
Erina pun begitu terkejut mendengar perkataan Billy. "Tidak, aku tidak mau putus denganmu, Billy!"
"Maafkan aku Erina, ini demi kebaikanmu."
"Apa-apaan ini, Billy? Kau tidak boleh bicara sembarangan seperti itu!" bentak Wisnu.
"Maafkan aku Pa, Ma, Om, Tante. Ini sudah keputusanku, dan ini demi kebaikan Erina."
"Tidak Billy, aku tidak mau putus denganmu." Billy kemudian menjauh dari sisi Erina yang sejak tadi berusaha meminta penjelasan darinya.
"Aku perlu bicara empat mata denganmu, Erina." Wanita itu pun mengangguk, lalu mengikuti langkah Billy menuju ke ruang tamu. Setelah itu, mereka duduk di sofa, sedangkan orang tua keduanya masih menikmati makan malam, meskipun hati mereka dilanda kecemasan melihat sikap Billy.
"Berikan penjelasanmu padaku, Billy."
Billy menghembuskan nafas perlahan, lalu dia menatap Erina dengan sorot mata mengasihani. Selama ini, dia tidak pernah menaruh perasaan apa-apa terhadap perempuan itu. Segala bentuk penerimaan yang dia berikan terhadap Erina hanya sebatas kamuflase.
Di mata Billy, awalnya Erina hanya sebatas alat untuk membahagiakan kedua orang tuanya yang sudah menjodohkan mereka berdua. Tetapi, nyatanya sampai saat ini dia tidak bisa membuka hatinya, dan dia tidak mau menyakiti wanita itu lebih lama.
"Tolong jangan putuskan hubungan ini," ujar Erina kembali.
Billy menghela nafas pendek, lalu menggelengkan kepalanya. Dia menatap Erina yang kini sedang menyorot kecewa pada dirinya. Rasanya Billy memang sudah tidak punya kekuatan untuk terus berpura-pura terhadap perasaan dan juga keinginannya.
"Apa ada perempuan lain?" tanya Erina dengan mata mulai memerah. Sebenarnya, Erina sudah mempunyai firasat bahwa hubungannya dengan Billy sedang berada dalam situasi genting, sudah banyak keengganan yang ditunjukkan oleh Billy dan bisa terbaca jelas oleh siapa saja, termasuk orang-orang di rumah sakit tempat Billy bekerja.
"Apa ada perempuan lain?" tandas Erina kembali.
"Mungkin iya," jawab Billy sambil mengangguk. Entah mengapa, ingatannya tiba-tiba tertuju pada Bunga, gadis lugu yang mungkin saja sudah merampas perasaannya saat ini.
Erina pun menghela nafas kasar, lalu duduk setelah hampir limbung karena mendapat kejutan tak terduga dari tunangannya di malam ini. Dia pikir, mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih lanjut, tetapi nyatanya tidak. Sekarang, segala ketakutan yang Erina pikirkan ternyata menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Aku ingin melihat siapa perempuan itu," desis Erina dengan suara bergetar.
"Untuk apa?" tanya Billy.
"Biar aku bisa melihat seperti apa perempuan pilihanmu, apa dia jauh lebih baik, sepadan, atau jauh di bawahku? Aku benar-benar ingin tahu," ujar Erina.
"Tidak perlu membandingkan dirimu dengannya, dari segi fisik ataupun materi. Dia mungkin tidak kaya dan sehebat dirimu."
"Lalu, kenapa kamu malah tergoda dengan perempuan yang tidak bisa dibandingkan denganku? Apa matamu sudah buta, hah?" seru Erina.
"Ini masalah hati, Erina. Memahami hati yang tak berlogika itu memang rumit."
"Lalu, kenapa kamu setuju dijodohkan denganku?"
"Karena aku tidak punya pilihan lain, bukankah sejak dulu kau juga selalu memaksaku?"
"Lalu, bagaimana dengan orang tua kita, Billy? Apa kau tidak mau menyingkirkan egomu dan melihat kebahagiaan orang tua kita?" tanya Erina dengan nada putus asa.
"Aku akan bicara dengan mereka, sekarang lebih baik kau dan orang tuamu pulang saja," sahut Billy yang semakin membuat Erina merasa tersakiti.
"Billy, please!" Erina memohon dengan suara serak dan pilu.
"Dua tahun bukan waktu yang singkat Billy," lanjutnya kembali.
"Kamu bisa menemukan laki-laki yang lebih hebat dariku," balas Billy cuek, lalu berjalan meninggalkan Erina begitu saja.
Setelah perdebatan yang terasa melelahkan secara sepihak itu, Erina hanya menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. "Siapa sebenarnya wanita itu?"
***
__ADS_1
Mendengar suara bariton rendah yang dikenalnya itu, seketika tubuh Bunga pun meremang. "Apa yang akan dia lakukan padaku? Tuhan, tolong selamatkan aku."
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tuli, hah? Dasar wanita bodoh!"
Bunga pun meneguk salivanya dengan kasar, tak mau membuat Sean semakin kesal, Bunga lalu berbalik menghadap pada Sean. Kepalanya menunduk, tak mampu menatap wajah laki-laki itu dengan sorot mata yang terlihat begitu mengerikan.
"Apa ada yang perlu saya bantu, Tuan?" tanya Bunga. Sean tersenyum kecut, lalu duduk di kursi meja makan.
"Tolong lepaskan sepatuku!" perintah Sean. Bunga pun mengangguk, lalu berjongkok tepat di depan Sean dan mulai melepas tali sepatu yang dikenakan oleh Sean.
Bunga terlihat begitu gugup, hingga membuatnya agak kesulitan melepas sepatu tersebut. "Lama sekali, dasar wanita bodoh!" bentak Sean kembali, setelah sepatunya tak kunjung terlepas dari telapak kakinya. Tak hanya itu, laki-laki tersebut pun mendorong kepala bunga dengan menggunakan kakinya yang masih terpasang sepatu. Seketika itu juga, tubuh Bunga pun terjembab ke belakang.
"Maafkan saya, Tuan. Tangan saya masih sakit, jadi mungkin agak lama melepas sepatu Tuan Sean."
"Jangan banyak alasan, buktinya kau bisa membuatkan susu untuk putrimu itu kan? Lantas kenapa hal seperti ini saja kau tidak bisa? Dasar wanita bodoh!"
Sean lalu bangkit dari atas kursi meja makan kemudian mendekat pada Bunga. Tak mau mendapat perlakuan kasar kembali, Bunga pun bangkit, lalu berdiri di depan Sean dengan kepala menunduk.
"Siapa yang menyuruhmu untuk bangun? Bukankah kau belum melepas sepatuku hah? Dasar wanita bodoh!"
"Maaf Tuan Sean, saya akan melepas sepatu anda," jawab Bunga.
"Tidak usah, aku sudah malas melihatmu. Ada baiknya, kau memang seharusnya mati saja agar aku tidak bisa melihatmu lagi di depan mataku. Kau sungguh membuatku merasa muak!"
Sean menatap Bunga dengan tatapan tajam, lalu semakin mendekat pada wanita itu. Bunga yang begitu takut dengan apa yang akan dilakukan Sean padanya, hanya memundurkan langkahnya. Sebenarnya, ingin rasanya dia berlari. Namun, tenaganya seakan luruh. Tubuh itu juga bergetar hebat saat melihat Sean yang saat ini sudah begitu dekat dengannya. Apalagi, ketika Sean mulai menempelkan jemari tangannya di leher Bunga, lalu mencekik leher wanita itu.
"Aah... Tuan, sh sakit..."
"Kau harus mati, Bunga!"
__ADS_1