Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Sean Adalah Luka


__ADS_3

Bunga masuk ke dalam kamarnya, lalu meletakkan Alea yang saat ini sudah terlelap di atas ranjang. Bayi berusia 1 tahun itu tampak sudah kekenyangan setelah minum susu 1 botol dot dengan begitu rakus. Bunga menata putrinya sambil tersenyum simpul, wajah Alea memang sangat mirip dengan Sean. Melihat wajah itu memang begitu menyenangkan, tetapi terkadang juga menimbulkan sebuah luka.


"Kau sangat mirip dengan ayahmu, Sayang. Melihat wajahmu adalah kebahagiaan bagiku. Meskipun, di balik kebahagiaan itu, tetap ada luka," ujar Bunga, seraya mengelus pipi Alea.


Bagi Bunga, Sean adalah luka. Apalagi, saat mengingat malam kelam itu di mana Sean merenggut kesuciannya, dan yang lebih menyakitkan lagi, adalah sikap Sean padanya. Bunga pun tahu Sean sangat membenci dirinya, dan dia menyadari laki-laki tersebut bersikap seperti itu karena kesalahan yang telah diperbuat olehnya. Dan rasanya, sangat menyakitkan saat mendengar cacian yang terlontar oleh Sean, serta sikap buruk laki-laki itu padanya.


Sebenarnya, dia tak ingin kembali ke rumah tersebut, karena dia pun tahu, semua itu hanya akan menimbulkan luka baginya. Tetapi, tadi malam di rumah sakit Mauren terus memintanya untuk kembali karena dia merasa suaminya harus bertanggung jawab pada Alea. Meskipun, sebelumnya Mauren sempat begitu marah sampai menamparnya. Tetapi, atas kebesaran hati Mauren, wanita itu menyuruhnya untuk tinggal bersama mereka, demi kebaikan Alea.


Akhirnya, Bunga pun menuruti permintaan Mauren, dengan mempertimbangkan masa depan Alea kelak. Meskipun, dia tahu resiko kembali ke rumah itu adalah sakit hati. Saat masih termenung meratapi dirinya, tiba-tiba bayangan Billy pun terlintas di benaknya.


"Dokter Billy. Kenapa tiba-tiba aku mengingatnya? Apa dia juga sedang mengingatku? Astaga, istighfar Bunga, kau dan dia berbeda."


Bunga pun menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah ingin menyadarkan dirinya sendiri agar kembali pada kewarasannya. Di saat itulah, dia teringat jika tadi dia sedang membuatkan bubur untuk Alea.


"Astaga buburnya, jangan sampai bubur itu gosong," gumam Bunga, dia lalu bergegas keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


Sementara itu, di meja makan tampak Sean sedang menikmati sarapan bersama Mauren. Awalnya, Mauren memang menolak menemani Sean sarapan, karena dia ingin membuat suaminya dekat dengan Bunga, dan tidak ingin Sean terus menerus membenci wanita itu. Tetapi, Mauren akhirnya mengalah dan menuruti perintah suaminya. Karena jika tidak, Sean mengancam akan mengusir Bunga jika pagi ini Mauren tidak menemaninya sarapan.


Saat ini, bagi Mauren, Sean adalah laki-laki yang setia dan hanya mencintai dirinya. Dalam benak Mauren, semua yang terjadi pada pernikahan mereka, karena diawali kesalahan Bunga. Dan Mauren mau menerima kekhilafan Sean, karena saat laki-laki itu merenggut kesucian Bunga, dia sedang dalam pengaruh alkohol dan merasa frustasi, karena itulah dia ingin menebus kesalahan Sean dengan memberikan jaminan hidup yang layak bagi Bunga dan Alea. Meskipun, tak dapat dipungkiri jika rasa sakit itu, tentunya masih ada, karena sebuah luka tidak mungkin sembuh dalam hitungan hari, tetapi butuh waktu.


"Tidak usah tergesa-gesa, Sayang. Aku tahu kamu sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuamu. Tapi, jangan terburu-buru, lihat bibirmu sangat belepotan. Seperti anak kecil saja," gerutu Sean sambil mengelap bibir Mauren. Setelah itu, laki-laki tersebut mengecup sekilas bibir istrinya.


"Kau nakal sekali, Mas. Malu kalau ada yang lihat."


"Buat apa malu di rumah sendiri. Tidak ada salahnya, sepasang suami istri bermesraan kan?"


Mendengar nama Bunga, Sean pun tersenyum kecut. "Cih, wanita sialan itu. Lebih baik, kau tidak usah menyebut namanya, mengganggu selera makanku saja."


"Mas, jangan sebut dia seperti itu. Telepas kesalahan yang dia lakukan, dia adalah ibu dari putrimu," protes Mauren, bersamaan dengan kehadiran Bunga, tepat di samping mereka yang sedang berjalan menuju ke dapur untuk menyelesaikan memasak bubur.


"Permisi Tuan, permisi Nyonya," sapa Bunga, saat melewati Sean dan Mauren.

__ADS_1


"Kau mau ke mana, Bunga?"


"Saya mau ke dapur, untuk memasak bubur untuk Alea, Nyonya."


"Oh..."


Belem sempat Mauren melanjutkan kata-katanya, ponselnya berbunyi. Mauren lalu mengangkat panggilan telepon itu yang ternyata berasal dari Mama-nya.


"Mas, Mama suruh aku ke sana sekarang. Aku pergi dulu ya," pamit Mauren setelah mengangkat telepon tersebut. Terpaksa, Sean pun menganggukan kepalanya.


"Iya Sayang, hati-hati," jawab Sean, lalu melanjutkan sarapannya. Tak berapa lama setelah Mauren pergi, langkah kaki pun terdengar dari arah dapur. Sean yang menyadari jika itu adalah langkah Bunga segera berpura-pura menyenggol gelas yang ada di depannya, hingga gelas itu terjatuh ke lantai, dan pecah.


PRANG


Bunga yang melihat itu pun merasa terkejut. "Hei kau, tolong bersihkan pecahan gelas itu!" perintah Sean. Bunga pun mengangguk, dia lalu berjongkok untuk membersihkan pecahan gelas tersebut. Namun, saat Bunga sedang memungut serpihan gelas itu, dengan sengaja, Sean menginjak punggung tangan wanita itu. Hingga membuat serpihan itu, menancap di telapak tangan Bunga.

__ADS_1


"Aaaaa... Sakit..." pekik Bunga, disertai air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.


__ADS_2