
"Nyonya! Nyonya Mauren!" panggil Bunga saat melihat Mauren yang hanya diam sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit dia terka. Sebenarnya, Bunga pun merasa canggung. Tatapan Mauren kali ini tidak terlihat seperti biasanya. Bunga pun sadar, jika Mauren pasti merasa heran dengan penampilannya saat ini. Ya, penampilannya memang sangat jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.
"Nyonya!" panggil Mauren kembali.
"Oh ya, ada apa Bunga?"
"Nyonya sudah pulang? Apa Nyonya Mauren mau kumasakkan makan malam?" tanya Bunga. Mauren pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak, urusanku di rumah orang tuaku belum selesai. Jadi, malam ini aku belum bisa pulang ke rumah."
"Oh baiklah kalau begitu. Apa ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Tidak Bunga, aku hanya mengambil barang-barang Zico saja."
"Baiklah Nyonya, semoga urusan anda cepat selesai." Mauren pun mengangguk sambil tersenyum simpul, seolah terlihat baik-baik saja dan tidak memperlihatkan rasa curiga di depan Bunga.
"Aku ke kamar dulu!" pamit Mauren.
"Iya Nyonya."
Setelah melihat Mauren masuk ke dalam kamar, Bunga pun bergegas menuju ke dapur. Lalu, membuatkan susu untuk Alea. Di saat itulah, tiba-tiba ponsel Bunga berbunyi. Gegas, dia pun mengambil ponsel itu di saku dressnya.
"Dokter Billy?" gumam Bunga, dia lalu mengangkat panggilan tersebut.
Sedangkan Mauren yang awalnya ingin pergi ke dapur untuk mengambil bahan makanan untuk asupan dietnya, akhirnya mengurungkan niatnya tersebut, manakala melihat bunga yang saat ini sedang asyik dengan ponsel miliknya. Bunga tampak asyik berbicara dengan seseorang di ujung sambungan telepon. Bahkan, beberapa kali tampak Bunga tertawa dan becanda disertai raut wajah yang terlihat begitu bahagia.
"Bunga sudah memiliki ponsel? Dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli ponsel itu? Lalu, siapa yang meneleponnya? Astaga, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa mungkin Mas Sean yang membelikan ponsel itu untuk Bunga? Lalu, apakah dia juga yang membuat perubahan pada penampilan Bunga? Oh Tuhan, tolong beri aku petunjuk."
Mauren pun bergegas keluar dari rumah miliknya, rasanya dia ingin cepat bertemu dengan Sean untuk memastikan apakah suaminya yang menjadi penyebab di balik perubahan Bunga.
__ADS_1
Saat Mauren sampai di rumah orang tuanya, tampak sudah ada Sean di rumah tersebut yang sedang bermain dengan Zico di ruang tengah. Melihat hal itu, Mauren pun bergegas mendekati Sean lalu memeluknya seraya menghembuskan nafas panjangnya. Sikap Mauren, tentu saja membuat Sean merasa heran.
"Kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini?" Mauren pun tersenyum kecut, tanpa menjawab pertanyaan dari Sean.
"Hei, katakan padaku kenapa kau bersikap seperti ini, Sayang? Kenapa setelah kau pulang ke rumah, tiba-tiba kau bersikap seperti ini? Sudah 2 tahun kau tidak pernah bersikap semanis ini padaku, Mauren."
"Tdak apa-apa, aku hanya takut kehilanganmu, Mas."
"Mauren, sampai kapanpun hatiku hanya untukmu. Kau tenang saja, tidak ada wanita yang kucintai selain kamu."
Mauren pun mengangkat wajahnya, lalu menatap lekat wajah Sean, serta sorot mata laki-laki itu, seolah sedang mencari jawaban, apakah suaminya itu sedang berbohong atau tidak.
"Hei kau kenapa? Apa kamu masih ragu? Tolong katakan bagaimana caranya agar kau percaya padaku."
"Baiklah, aku percaya Mas. Aku tahu bagaimana perasaanmu padaku. Tapi, bagaimana dengan wanita lain yang menyukaimu, Mas? Aku takut."
