Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Babak Belur


__ADS_3

"A-aaah... Sa-sa-kit, Tu-an!" rintih Bunga, sedangkan Sean yang melihat Bunga kesakitan tampak tersenyum penuh kebahagiaan.


"Wanita seperti dirimu memang tidak pantas hidup di dunia! Dan aku, sangat membencimu! Kau sudah menghancurkan harga diri dan citra perusahaanku! Tak hanya itu, rumah tanggaku pun hampir saja hancur karena ulahmu! Lalu, saat itu kau bisa apa? Tidak ada yang bisa kamu lakukan selain melarikan diri dari kekacauan yang telah kau buat! Apa kau mengerti hah? Dasar wanita sialan!"


"Ma-ma-af-ka-kan... Sa-ya, Tuan," balas Bunga dengan suara yang terputus, seraya menahan sakit karena cekikan di lehernya. Bahkan, matanya kini juga sudah terpejam, seakan sudah tak mampu lagi untuk menghirup oksigen yang ada di sekelilingnya. Bunga pun hanya bisa pasrah, dengan kematian yang seolah sudah akan menjemputnya.


"Tuhan, tolong maafkan semua kesalahanku. Tolong bantu Tuan Sean, untuk memperbaiki semua masalahnya. Masalah yang sebenarnya timbul akibat ulah dan kecerobohanku. Tuhan, aku titip Alea agar dia bisa mendapatkan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya," batin Bunga sebelum nafas terakhir yang akan dia hembuskan, akan tetapi di tengah kepasrahan itu, tiba-tiba ponsel Sean yang berbunyi.


Dengan tangan kanannya, Sean mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Sedangkan, tangan kirinya tetap mencekik Bunga. Merasakan cekikan di lehernya yang melonggar, Bunga pun mulai bisa bernafas kembali. Meskipun, dia belum bisa bernafas dengan lega, tetapi setidaknya ada secercah harapan untuk selamat. Sedangkan Sean yang melihat nama Mauren tertera di ponselnya, gegas mengangkat panggilan telepon itu.


[Halo Sayang, ini sudah malam kenapa kamu belum pulang?]


[Maaf Mas, sepertinya malam ini aku tidak pulang. Aku harus menginap di rumah Papa dan Mama karena ada sesuatu hal yang terjadi, dan harus kami bicarakan sekarang juga.]


[Sesuatu hal? Apa itu? Acaranya berjalan dengan lancar, kan?] tanya Sean. Tetapi, tak ada jawaban dari Mauren.


[Sepertinya aku tidak bisa menjelaskan ini lewat sambungan telepon, besok saja ya, saat aku pulang.]


[Tapi Mauren, aku tidak mau tinggal berdua dengan wanita sialan itu.]

__ADS_1


[Mas, tolong jangan bicara seperti itu pada Bunga.]


[Mauren, jangan membela gadis sialan itu di depanku, kalau kau masih ingin dia tetap tinggal di rumah ini.]


[Baiklah.] jawab Mauren di ujung sambungan telepon, sambil menghela nafas panjang.


[Mauren, bagaimana kalau malam ini aku menyusulmu untuk menginap di rumah Papa dan Mama.]


[Tapi Mas, bagaimana dengan Bunga?Aku tidak tega membiarkan Bunga di rumah sendiri.]


[Apa maksudmu sendiri, Mauren?Bukankah di rumah ini juga ada Bi Arni dan beberapa pembantu lainnya. Belum lagi ada satpambjaga di depan, dia pasti aman.]


[Baiklah kalau begitu, kau ke sini sekarang saja, Mas.]


[Terima kasih, Sayang. Aku pergi sekarang ya.]


[Iya Mas.] jawab Mauren, lalu menutup sambungan telepon itu. Sedangkan Sean, bergegas menarik tangannya dari leher Bunga.


"Malam ini kau bisa selamat, tetapi jangan bahagia dulu karena aku masih punya 1000 cara untuk membunuhmu! Hahaha..." Tawa riuh Sean pun terdengar menggelegar, meninggalkan Bunga yang saat ini menyenderkan tubuhnya seraya menetralisir nafasannya.nBegitu deru mobil Sean terdengar meninggalkan rumah itu, Bunga pun akhirnya menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih kau sudah menyelamatkanku," gumam Bunga.


Setelah itu, dia berjalan ke dalam kamar, dengan tubuh yang terasa begitu bergetar. Sesampainya di kamar, Bunga menatap wajah Alea yang saat ini telah terlelap. Bibirnya terlihat melengkung, meskipun disertai rasa sakit di dada.


"Apapun yang terjadi, percayalah mama akan selalu berusaha melindungimu, Sayang," ucap Bunga, lalu memeluk tubuh putrinya.


Ketika baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tiba-tiba terdengar kembali suara deru mobil memasuki rumah itu. Bunga pun begitu terkejut, sekaligus takut jika Sean kembali ke rumah tersebut.


Wanita itu pun bergegas bangkit dari atas ranjang, bermaksud untuk mengunci pintu kamarnya. Tetapi, saat dia sedang berjalan ke arah pintu, secara tak sengaja Bunga melirik ke arah balkon, dan mobil yang memasuki rumah itu bukanlah mobil sedan hitam milik Sean. Namun, mobil berjenis SUV warna putih.


Bunga pun mengenali siapa pemilik mobil tersebut, merasa ingin memastikan sosok yang datang, apakah sama seperti yang ada di pikirannya atau bukan, Bunga pun bergegas berjalan ke arah balkon kamar. Dan, saat dia berdiri di balkon itu, tampak sosok laki-laki yang dia pikirkan keluar dari mobil tersebut. Sadar akan sosok yang sedang berdiri di balkon, laki-laki itu kan itu pun mendongakkan kepalanya, setelah turun dari mobil. Dia lalu tersenyum melihat sosok Bunga.


Melihat senyuman di wajah laki-laki itu, reflek Bunga pun membalas senyumannya. Tak hanya itu saja, entah mendapat keberanian dari mana, tiba-tiba Bunga keluar dari kamar tersebut. Seolah mendapatkan tenaga baru, Bunga bergegas lari dan membuka pintu rumah itu.


"Dokter Billy," sapa Bunga saat membuka pintu dan melihat sosok yang saat ini berdiri di depannya. Laki-laki itu pun tersenyum.


"Awalnya aku ragu mampir ke rumah ini, kupikir kau sudah tidur, tapi kata hatiku mengatakan kalau malam ini aku harus bertemu denganmu. Jadi, aku mampir ke sini sebentar untuk memberikan ini padamu," ujar Billy sambil memberikan sebuah paper bag pada Bunga. Namun, sebelum Bunga mengambil paper bag itu, atensinya tertuju pada wajah Billy.


"Dokter, ada apa dengan wajah anda? Kenapa wajah anda babak belur seperti itu?"

__ADS_1


"Oh ini, tidak apa-apa. Emh Bunga, maukah kau pergi denganku?"


__ADS_2