Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Mantan Suami Bunga


__ADS_3

Billy berdiam diri sejenak, dadanya sesak oleh perasaan sedih yang membuatnya sulit untuk bernapas, lebih dari itu, ada sebuah kemarahan yang menyala-nyala di dalam dirinya, seakan sedang menyalahkan dirinya sendiri jika dia tak mampu melindungi wanita yang dia sayangi.


Billy kemudian duduk di samping brakar, ditatapnya siluet wajah perempuan itu dari samping. Ada luka di dagu, tulang pipi dan juga pelipis, namun meskipun saat ini kondisinya begitu memprihatinkan, akan tetapi bagi Billy tetap saja terlihat cantik dan menarik. Sejak pertama kali menatap wajah polosnya, memang Billy sudah tertarik, meskipun saat itu diawali dengan kejadian yang sedikit aneh.


Detik berikutnya, Billy menggenggam tangan wanita itu dengan hangat, lalu diciumnya singkat. Semua seolah mengalir begitu saja, Billy seakan ingin menumpahkan rasa yang ada di dalam hatinya.


"Kamu bisa dengar aku, Bunga?" tanya Billy sambil mengelus punggung tangan Bunga.


"Kenapa kita kembali dipertemukan dengan kondisi kamu yang seperti ini?"


Billy menahan nafas sejenak, menahan rasa sakit dan sedihnya kuat-kuat lalu kembali berkata. "Seharusnya kamu nggak kayak gini, seharusnya aku bisa menahan perasaanku terlebih dulu yang pada akhirnya, berimbas pada kondisi kamu kaya gini. Dan kenapa, takdir seolah tak berpihak pada kita, Bunga?"


Billy mengambil napas, lalu menghelanya dengan kasar. "Tapi kuharap, saat kamu bangun nanti, kamu tidak menyalahkan dirimu sendiri ataupun keadaan karena memang tak ada yang salah darimu, Bunga. Satu-satunya yang patut disalahkan hanya aku, aku yang udah bikin kamu jadi kayak gini, aku yang udah bikin kamu diusir sama Kak Mauren. Tapi, aku nggak mau ninggalin kamu sendirian, jadi setelah kamu bangun nanti, tolong ijinkan aku untuk tetap berada di samping kamu, Bunga."


Ucapan Billy terhenti sejenak, laki-laki itu kemudian mencium punggung tangan Bunga sekali lagi, namun kali ini lebih lama disertai perasaan yang begitu dalam. Ya, semua seolah mengalir begitu saja, semua perasaan yang ada di dalam hati Billy, seolah ingin laki-laki itu curahkan.


Memang terdengar sangat pengecut, karena Billy melakukan itu ketika Bunga sedang tidak sadarkan diri. Billy tak bersuara lagi, dia hanya menatap wajah Bunga lekat, sambil mengusap punggung tangannya, dadanya sangat sesak dan Billy seakan telah kehilangan kata-kata, dia tak tahu harus berkata apa selain penyesalan dan kesedihan yang teramat dalam di dalam hatinya.


Tak berapa lama, pintu ruang ICU itu pun dibuka. Ronald masuk ke dalamnya, lalu mendekat pada Billy yang saat ini menatap Bunga dengan tatapan datar.


"Kapan? tanya Billy singkat, mendengar pertanyaan seperti itu dari temannya, Ronald merasa terkejut. Laki-laki itu, hanya terdiam dan mengerutkan keningnya.


"Kapan dia mengalami kecelakaan, Ronald?" sambung Billy.


"Mungkin sekitar lima hari yang lalu, saat itu dia baru saja turun dari sebuah angkot, dan berniat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan sebuah bus. Akan tetapi, tiba-tiba ada mobil yang menabraknya, saat itu masih pagi jadi orang-orang yang ada di sekitar lokasi kejadian pun masih sangat sepi. Dan mobil yang menabraknya, tidak memiliki plat nomor, jadi sangat sulit bagi polisi untuk melacak keberadaan mobil tersebut."


Hati Billy terasa begitu sakit mendengarnya. "Lalu, bagaimana keadaan putrinya?"

__ADS_1


"Kondisi putrinya tidak separah Bunga, saat ini dia sudah berada di ruang perawatan khusus anak. Saat mengalami kecelakaan tersebut, wanita ini memeluk putrinya dengan begitu erat. Jadi, balita itu tidak mendapatkan luka yang cukup serius."


"Syukurlah kalau begitu, nanti aku akan menjenguk putrinya."


Mendengar perkataan Billy, Ronald pun mengerutkan keningnya kembali. "Apa kau mengenalnya?"


Billy pun mengangguk pelan. "Ya, dia wanita yang saat ini sedang dekat denganku."


Ronald pun mengulum sebuah senyuman disertai tatapan penuh tanda tanya pada Billy, sebenarnya dia ingin bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu. Dan, bagaimana hubungannya dengan Erina. Lalu, mengapa wanita yang mengalami kecelakaan itu tiba-tiba menjadi bagian penting dalam hidup Billy, berbagai tanda tanya berkecamuk dalam benak Ronald. Tetapi, laki-laki itu mengurungkan niatnya saat melihat wajah Billy yang terlihat begitu frustasi dan syok.


