Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Pengakuan


__ADS_3

"Ya menikah, apa kau sudah lupa kita sudah bertunangan lebih dari 2 tahun lamanya? Kau pikir, memangnya mau dibawa ke mana hubungan ini kalau tidak berujung pada pernikahan, Billy? Aku juga butuh kepastian."


Billy hanya terdiam mendengar perkataan Erina. "Kenapa kamu diam? Kau seharusnya bahagia dengan rencana pernikahan kita."


"Tapi, aku masih ingin mengejar karir, Erina."


"Apa? Karir? Tapi kita sudah bertunangan selama 2 tahun lebih, Billy. Berapa lama lagi aku harus menunggumu? Berapa lama lagi aku harus selalu mengerti keadaanmu?"


"Tapi maaf, aku tidak ingin dimengerti. Kau yang memaksaku untuk menjalani hubungan yang tidak pernah aku inginkan. Bukankah kau sudah tahu konsekuensinya, Erina?"


"Ini sudah 2 tahun Billy, memangnya kau belum bisa membuka hatimu untukku?"


"Kau pikir, jatuh cinta itu mudah? Aku pernah jatuh cinta sekali dan belum bisa merasakan jatuh cinta lagi. Jadi, maaf..."


"Tapi, kau harus sadar Billy, Alexa sudah meninggal. Kau harus membuang rasa cintamu itu jauh-jauh, dan membuka lembaran baru. Kau seharusnya juga sadar, akulah yang berhak menempati hatimu saat ini karena aku adalah tunanganmu!"


"Sekali lagi maafkan aku, Erina. Tidak semudah itu untuk melupakan dan jatuh cinta pada hati yang lain. Kau tenang saja, nanti malam pasti aku datang pada pertemuan keluarga kita. Sekarang, aku sibuk, jadi lebih baik kau pulang saja," ucap Billy. Laki-laki itu, lalu berjalan meninggalkan Erina yang masih terdiam sambil menatapnya dengan tatapan nanar.


***


Sementara itu, mata Sean perlahan terbuka saat mendengar suara bayi yang sedang menangis. Awalnya, dia pikir itu adalah suara Zico. Tetapi, dia baru menyadari jika suara tangis itu bukanlah suara putranya.


Saat Sean menoleh ke sampingnya, tampak Mauren masih terlelap sambil mendekap tubuh kekarnya itu. Begitu pula, dengan Zico, dia masih berada di box bayi yang letaknya tidak jauh berada di dekat ranjang mereka berdua.

__ADS_1


"Zico dan Mauren masih berada di kamar ini. Lalu, siapa bayi yang menangis di luar? Kedengarannya, bayi itu memang suara bayi perempuan. Apa ada tamu atau saudara kami ada yang datang ke rumah ini?" gumam Sean. Karena merasa penasaran, dia pun bangkit dari atas ranjang, lalu keluar dari kamar tersebut menuju ke arah sumber suara bayi itu.


Sedangkan Bunga, yang saat ini sedang berada di dapur untuk membuatkan Alea susu, tampak terkejut dengan kedatangan Sean. Begitu pula dengan Sean, yang saat ini hanya berdiri mematung sambil menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Kau? Untuk apa kau ada disini?" teriaknya pada Bunga. Wanita itu pun hanya menunduk sambil memberikan dot yang sudah berisi susu pada Alea.


"Apa kau bisu, hah? Dasar wanita bodoh! Jawab pertanyaanku! Siapa yang menyuruhmu datang ke rumah ini?" teriak Sean pada Bunga.


"Aku yang menyuruhnya datang dan tinggal di rumah kita," sahut sebuah suara yang berasal dari arah belakang.


"Sayang, kenapa kau melakukan hal seperti itu?" balas Sean pada Mauren yang saat ini sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Mas, kau pikir siapa bayi yang ada di gendongan Bunga? Dia putrimu, dan dia berhak mendapatkan yang menjadi haknya sebagai anak kandungmu, sama seperti Zico."


"Tapi, aku tidak mau mengakui bayi itu, Mauren. Mengertilah, anakku satu-satunya hanyalah Zico!"


"Aku sudah menalak wanita sialan itu! Jadi, dia tidak berhak tinggal di rumah ini."


"Tapi putrinya berhak untuk tinggal di rumah ini sekaligus mendapat pengakuan darimu. Jadi, aku akan tetap menyuruh Bunga dan Alea tinggal di paviliun belakang."


