Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Ada Di Sini?


__ADS_3

Billy berjalan keluar dari ruang perawatan pasien menuju ke ruangannya dengan langkah gontai. Satu minggu yang lalu, sejak Bunga pergi, dunia Billy seakan begitu sunyi, dia pun tak tahu mengapa tiba-tiba hidupnya seperti ini. Dan apakah ini yang disebut dengan cinta? Billy pun masih berusaha mengartikannya. Karena bagi laki-laki itu, sejak kepergian Alexa, dia tidak mau terburu-buru mengartikan sebuah rasa cinta.


Sebenarnya, Billy sudah mencari Bunga. Akan tetapi, dia belum bisa menemukan wanita itu, di setiap tempat kost, bahkan hampir seluruh jalanan ibu kota, sudah dia telusuri. Namun, dia masih belum bisa menemukannya.


Hal ini terasa membuat hidupnya begitu kacau, memang terdenger seperti pecundang, tapi tak dapat dipungkini, ingin rasanya Billy pergi berlari dari kenyataan yang harus dia hadapi. Dia sudah lelah, terutama berhadapan dengan Erina yang selalu saja mendekatinya ketika dia bekerja di rumah sakit. Ya, gadis itu memang belum diijinkan pulang dari rumah sakit, dan hal itu tentu saja menjadikan kesempatan bagi Erina untuk terus mendekati Billy.


"Bunga," batin Billy sambil menghela napas kasar seraya menahan rasa sesak di dada. Ya, lagi-lagi hanya wanita itu yang terlintas di benaknya.


Billy pun mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba kembali pada kewarasan, dan melanjutkan lagi langkah yang terhenti sejenak. Namun, sialnya saat dia membuka pintu ruang kerjanya, Erina sudah menantinya di dalam. "Selamat pagi calon suami..." sapa Erina, tapi hanya dibalas senyum sinis yang terukir di wajah tampan Billy.


"Jangan terlalu berharap lebih padaku, Erina. Kita sudah putus, sebaiknya kau kembali ke ruanganmu saja. Aku sedang banyak pekerjaan."


"Apa? Kembali ke ruanganku? Kenapa kau tidak pernah memberi kesempatan bagiku. Billy? Kau pikir, pertunangan kita sebuah lelucon yang bisa kau putuskan kapanpun kau mau, tanpa memikirkan perasaan keluarga kita?"

__ADS_1


"Kau bilang apa Erina, lelucon? Kau pikir perasaanku selama ini tidak menjadi lelucon bagi kalian? Bukankah, kalian selalu tertawa dan bahagia di atas deritaku?Bahkan, kalian masih bisa tersenyum saat aku kehilangan Alexa. Apa itu bukan sebuah lelucon, Erina? Sekarang, tolong pergi dari sini!" bentak Billy.


Terpaksa, Erina pun pergi dari ruang kerja Billy, meskipun sebenarnya dia merasa enggan. Tetapi, dia tidak mau bertengkar lebih lama dengan laki-laki itu, dan membuat hubungan mereka semakin berantakan.


"Awas kau, Billy. Lihat saja, aku pasti akan mendapatkanmu."


Setelah Erina keluar dari ruangan itu, Billy duduk di belakang meja kerjanya, lalu membuka laptop dan mengetik sesuatu. Tak lama, dia keluar dari ruangan tersebut menuju ke ruang direktur rumah sakit untuk memberikan surat pengunduran diri.


***


Billy menatap cerahnya langit pagi ini seraya tersenyum simpul. Burung-burung berkicau seakan menyambut sinar mentari yang terasa begitu hangat. Namun, sayangnya perasaan Billy tidaklah secerah dan sehangat cuaca pagi ini.


Rasanya, ada sebuah kekosongan di dalam hatinya yang mungkin saja hanya bisa diisi oleh Bunga. Saat merasakan hal itu, membuat Billy tersenyum kecut, meratapi kembali hidupnya yang terasa begitu miris.

__ADS_1


Ketika dia jatuh cinta dengan begitu dalam pada cinta pertamanya, dia harus merelakan wanita itu pergi untuk selama-lamanya. Dan, saat dia masih belum bisa menata hatinya, Billy harus bisa menerima Erina hanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Meskipun, pada akhirnya dia memilih untuk menyerah, namun bayang-bayang Erina masih belum saja bisa hilang dari hidupnya.


Dan sialnya, beberapa waktu belakangan ini, ketika dia bertemu dengan wanita yang membuat hidupnya kembali merasakan kebahagiaan, Billy pun harus merelakan wanita itu kembali pergi, dialah Bunga, yang keberadaannya tak lagi diketahui olehnya.


Di tengah keputusasaannya, Billy mencoba kembali membuka lembaran baru, meskipun hal itu terasa berat. Pagi ini, laki-laki itu melangkahkan kakinya ke sebuah rumah sakit, yang akan menjadi tempat kerja barunya.


Dan Billy yakin, Erina pun tidak tahu keberadaannya, karena rumah sakit tersebut berada di pinggiran kota. Begitu pula, dengan rumah barunya yang dia sewa di dekat rumah sakit tersebut. Memang salah satu temannya merekomendasikan rumah sakit itu karena sedang kekurangan tenaga dokter. Dan Billy pun menyanggupi permintaan temannya itu sekaligus untuk memulai kehidupan baru, tanpa belenggu masa lalu. Walaupun di dalam hati terdalamnya, dia masih berharap bisa bertemu dengan Bunga.


Detik berikutnya, Billy melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit itu. Namun, entah mengapa tiba-tiba ada sesuatu yang aneh merasuk ke dalam hatinya. Bahkan seperti terdengar ada yang memanggilnya namanya.


"Dokter Billy!"


Sontak Billy pun menoleh, tetapi tidak ada siapapun di belakangnya, hanya hembusan semilir angin dari pohon yang berada di depan rumah sakit.

__ADS_1


"Bunga, apa itu kau? Apa kau berada di sini Bunga?"


__ADS_2