
Sebenarnya tidak hanya Mauren yang terkejut, tetapi Bunga juga tak kalah terkejutnya tatkala melihat Mauren yang saat ini berdiri di depannya. Apalagi, wanita itu pun tampak terlihat begitu syok mendengar tangisan dari Alea. Sebenarnya, Bunga ingin menjawab pertanyaan Mauren tentang siapa itu Alea, tetapi tangis Alea yang kian kencang membuat Bunga mengurungkan niatnya.
Gegas, dia masuk ke dalam kamar perawatan kembali. "Sebetar, Nyonya," pamit Bunga, lalu meninggalkan Mauren yang masih tertegun melihatnya.
Seluruh tubuh Mauren rasanya luruh, tetapi dia berusaha untuk tetap tegar. Perlahan, dia masuk ke dalam kamar perawatan itu, meski hatinya terasa begitu sakit bagaikan mendapat hujaman pisau yang menghunus tepat di dada. Tangan kanan Mauren terus mencengkram erat pakaian di depan dadanya, seakan ingin merengkuh rasa sakit yang kini bergumul. Air matanya pun tak berhenti mengalir.
Melihat kedatangan Mauren di sampingnya, Bunga pun menundukkan kepalanya, seraya terus menenangkan Alea yang saat ini menangis. Sedangkan Mauren, terus menatap gerak-gerik Bunga dengan tatapan kosong.
Entah berapa lama kejadian itu berlangsung, hingga akhirnya tangis Alea pun terhenti. Bunga menaruh tubuh mungil itu di atas brakar, lalu mendekat pada Mauren yang saat ini duduk di atas sofa dengan tatapan mata kosongnya.
"Selamat malam, Nyonya? Bagaimana kabar anda?" sapa Bunga setelah duduk di samping Mauren.
"Seperti yang kau lihat," jawab Mauren dengan suara datarnya. "Siapa bayi itu?" tanya Mauren kembali.
"Apa dia anak dari suamiku?" Bunga pun menunduk, tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Bayi itu sangat mirip dengan putraku, lebih tepatnya sangat mirip dengan ayah kandung mereka. Kau tidak bisa berbohong padaku, dia putri dari suamiku, kan?"
Bunga mengangguk pelan, bersamaan dengan itu, dia melihat Mauren tengah meremas sisi dari sofa yang dia duduki. Bunga pun tahu, Mauren pasti merasa begitu sakit mendengar semua itu. Tetapi, itulah kenyataannya, Alea adalah anak Sean. Mauren terdiam, hanya butiran air mata yang kian deras membasahi pipinya, seakan menggambarkan betapa hancurnya dirinya.
"Nyonya, maafkan saya. Saya akan menceritakan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Karena dua tahun lalu, kejadiannya tidak seperti yang nyonya pikirkan."
"Apa maksudmu?"
"Begini Nyonya, dulu saya hidup di panti yang serba kekurangan. Saya merasa sangat sedih melihat adik-adik saya yang sering kelaparan. Maka, pada suatu hari, terbersit ide gila dalam benak saya untuk menjebak laki-laki kaya agar dia mau menikahi saya, biar kehidupan anak-anak panti terjamin. Lalu, saya bertemu dengan Tuan Sean dan saya menjebaknya, hingga akhirnya kami menikah. Awalnya, dia memang tidak pernah menyentuh saya, Nyonya. Maaf saya sudah berbohong."
"Saat itu, Tuan Sean memang tidak menyentuh saya, Nyonya. Tapi malam itu, Tuan Sean yang begitu marah pada saya, pulang dalam keadaan mabuk dan tiba-tiba masuk ke dalam kamar saya, dan..."
PLAK PLAK PLAK
***
__ADS_1
Keesokan Harinya...
Dengan langkah cepat, Billy menuju ke ruang perawatan Alea. Namun, saat dia membuka pintu, kamar perawatan itu sudah kosong. Bahkan, kamar itu terlihat begitu rapi, menandakan jika pasien kamar tersebut sudah tidak ada di dalam ruangan.
"Dimana Bunga, kenapa dia tidak ada di sini? Ah sebaiknya kutanyakan saja pada bagian perawat jaga." Gegas, Billy keluar dari ruangan tersebut. Tetapi, saat dia sedang berjalan di koridor rumah sakit, seketika langkahnya terhenti manakala ada sosok wanita cantik yang saat ini berjalan ke arahnya.
"Sayang, kenapa akhir-akhir ini susah banget cariin kamu sih? Tadi aku ke rumah, kata Papa sama Mama kamu, kamu udah berangkat ke rumah sakit. Aku kangen, Billy."
"Maaf Erina, aku sibuk."
"Jadi, pekerjaanmu jauh lebih penting dibandingkan denganku? Kau selalu saja begitu. Padahal, ada hal penting yang harus kita bicarakan, Billy."
"Hal penting? Hal penting tentang apa?"
"Tidak usah berpura-pura, Sayang. Kita harus membicarakan pernikahan kita. Nanti malam orang tuamu mengundang kami untuk membicarakan pernikahan kita."
__ADS_1
"Apa? Pernikahan?"