"Kenapa kau mengambil keputusan sepihak, Mauren? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Lalu, bagaimana kau bisa menemukan wanita itu dan membawanya ke rumah ini? Aku tidak mau rumah tangga kita kembali terganggu akibat wanita sialan itu, Mauren!"


"Tentang bagaimana aku bisa menemukan Bunga, itu bukanlah urusanmu karena takdirlah yang sudah mempertemukan kita. Bagaimanapun juga, Alea adalah putri kandungmu dan dia berhak mendapatkan pengakuan darimu."

__ADS_1


"Dan sampai kapanpun, aku tidak akan mengakui bayi itu sebagai putriku. Jadi, jangan pernah berharap apapun padaku. Apa kalian mengerti?" Sean kemudian berjalan meninggalkan Bunga dan Mauren dengan amarah yang begitu mengelora di dada.


Tentunya, dia merasa dipecundangi oleh Mauren karena istrinya itu tiba-tiba saja mengambil keputusan sepihak untuk menyuruh Bunga dan Alea tinggal bersama mereka. Dia pun juga tidak tahu bagaimana caranya Mauren menemukan Bunga dan membawanya ke rumah ini. Mungkin saja, saat bertemu dengannya kemarin siang di rumah sakit, Mauren sudah tahu keberadaan Bunga, begitu yang ada di pikiran Sean saat ini. Apalagi, sepanjang perjalanan, Bunga tampak diam termenung, seakan memperkuat dugaannya itu.


Menyadari hal tersebut, Sean pun merutuki dirinya sendiri yang sudah terlambat untuk mencegah hal itu. Padahal, dia sudah memiliki rencana untuk menghilangkan jejak Bunga dan putrinya dari kehidupan mereka.


Namun, semesta mungkin belum berpihak padanya. Dan sekarang, mau tidak mau dia harus menerima kehadiran Bunga dan Alea di rumah itu. Setidaknya, untuk sementara waktu sampai dia memiliki cara untuk mengusir Bunga dari rumah tersebut, begitu yang ada di dalam benak Sean untuk saat ini.


Sedangkan di lantai bawah, Mauren tampak mendekat pada Bunga, lalu mengelus pundak wanita itu. "Maafkan sikap kasar suamiku, maafkan aku juga, sudah sikap kasar padamu tadi malam. Maaf aku sudah menamparmu. Sebagai seorang wanita, aku tidak bisa menampik jika aku masih merasa marah dan kesal, karena sikap cerobohmu yang sudah mengganggu keutuhan rumah tangga kami. Tapi, bagaimanapun juga saat ini suamiku memiliki seorang putri darimu. Dan aku, menyuruhmu tinggal di sini semata-mata karena putrimu itu."


"Terima kasih atas kebesaran hati anda Nyonya Mauren, anda baik sekali," balas Bunga, seraya menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kau urus saja putrimu. Aku susul dulu suamiku untuk memberikan penjelasan agar dia mau menerimamu dan juga putri kalian."


"Sekali lagi, terima kasih banyak, Nyonya Mauren."


"Ya," balas Mauren. Setelah itu, dia mendatangi kamarnya dengan Sean, lalu mendekat pada suaminya itu, yang terlihat masih begitu kesal.


"Maafkan aku sudah mengambil keputusan sepihak. Aku tahu kamu membenci wanita itu, tetapi bagaimanapun juga kau memiliki anak kandung dengannya. Kau harus memikirkan kondisi psikologis putrimu kelak, Mas. Kau tidak boleh egois, kau mengerti kan? Itu semua sudah menjadi konsekuensimu."


Sean hanya terdiam tidak mau menjawab pertanyaan dari Mauren. "Baiklah Mas, kalau kau diam, itu artinya kau mau menerima keputusanku ini. Sekarang, aku pamit dulu. Aku harus pergi ke rumah orang tuaku, karena nanti malam ada acara makan malam keluarga untuk membicarakan pernikahan Billy. Jadi, hari ini segala keperluanmu, biar Bunga yang akan menyiapkan. Aku pergi dulu, Mas."


"Apa-apaan ini, Mauren? Aku tidak mau dilayani oleh wanita sialan itu!"

__ADS_1


***


Sementara itu, Bunga yang mendengar percakapan mereka dari balik pintu, tampak terisak. "Tuhan, mengapa harga yang harus kubayar karena telah merusak rumah tangga orang lain terasa sangat mahal. Apa aku tidak bisa kembali hidup bahagia, meskipun sebentar saja?"


__ADS_2