Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Selalu Menjagamu


__ADS_3

Arini pun bergegas menelpon Mauren.


[Halo Mauren.]


[Iya Ma.]


[Mauren, apa bisa kita bertemu? Ada suatu hal penting yang ingin mama bicarakan denganmu.]


[Tentu saja Ma, sebentar lagi aku pergi ke rumah Mama.]


[Terima kasih, Sayang.]


Satu jam kemudian, Mauren pun sudah sampai di rumah orang tuanya. "Kau sudah datang, Mauren? Ayo sini duduk!" ajak Arini saat melihat putrinya masuk ke dalam rumah. Wanita itu pun mengikuti perintah mamanya untuk duduk di sofa ruang tengah.


"Ada apa Ma? Kelihatannya ini sangat penting."


"Begini Mauren, apa kau mau membantu Mama?"


"Tentu saja, apapun akan kulakukan untuk Mama."


"Terima kasih nak, ini sangat penting karena berhubungan dengan bisnis papamu, Sayang."


"Iya Ma, apalagi kalau ada hubungannya dengan Papa, pasti aku akan membantu kalian berdua."


"Terima kasih atas pengertianmu, Mauren. Memang, hal ini sangat penting, berhubungan dengan kelangsungan perusahaan papa, karena jika kau tidak membantu kami, maka perusahaan papa bisa hancur, Nak."


"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi, Ma?"


"Mauren, Erina mengancam akan mencabut investasinya di perusahaan Papa jika kita tidak mau membantunya untuk mendapatkan Billy."

__ADS_1


Mendengar perkataan Arini, tentunya Mauren merasa terkejut, dia pun menggenggam tangan mamanya untuk menenangkan hati orang tuanya itu yang kini terlihat begitu cemas.


"Mama, aku janji akan melakukan apapun untuk membantu mama," ucap Mauren dengan tatapan hangat, sekaligus untuk meyakinkan orang tuanya jika apapun akan dia lakukan untuk membantu mereka, apalagi jika ada hubungannya dengan hubungan Billy dan Erina, Mauren tak akan segan untuk membantu agar mereka bisa bersatu kembali.


"Iya sayang, mama tahu kamu anak yang baik."


"Memangnya apa yang harus aku lakukan, Ma?"


"Begini sayang, ini ada hubungannya dengan Bunga dan masa lalunya."


Mendengar nama Bunga disebut, firasat buruk pun mulai merasuk ke hati Mauren. "Bunga? Memangnya ada apa lagi dengan Bunga, Ma? Bukankah dia sudah pergi dari kehidupan Billy dan tidak mengganggu hubungan Erina dan Billy lagi?"


"Tidak Mauren, nyatanya tidak demikian, bayang-bayang Bunga masih ada dalam pikiran Billy, dan itu semakin membuat hubungan Erina dan Billy merenggang. Karena itulah, mama meminta bantuanmu untuk mempertemukan dan menyatukan kembali Bunga dengan mantan suaminya. Mauren, mama yakin hanya itulah satu-satunya cara untuk menjauhkan Billy dari Bunga."


"Oh tidak," batin Mauren, tubuhnya seketika menegang mendengar perkataan Arini.


Mendengar perkataan Arini, Mauren pun tak mampu lagi berkata-kata. Sejujurnya dia pun tak tahu harus berbuat apa, tentunya dia tidak rela jika harus kembali berbagi Sean dengan wanita lain.


Dan lagi-lagi, harus berbagi dengan Bunga, wanita yang saat ini begitu dia benci, membayangkannya pun seolah tak sanggup. Akan tetapi, dia sudah berjanji pada mamanya untuk membantunya dan sekarang dia tak tahu harus berbuat apa.


"Mauren, kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba diam seperti itu? Kau kenal dengan mantan suami Bunga, kan?"


Mauren pun menoleh pada mamanya seraya menarik kedua sudut bibirnya. Namun, bukan sebuah senyum manis yang tercetak pada wajahnya akan tetapi sebuah senyuman yang terlihat begitu miris. Senyuman yang seolah sedang menertawakan kemalangan hidupnya.


