
"Astaga, kenapa sangat sulit melupakan bayanganmu Bunga. Seharusnya, aku sadar kalau kamu sekarang udah pergi. Dan hanya keajaiban yang bisa mempertemukan kita lagi," gumam Billy seraya masuk ke dalam rumah sakit.
Mau tidak mau dia harus melepaskan satu cinta yang sempat dia pupuk dengan harapan, tepat beberapa saat sebelum kepergiannya. Meskipun, rasa cinta itu baru dia sadari saat Bunga sudah pergi dari hidupnya. Wanita itu, memang sudah pergi dan Billy harus menyadari itu, walaupun sangat sulit dan terasa begitu menyakitkan.
Akan tetapi, semuanya memang sudah berakhir. Dengan jiwa yang terluka, Billy harus kembali mengubur perasaannya sendiri. Cintanya telah hilang, dan terpaksaa melepaskan tanpa bisa mempertahankan.
Rasa takut akan kehilangan yang pernah singgah di dalam hidupnya, kini pun harus dia alami lagi. Setelah sekian lama menjalani hidup dalam perasaan kaku dan monoton, serta penuh tekanan akan hubungannya dengan Erina. Billy dipertemukan dengan Bunga yang seolah menjadi penyempurna hidupnya.
Ada semacam rasa ingin memiliki yang selalu membuat Billy membayangkan sebuah masa depan bersama wanita itu. Akan tetapi, bersamaan dengan rasa yang tumbuh itu, Billy juga harus merasakan kehilangan.
Saat sedang melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit, tiba-tiba ponsel Billy berbunyi. Awalnya dia tak mau mengangkat panggilan itu, panggilan yang berasal dari Wisnu, papanya. Akan tetapi, Billy menyadari jika bagaimanapun juga Wisnu adalah papa kandungnya. Dan dia masih cukup sadar, tak mau menjadi anak yang durhaka. Akhirnya, Billy pun mengangkat panggilan itu.
[Halo ada apa Pa?]
[Halo Billy, tolong dengarkan papa. Kamu harus mempertimbangkan pernikahanmu lagi dengan Erina. Perlu kau ingat Billy, nama besar orang tuanya akan sangat berpengaruh bagi perkembangan perusahaan papa, serta keuntungan lainnya.] Billy terkekeh mendengar penuturan papanya.
[Aku tidak ada urusannya dengan perusahaan papa, dan seandainya pernikahanku dengan Erina terjadi itu tidak akan berpengaruh apapun dalam hidupku. Karena, hanya kalian yang akan mendapatkan kebahagiaan dan keuntungan, sedangkan aku? Aku tidak akan mendapatkan apapun. Aku berhak untuk memilih, Pa. Dan Erina, bukanlah pilihanku.]
Di ujung sambungan telepon Wisnu pun tampak menarik nafas dalam-dalam, sebelum bicara kembali, dia mengumpulkan sisa-sisa kesabaran saat berbicara dengan putranya.
__ADS_1
[Begini Billy, silakan berbuat apapun sesuai yang kau inginkan. Tetapi, tolong menikahkan adalah dengan Erina. Apapun akan kulakukan untukmu, Billy.]
[Benar Papa mau melakukan apapun yang aku minta?]
[Tentu saja, memangnya kau minta apa?]
[Kalau begitu, berhenti memaksa kehendak Papa padaku untuk menikah dengan Erina. Pernikahanku bukanlah sebuah dadu yang akan menentukan untung rugi perusahaan Papa. Aku, bukan bidak catur di atas permainan kalian semua, dan aku tidak mau sampai kehilangan arah hidup dengan permainan yang kalian ciptakan.]
[Kehilangan arah hidup? Kau pikir aku sekejam itu pada putraku sendiri?]
[Nyatanya itulah yang terjadi Pa, meskipun ini terdengar kejam, tapi itulah kenyataannya. Dan Papa, seharusnya mengakui fakta tersebut.] balas Billy.
Memang Billy sudah begitu muak terhadap tekanan kedua orang tuanya, dia hanya ingin mempertahankan hidupnya, mimpinya, serta keinginannya. Setelah tak ada sahutan lagi dari Wisnu yang mungkin sudah kesal dengan semua sikap Billy, gegas dia pun menutup panggilan dari orang tuanya itu. Lalu, meneruskan langkahnya, menuju ke salah satu ruang dokter di rumah sakit tersebut, yang juga menjadi teman kuliahnya.
"Halo Billy," sapa Ronald, ketika Billy membuka pintu ruang kerja laki-laki itu. Billy pun tersenyum.
"Selamat datang, dan selamat bergabung di rumah sakit ini. Emh Billy, maaf kalau rumah sakit ini berada di pinggiran dan letaknya jauh dari ibukota."
"Tidak apa-apa, memang aku sedang mencari ketenangan. Di sini, memang sepertinya tempat yang cocok untukku."
__ADS_1
"Oh baiklah kalau begitu Billy, sekali lagi terima kasih sudah mau bergabung di rumah sakit ini."
"Sama-sama Ronald."
"Billy, Hari ini aku cukup sibuk. Maukah kau kutitipkan salah satu pasienku?"
"Apa pasienmu? Tapi, aku bukanlah seorang dokter bedah sepertimu Ronald."
"Oh, tidak apa-apa, Billy. Kau cukup mengecek keadaannya saja. Dia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang selangka dan tulang di lengan sebelah kanannya patah. Parahnya, ada patahan tulang yang merobek kulit hingga menyebabkan pendarahan cukup besar. Sementara itu, benturan di kepalanya juga masih proses observasi untuk melihat apakah ada cedera selain luka luar, karena sampai saat ini dia belum sadarkan diri."
"Sepertinya, pasien itu cukup parah ya?"
"Ya, dia memang sangat parah. Bahkan, tidak hanya dirinya tetapi juga putri kecilnya."
"Apa? Putri kecilnya juga mengalami kecelakaan?"
"Ya, dia bersama putrinya tertabrak sebuah mobil. Lalu, mobil itu melarikan diri begitu saja."
"Bolehkah aku tahu siapa wanita itu?"
__ADS_1
"Tentu saja Billy, kita ke ruangannya sekarang. Saat ini, dia masih berada di ruang ICU."