
"Pergi? Apa maksud anda Dokter Billy?" tanya Bunga disertai kening yang berkerut. Malam ini, Billy terlihat begitu aneh di matanya, apalagi dia belum menjawab pertanyaan darinya mengapa dia sampai babak belur seperti itu.
"Oh maaf, Bunga. Aku salah bicara."
"Lalu, mengapa wajah anda babak belur seperti itu, Dokter Billy? Apa suatu hal yang buruk terjadi pada anda?"
"Tidak Bunga, tadi aku terpleset di kamar mandi, dan tidak sengaja wajahku mengenai dinding. Jadinya, lebam seperti ini." Bunga pun mengangguk, tak curiga sama sekali jika saat ini Billy sedang berbohong, karena baginya laki-laki sebaik Billy, tidak mungkin memiliki seorang musuh.
Sedangkan Billy, tak mungkin mengatakan kalau wajahnya sampai babak telur seperti itu karena dihajar habis-habisan oleh ayahnya, Wisnu. Setelah memutuskan Erina, Billy masuk ke dalam rumah, berniat untuk menjelaskan mengapa dia mengambil keputusan itu pada kedua orang tuanya dan juga orang tua Erina. Akan tetapi, belum sempat Billy mengatakan semua itu, Erina sudah masuk sambil menangis, dan meminta kedua orang tuanya untuk pulang dari rumah tersebut.
Kedua orang tua Erina pun mengikuti permintaan Erina, mereka pergi dari rumah itu dengan perasaan kecewa, disertai tatapan penuh kebencian pada Billy yang sudah menyakiti hati putrinya. Setelah kepergian orang tua Erina, tampak Wisnu mendekat pada Billy dan menghajar putranya begitu saja tanpa memberinya kesempatan untuk bicara.
Setelah perseteruannya dengan orang tuanya, Billy memutuskan untuk hidup sendiri, dan pergi dari rumah tersebut. Karena dia yakin, orang tuanya akan sulit untuk memaafkan dirinya. Dan Billy, sudah siap dengan semua konsekuensi itu.
"Dokter!" panggil Bunga saat melihat Billy yang saat ini masih melamun, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Mendengar suara Bunga, lamunan Billy pun tersentak, dia menatap wanita itu kembali seraya tersenyum simpul, seolah ingin memperlihatkan jika hidupnya saat ini baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya tidak.
"Dokter Billy, anda baik-baik saja kan?"
"Iya Bunga, aku tidak apa-apa. Kalau begitu, lebih baik kau istirahat saja, kau pasti lelah kan menjaga Alea dengan tangan yang terluka?"
Bunga pun mengangguk. "Aku pulang dulu sampai bertemu besok."
__ADS_1
"Tunggu Dokter Billy, lalu ini apa?" tanya Bunga sebelum Billy melangkahkan kakinya pergi dari rumah tersebut.
"Kau buka saja nanti di dalam, aku pergi dulu, Bunga," pamit Billy, lalu pergi meninggalkan Bunga yang masih termenung sambil menatap kepergiannya. Sebenarnya, di dalam hati terdalam Bunga, dia masih ingin bertemu dengan Billy, tetapi tampaknya pria itu sudah begitu tergesa-gesa dan Bunga harus memahami hal tersebut, karena dia pun tidak memiliki hak apapun pada Billy.
"Ada apa sebenarnya dengan hatiku? Seharusnya aku tahu sampai di mana batasanku, tetapi kenapa aku tak pernah bisa menyadari itu? Lalu, apakah aku harus menghakimi kalbu? Hanya demi akal sehatku?" batin Bunga.
***
Sementara itu Sean yang baru saja sampai di rumah mertuanya tampak langsung masuk ke dalam rumah yang saat ini terlihat sudah sepi. Memang, semua orang yang ada di dalam rumah itu sudah masuk ke dalam kamar setelah kekacauan yang dilakukan oleh Billy.
Semua orang tampak gundah, begitu pula yang dirasakan oleh Mauren hingga mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Dia merasa cemas dengan kedua orang tuanya, setelah perseteruannya dengan Billy. Meskipun pada akhirnya setelah puas menghajar Billy ayahnya hanya masuk ke dalam kamar, tetapi Mauren masih saja cemas dan tidak ingin meninggalkan rumah tersebut sampai emosi kedua orang tuanya stabil.
Sean pun bergegas menuju ke dalam kamar Mauren yang pintunya tidak terkunci, lalu masuk ke kamar tersebut. Dia kemudian mendekat pada Mauren yang saat ini berdiri di samping jendela balkon kamar. Wanita itu tampak menggigit kukunya, raut kecemasan masih terlihat begitu jelas di wajah cantik itu. Sean pun memeluk Mauren dan menciumi tengkuknya.
"Billy," jawab Mauren singkat.
"Billy? Memangnya ada apa dengan Billy? Bukankah tadi pertemuan keluarga kalian berjalan dengan lancar?"
"Tidak sama sekali, karena Billy memutuskan pertunangannya dengan Erina. Tentu saja, hal ini membuat Erina hancur, begitu pula dengan kedua orang tuanya. Apalagi Papa dan Mama, bahkan tadi Papa menghajar Billy habis-habisan."
Sean begitu terkejut mendengar cerita dari Mauren, dia tak menyangka jika Billy, yang biasanya bersikap baik dan selalu menuruti kedua orang tuanya saat ini sampai berani membangkang.
__ADS_1
"Billy sampai berbuat seperti itu? Ini mustahil, Mauren."
"Ya, aku pun tak menyangka Billy menjadi seperti ini, biasanya dia selalu menuruti permintaan kedua orang tuaku, Mas."
"Aneh sekali, apa ini ada hubungannya dengan wanita lain di hati Billy?"
Mauren pun menggelengkan kepalanya. "Aku sebenarnya tidak tahu, tetapi aku yakin ini ada hubungannya dengan itu, ada wanita lain yang mungkin dicintai Billy."
"Mauren, masalah hati seperti ini memang rumit. Di satu sisi, dia harus memikirkan perasaan orang tua kita. Tetapi, di sisi yang lain, dia juga memiliki hati yang berhak untuk mencintai wanita lain, karena cinta pun tak pernah salah. Bukankah begitu?"
"Ya aku tahu, tapi bagiku wanita itu tetap saja pelakor, Mas. Aku sudah mengenal Erina, dan aku tidak rela Billy sampai memutuskan hubungannya dengan Erina karena pelakor itu."
"Jadi, kamu benci seorang wanita pelakor?"
"Ya, aku sangat membenci wanita yang suka merebut milik orang lain."
"Lalu, bagaimana dengan Bunga? Bukankah dia seorang pelakor, Mauren? Kenapa kau tidak membencinya?"
"Apa maksudmu, Mas? Bukankah kita sudah tahu kalau Bunga melakukan itu karena ketidaksengajaan, dia menjebakmu karena dia ingin menyelamatkan Panti Asuhan tempat dia tinggal. Sedangkan, Alea sampai lahir ke dunia ini, itu karena kesalahanmu, Mas."
"Kau terlalu naif, Mauren. Asal kau tahu, kenapa aku tidak ingin tinggal berdua dengan Bunga karena dia tadi juga menggodaku untuk tidur lagi bersamanya."
__ADS_1
"A-apa maksudmu, Mas?"
"Bunga menggodaku lagi, Mauren."