Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Menikah Kembali


__ADS_3

Bunga begitu tertegun mendengar perkataan Billy, laki-laki itu mengajaknya untuk menikah, sungguh dia tidak menyangka Billy akan berkata seperti itu saat dia baru saja sadar dari musibah yang menimpanya. Bisa dibilang ini terasa begitu cepat dan begitu mengejutkan.


Saat ini, Bunga hanya terdiam, dia tidak bisa membalas pertanyaan Billy, karena dia pun tak tahu jawabannya.


"Apa kau mau menikah denganku, Bunga?" tanya Billy kembali, laki-laki itu menaruh tangannya di atas punggung tangan Bunga, lalu menggenggam tangan itu dengan hangat, seolah meminta jawaban.


Akan tetapi, Bunga masih saja terdiam, dan masih bingung harus menjawab apa atas penawaran Billy padanya. Ya, dalam benak Bunga, yang dikatakan oleh Billy memang hanya sebatas penawaran, karena dia tidak tahu maksud Billy tiba-tiba mengajaknya menikah.


"Apa kau kasihan padaku?" tanya Bunga.


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Dokter, bukankah keadaanku memang menyedihkan? Kau pasti hanya sebatas kasihan padaku, kan?"


"Tidak Bunga, tidak hanya sebatas itu, pernikahan bukanlah permainan Bunga, karena ini menyangkut perasaan dan tentunya kehidupan yang akan dijalani bersama. Perlu kau tahu, aku memang mencintaimu. Aku tulus mencintaimu, Bunga. Percayalah padaku."


Bunga pun terkejut mendengar pernyataan cinta Billy yang begitu tiba-tiba. Semua memang terasa begitu mengejutkan baginya, saat dia baru saja tersadar antara hidup dan mati, dia harus mendengar ajakan menikah dari Billy. Dan ketika Bunga masih berusaha menata hatinya, laki-laki itu pun menyatakan cinta padanya.


Sebenarnya hal ini adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidup Bunga. Akan tetapi, saat kembali mengingat perbedaan antara dirinya dan Billy, Bunga merasa begitu sedih. Rasanya ada sebuah dinding pembatas yang begitu tebal, menghalangi hubungan mereka. Tak dapat dipungkiri, bagaimanapun juga status mereka berbeda dan menikah dengan laki-laki yang terlihat begitu sempurna di matanya sungguh membuat Bunga merasa rendah diri.


Bunga menyadari, dia tidaklah sebanding dengan Billy, dia hanyalah seorang wanita yatim piatu dan juga seorang janda. Bagi Bunga, hanya laki-laki bodoh yang mau menerima dirinya.


Tak ada apapun yang dia miliki, apalagi kelebihan dalam dirinya. Jika dibandingkan dengan Erina, wanita itu sangatlah tidak sebanding dengannya. Bunga, hanyalah sebatas wanita yang patut dikasihani, sedangakan Erina, wanita itu sangat sempurna, begitu yang ada di dalam benak Bunga.


Itulah alasannya, mengapa dia menanyakan alasan Billy menikahinya terlebih dulu. Karena bagi bunga Billy menikahinya hanya sebatas rasa kasihan. Melihat Bunga yang masih terdiam akhirnya Billy pun membuka suaranya.

__ADS_1


"Baiklah Bunga, tidak apa kalau kau belum bisa menjawabnya. Aku akan memberimu waktu sampai kau yakin dengan jawabanmu. Tapi perlu kau ingat aku memintamu untuk menikah denganku karena aku benar-benar mencintaimu Bunga. Apa semua yang kulakukan belum cukup untuk menunjukkan rasa sayangku padamu?"


Mendengar perkataan Billy, Bunga pun hanya bisa memejamkan matanya. Rasanya hatinya terasa begitu sakit, menahan perasaan yang bergumul di dalam dada, logika dan hatinya benar-benar sedang berperang.


Dalam hati terdalam Bunga, tentunya dia sangat ingin menjawab iya dari pertanyaan Billy. Akan tetapi, akal sehatnya terus memaksanya untuk berpikir secara logis, dia tidaklah sebanding dengan Billy, begitulah yang ada di dalam benaknya.


"Terima kasih sudah mau mengerti, Dokter. Lalu, bagaimana keadaan Alea? Aku ingin bertemu putriku."


"Kau tidak perlu cemas Bunga, Alea baik-baik saja, saat ini dia sudah ada di ruang perawatan. Aku sudah meminta temanku untuk memberikan perawatan terbaik pada Alea."


