
"Apa kau bilang, Mauren? Rujuk Kembali dengan Bunga? Apa kau sedang becanda? Bukankah kau tahu wanita seperti apa itu Bunga? Apa kau mau pernikahan kita kembali hancur karena wanita ular itu lagi?"
Mauren pun menggeleng pelan seraya menatap Sean dengan tatapan mengiba.
"Tidak Mas, aku tidak sedang becanda. Aku bersungguh-sungguh memintamu untuk rujuk dengan Bunga. Tolong jadikan dia istrimu lagi, Mas."
"Oh shitt! Apa-apaan ini, Mauren? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tiba-tiba memintaku untuk melakukan hal bodoh itu? Kau tahu kan, aku sangat mencintaimu. Dan aku, tidak memiliki keinginan untuk menikah lagi, apalagi dengan wanita seperti Bunga yang menjijikan itu."
"Tapi Mas, hanya ini satu-satunya jalan untuk membantu kedua orang tuaku. Jadi, tolong pertimbangkan ini baik-baik. Anggap saja kau melakukan ini demi aku, Mas."
"Apa kau bilang Mauren? Membantu orang tuamu? Kenapa kau hanya bisa memikirkan kedua orang tuamu saja? Kita sudah berumah tangga Mauren, aku ini suamimu! Seharusnya kau lebih menurut padaku. Bukan menurut pada keinginan dan mengedepankan kepentingan orang tuamu, apalagi permintaan yang tidak masuk akal seperti ini! Dimana logika dan akal sehatmu, Mauren? Seharusnya kau tahu batasan antara menjadi seorang anak dan istri. Dan sekarang kau sudah menjadi istriku! Bukankah tidak pantas mengorbankan perasaan suami demi keegoisan orang tuamu saja?"
"Mas, tolong jangan salahkan orang tuaku, karena mereka pun tidak tahu siapa mantan suami Bunga."
"Lantas, kenapa kau meminta hal itu padaku hah? Kau pikir pernikahan itu sebuah permainan? Pernikahan adalah ikatan sakral, Mauren. Tidak bisa kalian jadikan sebagai lelucon untuk mengikuti nafsu dunia kalian!"
"Mas dengarkan alasanku dulu. Aku melakukan semua ini untuk membantu Papa agar Erina tidak menarik investasinya di perusahaan papa. Aku hanya ingin Erina menikah dengan Billy, dan satu-satunya jalan untuk memisahkan Billy dan Bunga adalah dengan memintamu untuk rujuk dengan Bunga."
"Lelucon bodoh apalagi ini, Mauren. Meskipun aku sangat membenci Bunga, kalau Billy dan Bunga saling mencintai, memangnya kita bisa apa? Bukankah sudah berulang kali kukatakan padamu kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Kalau Billy tidak mencintai Erina, mengapa kalian terus memaksanya hah? Kalian pikir Billy tidak boleh memiliki pilihan dalam menentukkan masa depannya? Billy sudah dewasa dan dia pasti tahu mana yang baik atau buruk baginya. Memang aku membenci Bunga, karena dia pernah merusak rumah tangga kita. Akan tetapi, dalam hal ini aku tetap berusaha obyektif, Mauren!"
"Jadi kau tidak mau rujuk kembali dengan Bunga, Mas?"
"Tolong kau simpan kembali pemikiran bodohmu itu hanya untuk dirimu, Mauren. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah rujuk dengan Bunga!" bentak Sean, kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi tersebut dengan begitu keras, hingga membuat Mauren terkejut.
Wanita itu pun menutup mata seraya memegang dadanya. "Kalau seperti ini, apa yang harus kulakukan? Apa aku salah kalau hanya ingin membantu papa?"
Tiba-tiba pintu kamar mandi kembali terbuka. Sean tampak menatap Mauren dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Satu lagi Mauren, Bunga sebenarnya tidak seperti yang kau pikirkan, karena sebenarnya dia tidak pernah merayuku!Akulah yang menjebak Bunga agar berada pada posisi sulit, seolah-olah dia terlihat sedang merayuku! Itulah kenyataan yang sebenarnya terjadi. Aku melakukan itu agar Bunga pergi dari rumah ini karena aku sangat membencinya. Jadi, jangan pernah sekalipun untuk menyuruhku kembali pada Bunga! Camkan itu baik-baik!"
Setelah mengatakan itu, Sean kembali menutup pintu kamar mandi. Sedangkan Mauren, tentunya begitu terkejut mendengar penuturan Sean, selama ini dia pikir Bunga sudah merayu suaminya. Akan tetapi, praduga itu ternyata salah, dan Sean lah sendiri yang ternyata sudah menjebak Bunga.
