Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Kakak Ipar Anda


__ADS_3

"Apa, kau jangan becanda, Mauren?" Arini tergagap.


"Mama pikir, aku sedang becanda? Aku mengatakan yang sebenarnya, Ma. Mantan suami Bunga adalah suamiku sendiri."


Arini tampak menutup mulutnya, sedangkan Erina hanya menatap Mauren dengan tatapan kosong. Mereka berdua seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mauren, tetapi raut wajah Mauren menunjukkan jika dia tidaklah sedang berbohong.


"Kenapa, apa kalian terkejut?"


"Mauren kau tidak sedang membohongi kami, kan! Kau tidak sedang berbohong untuk menutupi siapa mantan suami Bunga sebenarnya, kan?"


"Tidak, apa untungnya aku berbohong? Kenyataannya, Bunga adalah mantan istri suamiku. Mereka menikah karena tragedi yang tadi kuceritakan, tidak ada cinta di antara keduanya, dan Mas Sean memang sudah menceraikan Bunga karena dia sangat membenci wanita itu. Erina, itulah alasan yang sebenarnya mengapa Bunga tinggal di rumahku, karena aku kasihan dengan putri Bunga, yaitu Alea. Bagaimanapun juga, dia adalah darah daging dari suamiku. Sejujurnya, aku memang tidak terlalu menyukai Bunga karena bagaimanapun juga dia sudah merusak rumah tangga kami. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri Alea tetaplah anak kandung dari suamiku."


"Dasar wanita penghancur hubungan orang! Dia memang hanya ingin menghancurkan kebahagiaan dan hubungan orang lain," sahut Erina dan diiyakan oleh Arini dengan menganggukkan kepalanya.


"Kau benar Erina, wanita itu memang seperti ular, selain sudah menghancurkan rumah tangga Mauren, dia pun sudah menghancurkan hubunganmu dengan putraku Billy. Dia sudah menghancurkan kebahagiaan dari anak-anakku."


"Lantas, bagaimana? Apakah kalian masih mau memintaku untuk meminta Mas Sean agar rujuk dengan wanita itu?"


Erina dan Arini pun saling bertatapan, mereka terdiam sejenak lalu Erina mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Begini Kak Mauren, sebenarnya aku sangat berharap bisa kembali pada Billy, dan kau tahu kan hanya itu satu-satunya cara, yaitu dengan meminta Kak Sean rujuk dengan Bunga. Dan semua ini, hanya tergantung keikhlasan darimu saja, Kak Mauren. Jika kau ikhlas Kak Sean rujuk dengan Bunga, aku akan sangat berterima kasih dan mendukung rencanamu itu. Begitu kan, Tante Arini?"

__ADS_1


Arini tak lekas menyahut pertanyaan dari Erina, dia hanya menatap Mauren dengan tatapan sayu, sekaligus iba. Karena sejujurnya, jauh di lubuk hati terdalamnya, bagaimanapun juga dia tidak rela jika mengorbankan kebahagiaan putrinya itu.


Akan tetapi, jika hal itu tidak dilakukan, maka perusahaan suaminya akan hancur, dan hal itu sangat rumit bagi Arini hingga membuat wanita itu hanya bisa termenung, tak tahu harus menjawab apa.


"Tante Arini, bagaimana? Apa kau setuju kalau Kak Sean rujuk kembali dengan Bunga?" tanya Erina kembali.


"Kalau aku, terserah pada Mauren saja, apapun keputusan yang Maure ambil, aku yakin itu adalah jalan terbaik bagi kalian semua," putus Arini pada akhirnya seraya menutup kedua matanya. Tentunya, dia tak tega jika melihat putrinya terluka.


"Kak Mauren, bagaimana? Semua keputusan ada di tanganmu Kak, aku hanya meminta keikhlasan darimu agar bisa kembali berbagi dengan Bunga. Lagi pula, Kak Sean juga tidak pernah mencintai Bunga kan? Jadi, kau tidak perlu takut kalau sampai Kak Sean berpaling pada Bunga. Pernikahan Kak Sean dan Bunga, hanyalah sebagai status dan juga pembatas agar Bunga tidak bisa memiliki hubungan lagi dengan Billy. Bukankah kau juga mau menyelamatkan perusahaan Om Wisnu, Kak Mauren?"


Mauren hanya terdiam. "Kak Mauren, memangnya kau tega melihat perusahaan Om Wisnu hancur hanya karena keegoisanmu semata, Kak?"


Mauren pun menggeleng pelan. "Aku akan berusaha membujuk Mas Sean kembali agar mau rujuk dengan Bunga," lirih Mauren.


***


Bunga saat ini sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Pagi ini, Billy tampak membuka pintu ruang perawatan itu disertai sebuah senyum manis di bibirnya. Tentu, laki-laki itu merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan Bunga, padahal sebelumnya Bily sudah putus asa mencari keberadaan Bunga.


Akan tetapi, takdir mempertemukan mereka kembali, mungkin semesta memang berpihak pada mereka, begitulah yang ada di dalam benak Billy, karena itulah dia memberanikan diri untuk mengajak Bunga menikah, karena dia yakin jika Bunga adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya.


"Selamat pagi calon istriku," sapa Billy pada bunga. Wanita itu pun tersenyum simpul, sebenarnya dia begitu bahagia mendengar sapaan dari Billy, akan tetapi dia harus kembali tersadar pada statusnya.

__ADS_1


"Jangan becanda di pagi hari, Dokter. Tolong terpikirlah dengan kepala dingin, pikirkan lagi baik-baik rencana anda untuk menikahi saya."


"Bunga, kenapa kau keras kepala sekali? Bukankah sudah kukatakan, aku cinta sama kamu, lalu apa yang buat kamu ragu? Apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku."


"Bukan itu maksud saya, Dokter. Saya sangat percaya pada anda, tapi saya memang tidak pantas untuk mendampingi anda."


"Apa karena statusmu itu? Jangan berpikiran sempit seperti itu, Bunga. Cinta itu tak bersyarat, dan kita tidak bisa memilih pada siapa hati kita akan berlabuh."


"Tidak hanya sebatas itu, Dokter. Karena ada hal lain yang perlu anda pertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menikahi saya."


"Memangnya ada apa lagi, Bunga?"


"Ini tentang, Alea."


"Alea? Bukankah sudah kukatakan padamu kalau aku juga sangat menyayangi putrimu itu?"


"Ya aku tahu, masalahnya tidak semudah itu setelah kau tahu siapa ayah kandung dari Alea sebenarnya, Dokter. Maaf kalau tadi malam aku belum bisa mengatakan siapa ayah kandung Alea. Mungkin, sekarang waktu yang tepat untuk memberitahumu siapa sebenarnya ayah kandung dari putriku itu," ujar Bunga seraya menegarkan hatinya.


Billy tampak mengerutkan keningnya sambil menatap Bunga dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Memangnya siapa ayah kandung Alea?"

__ADS_1


"Ayah kandung dari Alea, adalah Tuan Sean, kakak ipar anda."


__ADS_2