
"Tuan, setiap orang punya kesalahan. Saya tahu, anda dan Nyonya Mauren orang yang sangat baik. Akan tetapi, saya yang sudah merusak kebaikan yang ada pada diri kalian dengan perbuatan bodoh. Sudah sewajarnya anda marah pada saya karena rumah tangga anda jadi hancur, tidak ada yang perlu saya maafkan dari anda, Tuan. Awal dari masalah ini adalah pada diri saya sendiri."
"Bunga benar, memang awal dari semuanya adalah kecerobohan Bunga. Dulu, dia memang terlalu lugu dan naif, atas nama Bunga aku juga minta maaf pada kalian. Meskipun Kak Sean dan Bunga memiliki saat-saat kelam yang pastinya sulit kalian lupakan. Aku harap, kita semua bisa saling mengikhlaskan atas semua masa lalu buruk yang pernah terjadi, dan membuka lembaran baru. Karena sebentar lagi kami akan menikah. Kita bisa kan membuka hidup baru dan keluar dari belenggu masa lalu?"
"Tentu saja, Billy. Iya kan Mauren?"
Mauren pun mengangguk. Meskipun sebenarnya masih ada rasa sakit di dalam hatinya jika mengingat suaminya sudah pernah menyentuh wanita lain yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya, akan tetapi semua sudah terjadi.
Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi hidup tidak akan menjadi lebih baik jika terus-menerus menyesali masa lalu. Karena manusia hidup bukan untuk masa lalu, akan tetapi untuk masa depan. Jadi, daripada memikirkan masa lalu, lebih baik mengikhlaskan semua dan merangkai kembali masa depan yang lebih baik. Begitu yang ada dalam pikiran mereka.
"Bunga, sekarang aku tanyakan padamu, bagaimana dengan kedua orang tuaku? Bukankah mereka juga ikut andil menjadi dalang dari tabrak lari atas kecelakaan yang terjadi padamu? Apa kau mau menghukum mereka juga Bunga? Kalau kau melakukan itu aku ikhlas," ucap Billy.
"Ya aku juga ikhlas kalau kau ingin membawa orang tua kami pada pihak yang berwajib," sambung Mauren. Bunga menggeleng perlahan.
"Tidak usah, bagaiman mungkin aku tega memenjarakan calon mertuaku sendiri. Apapun pandangan mereka padaku, aku terima."
Billy menggenggam jemari Bunga. "Percayalah padaku mereka pasti akan menerimamu sebagai menantunya," ujar Billy disusul anggukan oleh Sean dan Mauren.
"Kami akan membantu kalian," sahut Mauren.
__ADS_1
Setelah ditangkapnya Erina, keesokan harinya orang tua Billy menemui Bunga dan meminta maaf atas semua perbuatan mereka. Mauren pun mencoba meyakinkan kedua orang tuanya jika Bunga adalah wanita yang baik, dan semua yang terjadi antara Bunga dan Sean hanyalah sebatas kecerobohan dan ketidaksengajaan semata.
Orang tua Erina menarik investasinya di perusahaan orang tua Billy, akan tetapi dia melakukan itu bukan karena marah, tapi karena malu atas perbuatan putrinya. Sedangkan perusahaan orang tua Mauren, diambil alih oleh Sean dan akhirnya terhindar dari kebangkrutan.
***
Dua bulan kemudian...
Hari ini adalah hari pernikahan Billy dan Bunga. Dengan keadaan bunga yang belum seutuhnya sembuh, wanita itu memutuskan tidak mengenakan gaun pengantin ataupun kebaya karena masih ada beberapa bagian tubuhnya yang masih sakit.
Tangannya yang mengalami retak tulang, meskipun gipsnya sudah dilepas, terkadang masih terasa linu. Jadi, saat acara pernikahan, Bunga hanya mengenakan sebuah kimono dress satin berwarna putih.
Di halaman rumah itu, sudah ada meja akad segi empat yang sudah dihias bunga berwarna putih dengan keempat kursi yang mengelilinginya.
Di atasnya, sudah ada berkas-berkas pernikahan yang telah disiapkan. Saat semuanya sudah siap, Billy duduk di hadapan seorang penghulu dan menjabat wali nikah dari Bunga, lalu mengucapkan janji suci pernikahan yang akan membuatnya bertanggung jawab atas hidup Bunga selanjutnya.
Tak berapa lama, teriakan "SAH" pun terdengar, dan kini mereka dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri. Billy menandatangani dokumen pernikahan terlebih dulu, setelah itu dia membimbing Bunga yang masih tampak kesusahan menandatangani dokumen pernikahan itu karena tangannya belum seutuhnya sembuh. Setelah itu, Bunga mencium punggung tangan Billy. Billy pun menunduk, lalu mendaratkan kecupan singkat di pelipis Bunga, hanya sekilas, tapi hangatnya seperti menjalar ke seluruh tubuh.
"Sekarang kita sudah sah menjadi suami istri," bisik Billy di telinga Bunga. Tangannya mengelus tangan Bunga dengan lembut. Bunga pun tertegun sejenak, seakan tidak percaya bahwa saat ini dirinya telah menjadi milik Billy.
__ADS_1
Bagi Bunga, dahulu pernikahan adalah hal yang terasa begitu mustahil. Akan tetapi, nyatanya sekarang dia sudah menikah dengan Billy, semua ini rasanya seperti sebuah mimpi. Mimpi Bunga yang telah menjadi nyata.
"Ayo semangat sembuh seutuhnya, setelah ini kita mulai menjalani kehidupan yang bahagia denganku Bunga. I love you, Istriku."
"Love you too, Suami."
Bunga pun tersenyum haru, kebahagiaan itu terasa begitu membuncah. Ya bahagia, sebuah kata yang dulu hampir Bunga lupakan bagaimana merasakannya, sekarang rasa itu sudah memenuhi hatinya. Kebahagiaan yang memang seharusnya dia dapatkan, setelah berbagai cobaan yang dia jalani, meskipun itu tidak mudah dan terasa berat.
Akan tetapi, Tuhan memang tidak pernah ingkar, baik buruknya perbuatan yang dilakukan oleh makhluk-Nya akan berbalik pada dirinya sendiri.
QS Al-Isra: 7
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.
TAMAT
NOTE: Terima Kasih yang sudah membaca kisah ini dari awal sampai akhir. Jangan lupa mampir juga ya ke novel GAIRAH SANG MANTAN (After Divorce)
__ADS_1