Tentunya hal tersebut membuat Mauren semakin merasa bingung, ada rasa bersalah yang begitu dalam pada Bunga. Namun, dia tidak bisa mengabaikan permintaan orang tuanya begitu saja.
"Maafkan aku Bunga, maaf jika aku pernah berbuat kasar padamu. Akan tetapi, aku tidak punya pilihan."
Di saat itulah ponsel Mauren pun berbunyi, wanita itu lalu mengangkat panggilan tersebut yang ternyata berasal dari Erina.
[Halo Kak Mauren.]
[Halo Erina, bagaimana kabarmu?]
[Tidak usah kau tanyakan itu, Kak. Kau tahu kan sejak aku putus dengan Billy, aku tidak pernah baik-baik saja.]
Mauren pun mengangguk
[Emh, begini Kak Mauren. Tante Arini kemarin mengatakan kalau kau ingin membantuku agar bisa kembali pada Billy dengan menyuruh Bunga menikah lagi dengan mantan suaminya. Apa itu benar, Kak Mauren?]
[Iya.]
[Lalu sekarang bagaimana perkembangannya? Apa Kak Mauren sudah mengatakan pada mantan suami Bunga kalau menyuruhnya untuk kembali pada Bunga?]
[Begini Erina, bagaimana kalau kita bertemu nanti siang? Aku akan membicarakan hal ini denganmu.]
[Tentu Kak Mauren, kau tenang saja, aku juga akan membantu Kak Mauren agar bunga bisa kembali pada mantan suaminya itu.]
__ADS_1
[Iya Erina.] jawab Mauren kemudian menutup sambungan telepon itu, saat itulah tiba-tiba hatinya terasa begitu sakit mendengar perkataan Erina di ujung sambungan telepon.
Dalam lubuk hati terdalamnya, Mauren tentu belum ikhlas jika harus kembali berbagi dengan wanita lain. Akan tetapi, posisinya saat ini begitu terpojok. Mau tak mau hanya itulah yang bisa dia lakukan untuk membantu orang tuanya.
***
Siangnya Mauren tampak menunggu kedatangan Erina di sebuah Cafe. Tak hanya Erina, tetapi dia juga mengundang Arini, mamanya untuk membicarakan hal tersebut. Tak berapa lama, kedua wanita yang ditunggu pun masuk ke dalam cafe, dan menghampiri Mauren.
"Selamat siang, Kak Mauren," sapa Erina.
"Selamat siang putriku, Sayang." Arini pun ikut menyahut.
"Selamat siang semua," balas Mauren seraya menarik kedua sudut bibirnya. Sebenarnya dia masih merasakan kegundahan yang luar biasa. Karena itulah, dia ingin membicarakan hal tersebut dengan mamanya dan juga Erina.
Apalagi setelah tadi pagi mendapat penolakan dari Sean, meskipun rasanya Mauren masih tidak ikhlas jika suaminya harus menikah lagi dengan Bunga. Akan tetapi dia mengabaikan semua rasa itu, karena ingin menolong kedua orang tuanya. Meskipun hal tersebut, sangat bertolak belakang dengan hatinya.
"Ada apa, Mauren? Apa kau sudah bertemu dengan mantan suami Bunga?" tanya Arini.
"Iya Kak Mauren, bagaimana kelanjutannya? Tolong ceritakan pada kami."
"Emh, sebelumnya aku ingin memberitahu kalian lebih dulu mengenai siapa itu mantan suami Bunga."
"Memangnya, siapa mantan suami Bunga, Kak Mauren?"
"Mama, Erina, sebelum aku memberitahu siapa mantan suami Bunga, aku akan menceritakan sebuah kisah pada kalian."
"Tidak usah banyak basa-basi, Mauren. Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!"
__ADS_1
"Begini, kira-kira 2 tahun yang lalu ada seorang gadis panti asuhan yang lugu dan polos. Saat itu, Panti Asuhan tempatnya bernaung mengalami kesulitan keuangan. Gadis itu awalnya hanya berniat membantu keuangan panti dengan menjalankan sebuah rencana konyol, yaitu menjebak seorang laki-laki agar seolah-olah tidur dengannya, karena kejadian itulah, laki-laki tersebut akhirnya menikahi gadis itu. Namun, karena sang laki-laki sangat marah akibat jebakan itu, dia akhirnya mengambil kesucian gadis panti itu hingga dia hamil, lalu menceraikannya begitu saja. Dan, perlu kalian tahu, mereka adalah Bunga dan Mas Sean, suamiku. Ya, Mas Sean adalah mantan suami Bunga."
"APAAAA?"