"Apa boleh aku minta sesuatu?" tanya Billy.


"Ada apa? Katakan saja."


"Bolehkah aku mulai bekerja besok? Hari ini, aku ingin menemani Bunga di sini."


"Tentu saja Billy, kau boleh mulai bekerja besok. Sekarang, temani Bunga dulu saja."


"Terima kasih Ronald."


"Ya, aku keluar dulu."


Billy pun mengangguk, kemudian menatap Bunga kembali dengan tatapan datarnya.


"Bunga, buka matamu. Ada aku di sini. Buka matamu Bunga, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."


***

__ADS_1


Setelah perdebatannya dengan Billy di kantin rumah sakit, Erina bergegas menuju ke rumah orang tua Billy, disertai berbagai perasaan campur aduk di dalam hatinya.


Masih teringat kembali semua perkataan Billy yang menyakiti hatinya, sekaligus juga ada rasa takut ketika mendengar jika Billy akan mencari tahu tentang kematian Alexa. Tetapi, hal yang lebih menyakitkan adalah sekarang semuanya telah berakhir dengan begitu cepat karena ada wanita lain yang kini benar-benar mengisi hati Billy. Melihat semua kenyataan pahit ini, Erina seolah merasakan kesia-siaan, semua usaha yang telah dia lakukan untuk mendapatkan Billy hasilnya nihil.


Akan tetapi, terlepas dari keputusan Billy yang telah memutuskan pertunangan secara sepihak, Erina jauh lebih sakit tatkala menyadari jika orang tua Billy seakan tak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan hubungan mereka. Seakan Erina hanya berjuang sendiri untuk mempertahankan Billy sejak laki-laki itu memutuskan hubungannya.


"Hai sayang, sudah pulang?" sambut Arini, Mama dari Billy dengan begitu ramah ketika Erina memasuki rumahnya. Namun, wanita itu tak menjawab kalimat basa-basi itu, dia lebih memilih duduk di hadapan Arini sambil menyilangkan kaki dan tangan bersedekap di dada.


"Bagaimana hasilnya? Dia masih mau kembali padamu dan meninggalkan wanita miskin itu kan? Apalagi, wanita itu sudah tidak ada lagi di kehidupan Billy, pasti dia sudah mau berpaling padamu lagi kan Erina?"


"Hasilnya masih sama seperti kemarin, Tante. Billy selalu menolakku!"


"Apa, dia masih belum tergoda denganmu?" tanya Arini sambil menatap pakaian yang dikenakan Erina.


"Apa dia tidak pernah tertarik pada penampilanmu? Erina, kau terlihat jauh lebih cantik dan berkelas, tidak seperti wanita itu yang kelihatan lusuh dan sangat menyedihkan itu. Aku sudah melihat fotonya di ponsel Mauren dan dia sangatlah berbeda denganmu."


"Nyatanya, Billy tidak pernah tertarik padaku, dan lebih menyukai janda dekil itu. Kedatanganku ke sini, untuk meminta pertanggung jawaban pada Tante dan Om. Kalian harus membuat Billy kembali takluk padaku. Kalau tidak, aku akan mencabut investasiku di perusahaan Om Wisnu. Aku sudah lelah mengemis pada Billy, dan sekarang waktunya Tante dan Om Wisnu untuk menunjukkan keseriusan kalian jika ingin hubungan kami berlanjut ke jenjang pernikahan."


"Tapi Erina, kita juga harus berusaha bareng-bareng dong, nggak mungkin cuma tante dan om aja yang maksa Billy supaya mau nikahin kamu."


"Aku sudah lelah Tante, sekarang saatnya tunjukkan kesungguhan Tante untuk meneruskan hubungan kami hingga ke jenjang pernikahan. Oh iya, satu lagi, orang yang aku suruh buat nabrak Bunga, minta uang lagi. Tolong Tante urusin dia ya!"


"Loh nggak bisa gitu dong kenapa kok jadi tante yang bayarin? Bukannya kamu udah bayar mereka?"


"Perjanjiannya waktu itu kan sampai perempuan itu lenyap dan Billy kembali padaku. Tapi malah sebaliknya, sekarang Billy semakin membenciku. Jadi, kuharap Tante juga ikut bertanggung jawab atas semua ini. Sekarang, aku pamit dulu, Tante. Tolong urusi semuanya," pamit Erina lalu pergi meninggalkan Arini begitu saja.


Melihat sikap Erina Arini pun merasa begitu geram. "Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus tahu siapa mantan suami Bunga sebelumnya, dia harus kembali pada laki-laki itu agar Billy bisa menikah dengan Erina. Ya, sebaiknya aku tanyakan pada Mauren, siapa mantan suami Bunga."

__ADS_1


__ADS_2