Sangat sulit rasanya, dia membayangkan untuk kembali berbagi suami dengan wanita lain. Bagi Mauren, hidupnya sekarang, bagaikan lelucon dan semua seakan dikendalikan oleh Bunga. Ya Bunga, wanita yang saat ini dibenci oleh Mauren. Wanita itu, selalu saja merenggut kebahagiaannya serta orang-orang yang dia sayangi. Semua kemalangan di hidupnya, Bunga lah yang menjadi penyebabnya, begitu yang ada di benak Mauren.


"Mauren, kau kenapa? Kenapa kau malah diam seperti itu? Bukankah tadi kau sangat bersemangat untuk membantu mama dan papa? Tapi kenapa kau sekarang malah diam seperti ini? Kau masih mau kan membantu mama dan papa? Kau mau kan membuat Bunga kembali pada mantan suaminya?"


Mauren tak tahu harus menjawab apa, rasanya dadanya begitu sesak. "Mauren!" panggil Arini kembali.

__ADS_1


Detik selanjutnya, wanita itu pun terpaksa menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan, matanya terpejam disertai butiran bening yang luruh dari kedua sudut matanya.


***


Tepat jam 01.00 dini hari, Bunga membuka matanya setelah tertidur begitu lama. Ya sudah satu minggu mata itu terpejam, akhirnya Bunga sadarkan diri dari tidur panjangnya. Entah mengapa, tiba-tiba ada sebuah kekuatan yang mendorongnya untuk kembali melanjutkan hidup. Rasanya, ada sebuah suara yang terus-menerus memanggilnya, dan sekarang dia pun tahu jawabannya saat melihat laki-laki yang sedang tidur di sebuah kursi di samping brankar.


Meskipun, Bunga hanya bisa menggerakkan kepalanya dengan lambat karena masih merasakan sakit yang teramat sangat, tetapi bunga tahu siapa laki-laki yang ada di sampingnya saat ini. Detik itu juga Bunga begitu bersyukur pada Tuhan, telah memberikan hadiah terindah saat dia mulai bisa membuka matanya dan kembali melanjutkan lagi hidupnya dari kematian yang hampir saja merenggut nyawanya. Bunga yakin jika Billy telah menjaganya, melihat laki-laki itu Bunga pun merasa sesak di dalam dadanya.


Orang yang begitu dia harapkan, saat ini berada di sampingnya. Meskipun, Bunga tak bisa melihat dengan jelas raut wajahnya, karena gerakannya masih sangat terbatas, apalagi leher dan rahangnya masih terasa begitu nyeri.


Saat ini, dia hanya diam, sambil menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih. Bunga pun tahu, bahwa saat ini dia berada di rumah sakit setelah kecelakaan tragis yang menyisakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Wanita itu kembali teringat bagaimana tubuhnya terhempas sangat keras ke aspal, hingga merasa bahwa kematian begitu dekat dengannya. Lalu, dalam kondisi setengah sadar dia juga masih ingat saat memasuki ruangan untuk menjalani proses operasi yang cukup lama.


Setelah efek anestesi habis, Bunga merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya, dan hal itu belum pernah dia merasakan sebelumnya. Dia pikir, dia akan mati, hingga membuatnya seakan menyerah ketika diambang kematian dalam alam bawah sadarnya.


Mengingat semua yang terjadi di dalam hidupnya, kesedihan itu terasa memeluknya, hingga membuat air matanya meleleh ke sisi wajah dan membuat laki-laki yang saat ini terlelap di sampingnya terbangun karena tangannya juga terkena tetesan air mata.


"Bunga kamu udah sadar?" tanya Billy sambil mengulurkan tangannya dan menghapus sisa air mata di wajah Bunga.


Mendengar suara Billy, Bunga pun menoleh, mengabaikan rasa sakit di kepalanya.


Meskipun rasa sakit masih menjalar di sekujur tubuhnya, akan tetapi Bunga merasa bahagia saat bisa kembali lagi melihat wajah Billy.


"Bunga kau tenang saja, ada aku di sini," ujar Billy saat melihat lelehan air mata yang masih mengalir. Bunga pun menggigit bibir seraya menahan tangis haru, tapi sialnya air matanya kembali saja meleleh keluar.


Melihat Bunga yang hanya bisa menangis dalam diam, Billy menjadi tidak tega, rasanya dia ingin selalu melindungi wanita itu.


"Jangan bersedih, Bunga. Mulai saat ini, aku akan selalu menjagamu. Lalu, apa kau mau menikah denganku?"

__ADS_1


__ADS_2