Lagi-lagi, Bunga pun hanya bisa meneteskan air matanya. Entah sudah berapa kali air mata itu menetes, setelah dia bangun dari tidur panjangnya. Dadanya terasa semakin sesak, melihat semua kenyataan yang ada.


Sejujurnya dia pun sangat mencintai Billy, laki-laki yang begitu baik padanya, ada sebuah rasa tidak rela jika dia melepaskan laki-laki sebaik itu begitu saja. Hatinya terus meronta, seakan tak sanggup lagi menahan rasa cinta di dada. Akan tetapi, logikanya terus menolaknyanya, karena dia tak sebanding dengan Billy.


"Bunga, kenapa kau berkata seperti itu? Apakah kau ragu pada perasaanku? Atau apa kau ragu jika aku tidak bisa menyayangi Alea seperti putri kandungku? Bukankah kau tahu aku juga sangat menyayangi Alea?"


"Bukan itu dokter, tapi tolong pikirkan sekali lagi. Ada banyak yang harus dipikirkan lagi, karena pernikahan juga tidak hanya sebatas hubungan dua orang insan saja. Tapi, kita juga harus memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tua anda. Bukankah anda sudah dijodohkan dengan Erina? Saya tidak mau ada hati yang tersakiti, Dokter."


"Bunga dengarkan aku, aku tidak butuh restu keluargaku untuk menikahimu, yang aku butuhkan hanya jawaban darimu. Setelah itu, aku akan mengurus semuanya. Mungkin ini terdengar egois, tapi aku memang ingin bersanding denganmu. Aku tahu jalan yang akan kita lalui pasti tidak mudah, tapi percayalah aku akan selalu berusaha untuk melindungimu dan juga menyayangimu dengan segenap hatiku."


Billy kembali menggenggam jemari Bunga. "Ayo cepat sembuh Bunga, agar kita bisa menjalani pernikahan dengan kebahagiaan."


"Tapi dokter, kau juga harus ingat kembali statusku. Aku hanyalah seorang janda. Mungkin, anda tidak mempermasalahkan itu, tapi apa keluarga anda juga mau menerima Alea?"


"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak pernah peduli dengan keluargaku, yang aku pedulikan hanyalah kebahagiaan kita, aku, kamu, dan Alea, tanpa ada mereka."

__ADS_1


"Dokter, anda tidak tahu siapa Alea sebenarnya." Billy pun mengerutkan keningnya seraya menatap Bunga dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Memangnya ada apa dengan Alea? Apa keraguanmu padaku itu ada hubungannya dengan ayah kandung Alea? Kalau aku boleh tahu, siapa sebenarnya ayah kandung dari Alea, Bunga?"


***


Sepanjang malam Mauren tidak bisa tidur, dia terus berpikir dan mempertimbangkan keputusan apa yang harus diambil atas kenyataan yang tengah terjadi. Mempertahankan pernikahannya dengan utuh, atau membantu orang tuanya. Semua terasa begitu rumit baginya.


Mauren mengusap air matanya kemudian menatap Sean yang saat ini masih terlelap sambil menahan tangisan dan suara paraunya, tentunya dia tidak ingin laki-laki itu terbangun dan melihat keadaannya yang begitu menyedihkan.


Gelapnya malam pun memudar, suara ayam berkokok mulai terdengar nyaring. Sang fajar telah menyingsing, untuk segera disambut penghuni bumi yang akan memulai aktifitas.


Sadar jika pagi sudah menyapa, Mauren yang tidak bisa tidur semalaman bangkit dari atas ranjang di tengah kerapuhan jiwa dan raganya. Setelah menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Sean, wanita itu pun membangunkan suaminya. "Mas, bangun!"


Mendengar suara lembut dari Mauren, perlahan Sean pun membuka matanya. "Selamat pagi istriku, Sayang," sapa Sean, tetapi Mauren tak lekas menyahut.


"Mas ada yang ingin kubicarakan, maaf kalau ini terdengar begitu mendadak. Tapi aku benar-benar minta tolong sama kamu, Mas."


Mendengar balasan sapaan pagi hari yang mengejutkan dari Mauren, tentunya Sean pun merasa terkejut. "Ada apa Mauren? Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?"


"Apa kau mau mengabulkan permintaanku?"


"Tentu saja Mauren, bukankah kau tahu aku sangat mencintaimu? Aku janji akam melakukan apapun yang kau minta."


"Kalau begitu, menikahlah kembali dengan Bunga. Tolong rujuk dengan Bunga, Mas."

__ADS_1


__ADS_2