
Sean mengangkat kakinya dari atas telapak tangan Bunga, lalu menatap wanita itu dengan tatapan penuh cemooh. "Sakit ya? Maaf, aku tidak sengaja," ucap Sean dengan begitu entengnya. Dia lalu berjalan meninggalkan Bunga yang masih meringis kesakitan.
Namun, saat baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya. Sean kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Bunga kembali.
"Bagaimana rasanya? Sakit kan? Begitulah yang kualami karena kecerobohan dan sikap tolol yang kau lakukan padaku. Rasa sakit, bahkan sampai saat ini. Apa otakmu terlalu bodoh hingga berbuat seceroboh itu, hah! Hampir saja rumah tanggaku hancur. Tak hanya itu, kau juga sudah menggagalkan bisnisku di perkebunan. Nama baikku tercemar, serta perusahaanku rugi ratusan juta. Dan itu, gara-gara kau dasar wanita sialan!" bentak Sean, lalu pergi meninggalkan Bunga yang saat itu masih terisak.
"Maafkan aku, maaf kalau kesalahanku begitu besar padamu," isak Bunga, seraya mencabut serpihan gelas yang menempel di telapak tangannya.
***
Sementara itu, di rumah sakit, Billy tampak begitu gundah. Dia bahkan tidak fokus dalam melakukan pekerjaannya. Beberapa kali, dia sampai salah mendiagnosis dan juga salah memberikan resep pada beberapa pasiennya. Untung, perawat yang menemani, langsung memperingatkan Billy.
Billy pun menghela napas seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Saat ini, yang ada di pikiran Billy hanyalah Bunga dan Alea. Tiba-tiba, dia merasa sangat mencemaskan mereka berdua. Keduanya menghilang begitu saja, bahkan saat dia menanyakan pada perawat jaga, para perawat tersebut mengatakan jika mereka hanya melaksanakan perintah dokter jaga untuk mengizinkan Alea pulang.
"Dokter, anda sepertinya sedang tidak sehat. Lebih baik, anda beristirahat saja," ucap seorang perawat yang menemani.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Emh begini, Dokter. Saya tahu, nanti malam ada acara penting kan? Jadi, sebaiknya dokter pulang saja, daripada pikiran dokter kacau karena memikirkan acara pertemuan keluarga nanti malam."
__ADS_1
"Dari mana kau tahu?" balas Billy, tentunya dia terkejut ketika mendengar perawat yang mendampinginya itu, sampai mengetahui kalau nanti malam ada pertemuan keluarga.
"Oh kalau itu, tadi tunangan anda yang mengatakan pada kami semua."
"Apa? Erina yang mengatakan pada kalian semua?"
"Iya Dok, bahkan dia juga mengatakan kalau sebentar lagi kalian berdua akan menikah."
"Jadi, Erina menceritakan hal itu pada kalian?"
"Iya dokter."
"Mungkin, dia tidak ingin ada wanita lain yang mendekati anda. Jadi, Nona Erina memilih untuk menceritakan hal itu pada kami semua. Anda tenang saja dokter, kami bisa memaklumi sikap tunangan anda."
"Terima kasih atas pengertiannya, Suster. Mungkin, ada benarnya apa yang kau katakan kalau saat ini sebaiknya aku pulang saja."
"Iya dokter," jawab suster tersebut. Billy kemudian keluar dari ruang kerjanya. Awalnya, dia memang berniat untuk menemui Erina. Tetapi, saat melewati ruang CCTV, dia mengurungkan niatnya dan memilih membelokkan tubuhnya menuju ke ruang CCTV tersebut.
"Tolong tunjukkan rekaman CCTV di depan ruang edelweis 5 tadi malam!" perintah Billy, pada petugas CCTV. Petugas itu pun langsung menunjukkan CCTV yang berada di dekat ruang perawatan Alea. Dari rekaman itu, saat jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam, tampak seorang wanita masuk ke ruang perawatan Alea.
__ADS_1
"Coba percepat menjadi setengah atau satu jam kemudian!" perintah Billy kembali.
"Baik dokter."
Setelah satu jam lamanya wanita itu masuk ruang perawatan Alea, akhirnya tampak 2 sosok keluar dari ruang perawatan tersebut. Salah satu dari mereka, adalah Bunga yang menggendong Alea. Sedangkan wanita yang lain, adalah sosok yang tak asing bagi Billy.
Dia pun akhirnya mendapat jawaban, jika wanita yang berjalan keluar dari ruang perawatan Alea bersama Bunga adalah Mauren, kakak kandungnya sendiri.
"Apa? Kak Mauren yang membawa Bunga keluar dari rumah sakit ini? Mengapa dia melakukan itu? Apa dia masih menginginkan Bunga untuk bekerja di rumahnya? Padahal, dia sudah tahu kalau Bunga saat ini sedang memiliki anak kecil. Dia tidak mungkin bisa bekerja maksimal untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga di rumahnya yang besar itu. Hmm, kalau begini lebih baik aku pergi ke rumah Kak Maureen saja, untuk memastikan apakah Bunga masih ada di rumah tersebut," gumam Billy. Gegas, dia keluar dari ruang CCTV kemudian mengendarai mobilnya menuju ke rumah Mauren.
***
Sementara itu, di kamarnya Bunga tampak sedang mengobati lukanya sendiri. Bi Arni yang mengetahui jika tangan Bunga terluka, langsung memberikan kotak P3K padanya. Namun, saat wanita paruh baya itu menawarkan bantuan untuk mengobati luka Bunga, wanita itu menolak. Entah mengapa, rasanya dia ingin menikmati luka itu sendiri, luka hati dan juga raganya terasa membentuk sebuah luka yang sempurna di hidupnya.
Saat sedang mengobati luka itu, tiba-tiba bayangan Billy kembali terlintas dalam benaknya. Bunga juga membayangkan jika Billy datang dan mengobati lukanya. Lamunan itu, bahkan membuat senyum terukir di bibirnya. Sebut saja, senyuman di tengah luka.
"Astaga, apa yang kupikirkan? Aku tidak boleh berpikir seperti itu. Statusku dan juga Dokter Billy, sangatlah berbeda, dan tidak sepadan. Apalagi, jika mengingat kondisiku saat ini. Aku hanya seorang janda miskin beranak satu. Sedangkan Dokter Billy, statusnya masih single, tampan, kaya dan juga mapan. Tuhan, tolong buang jauh-jauh pemikiran bodoh ini," batin Bunga. Saat baru saja, dia selesai membatin di dalam hati, tiba-tiba terdengar suara bel yang berbunyi.
TETTT TETTT
__ADS_1