"Terima kasih, Dokter," sahut Bunga. Billy pun mengangguk sambil mengulas senyum tipisnya. "Makanlah!" perintah Billy saat melihat Bunga yang hanya bisa menatap makanan itu.


"Lalu, bagaimana dengan anda, Dok?"


"Aku sudah makan, kau saja yang makan biar aku yang menjaga putrimu," tambah Billy.


"Terima kasih banyak, Dokter. Anda begitu baik pada kami." Billy hanya tersenyum simpul. Detik berikutnya, Bunga tampak menyantap makanan yang diberikan oleh Billy dengan lahap. Sesekali Billy melirik pada wanita itu, wanita cantik yang keadaannya saat ini terlihat menyedihkan. Bahkan, tubuhnya begitu kurus. Dan, yang membuat Billy merasa ada sebuah daya tarik baginya adalah saat melihat tatapan mata Bunga yang terlihat begitu sayu. Mata itu tak lagi berbinar dan bersemangat, seperti saat mereka pertama kali bertemu.


"Dokter, kenapa anda tidak pulang?Bukankah ini sudah malam?" ujar Bunga setelah selesai menyelesaikan makan malamnya. "Iya, sebentar lagi aku pulang kau sudah selesai makan kan?" Bunga pun mengangguk. "Kalau begitu, aku permisi pulang dulu sampai bertemu besok, aku yakin putrimu pasti akan sembuh secepatnya."


"Iya dokter, terima kasih banyak." Billy kemudian meninggalkan ruang perawatan tersebut, meninggalkan Bunga yang masih menatap kepergiannya sampai tak lagi terlihat di balik pintu. "Sampai bertemu hari esok? Kenapa hari esok itu terasa sangat lama? Padahal, dia baru saja pergi, tapi aku ingin dia kembali." Senyum pun terukir di bibir tipis itu, sebuah senyuman disertai rasa sesak di dada.

__ADS_1


***


Keesokan Harinya...


Billy tampak berjalan dengan begitu bersemangat menuju ke ruang laboratorium, saat diberitahu jika hasil tes dari sample makanan yang dibawa olehnya sudah keluar.


"Bagaimana hasil tesnya?" tanya Billy pada salah seorang petugas laboratorium.


"Ini hasilnya, Dok. Di dalam makanan tersebut memang ada senyawa arsenik yang sangat berbahaya untuk dikonsumsi."


DEG


"Arsenik pada makanan itu? Lantas, apa makanan itu ditujukan pada Bunga? Kalau iya, lalu siapa yang melakukannya?" gumam Billy yang merasa tak habis pikir seorang gadis seperti Bunga ada yang tidak menyukainya, karena bagi Billy, wanita itu hanyalah seorang gadis miskin yang lemah.


"Lalu, apa tujuan orang tersebut menyakiti Bunga? Apa jangan-jangan orang yang sengaja ingin menyakiti bunga itu salah alamat?" Kerutan pun tercetak di kening Billy, disertai tonjolan otot halus yang di pelipisnya. "Apa sebenarnya yang terjadi? Hmm, untuk memastikan ini, lebih baik aku pergi ke ruang CCTV saja."

__ADS_1


Billy kemudian berjalan ke ruang CCTV untuk memastikan siapa laki-laki yang menaruh makanan beracun di depan kamar perawatan Alea.


"Bisakah kau menunjukkan padaku rekaman CCTV di depan ruang edelweis 5 pada pukul 09.30 malam?" tanya Billy pada petugas CCTV. Petugas itu pun mengangguk, lalu memperlihatkan video CCTV yang diminta oleh Billy. "Siapa laki-laki itu? Kenapa dia dengan sengaja meletakkan makanan beracun di depan kamar Bunga? Apa untungnya dia melakukan hal seperti itu pada gadis tidak berdaya seperti bunga?"


Billy mengusap wajahnya dengan kasar, detik itu juga, dia baru saja menyadari satu hal yang pernah terjadi pada masa lalu Bunga. "Apa kejadian ini, ada hubungannya dengan kejadian 2 tahun lalu saat bunga mengalami pelecehan? Bagaimana kalau sebaiknya aku tanyakan hal ini saja pada Kak Mauren? Hmmm, ya, mungkin sebaiknya aku menanyakan hal ini saja. Kalau begitu, aku pergi ke rumahnya sekarang juga."


Tak berapa lama Billy pun sudah sampai di rumah Sean dan Mauren. Saat turun dari mobil, Billy melihat kakaknya Mauren sedang menyirami tanaman. Di sampingnya, tampak putranya Zico yang saat ini sedang belajar berjalan dengan baby sitternya. Senyum pun tersungging di bibir Billy, entah kenapa melihat wajah Zico, rasanya keponakannya itu sangat mirip dengan Alea, pasiennya sekaligus putri dari Bunga.


Sebenarnya, laki-laki itu ingin mendekat pada Zico. Tetapi, dia mengurungkan niatnya karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada Mauren. Melihat kedatangan Billy, Mauren tersenyum simpul, meskipun hatinya dipenuhi tanda tanya mengapa adik kandungnya tiba-tiba datang ke rumahnya saat jam kerja. Sungguh, hal itu merupakan hal yang sangat tidak biasa dilakukan oleh Billy.


"Ada apa, Billy?" tanya Mauren saat Billy sudah berdiri di depannya. "Bisa kita bicara sebentar, Kak?"


"Tentu saja," balas Mauren lalu menyuruh Billy duduk di kursi yang ada di halaman rumahnya.


"Kak Mauren, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

__ADS_1


"Bertanya tentang apa?"


"Tentang Bunga. Kak Mauren masih ingat pada gadis itu kan? Bunga, wanita yang tiba-tiba menghilang begitu saja 2 tahun yang lalu."


__ADS_2