Mendengar perkataan Mauren, Sean pun tersenyum, lalu mengangkat dagu wanita itu. "Lihat mataku, kau bisa lihat sendiri kan betapa besarnya cintaku untukmu?"
"Tidak, Mauren. Hal itu tidak akan terjadi, kau tahu sendiri kan kalau aku selalu bersamamu."
"Tapi bukankah tadi malam kau mengatakan kalau ada wanita yang menggodamu?"
Sean pun mengerutkan keningnya seraya menatap Mauren dengan tatapan tanda tanya. "Apa maksudmu?"
"Mas, apa kau sudah lupa, bukankah tadi malam kau mengatakan kalau ada yang menggodamu?"
"Maksudmu Bunga? Jadi kau sudah percaya padaku kalau Bunga menggodaku?"
"Entahlah," jawab Mauren sambil menggelengkan kepalanya. "Kalau kau ragu, kenapa kau menanyakan itu padaku? Aku yakin kalau kau juga mulai menyadari itu kan? Sayang, kau pasti sadar kalau Bunga hanyalah seorang wanita penggoda yang akan merusak rumah tangga kita."
__ADS_1
"Mas, aku belum bisa memastikan itu karena aku tidak memiliki bukti apapun."
"Tapi, kenapa kau berkata seperti itu? kenapa kau mulai curiga jika Bunga menggodaku? Pasti ada alasannya kan?
Mauren menghela nafas lalu memejamkan matanya sembari memijat pelipisnya. Sejak melihat penampilan Bunga, memang tiba-tiba kepalanya terasa begitu berat, ada begitu banyak rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Berbagai pikiran negatif pada Bunga, kini juga menari dalam benaknya.
Dan, yang paling membuat Mauren merasa penasaran adalah siapa yang membuat penampilan Bunga berubah, apakah itu suaminya atau bukan. Mauren pun ingin mendapat kepastian jawaban itu melalui sikap Sean.
"Mauren, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Mauren pun kembali menghembuskan nafas, namun kali ini dengan nafas yang lebih panjang seolah ingin menegarkan hatinya. Dan memastikan apakah Sean tahu tentang perubahan yang terjadi pada Bunga.
"Tadi aku bertemu dengan Bunga, penampilan Bunga terlihat sangat berbeda, dia sangat cantik dan aku..."
Mauren tak dapat lagi meneruskan kata-katanya, dia hanya menyandarkan tubuhnya di sofa seraya memejamkan matanya. Melihat sikap Mauren, tentu saja Sean merasa bahagia karena saat ini istrinya mulai curiga dan ragu pada Bunga. Meskipun, tak dapat dipungkiri jika ada tanda tanya di dalam benaknya mengenai perkataan Mauren jika penampilan Bunga saat ini sudah berubah. Sean pun menarik tubuh Mauren ke dalam pelukannya.
"Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang kau katakan. Perubahan apa yang terjadi pada Bunga, aku tak pernah peduli itu, dan aku tak tahu. Karena aku sama sekali tidak ingin berurusan dengan Bunga. Asal kau tahu, melihat wajahnya saja aku pun sangat muak. Karena itulah, aku memilih untuk tetap berada di sini bersamamu, dibandingkan satu rumah dengan wanita itu. Kau mengerti kan, Sayang?"
Mauren pun mengangguk, seolah merasa lega dengan jawaban Sean jika bukan suaminya lah yang membawa perubahan pada diri Bunga. Walaupun, tak dapat dipungkiri jika saat ini, sebuah tanda tanya, kian berkecamuk di dalam hati Bunga, tentang siapa yang sudah membuat wanita itu berubah.
"Mauren, kau tenang saja, apapun yang akan terjadi, aku hanyalah milikmu."
Mauren pun mengangguk, lalu semakin membenamkan kepalanya dalam dekappan Sean. Melihat sikap Mauren, Sean pun merasa begitu bahagia. "Bagus sekali, akhirnya Mauren mulai curiga pada Bunga. Sekarang, aku tinggal membuat skenario agar membuat Mauren percaya kalau Bunga hanyalah seorang wanita penggoda. Hahaha...," batin Sean.
Saat keduanya, masih hanyut dalam pelukan hangat, tiba-tiba ponsel Mauren berbunyi. Mauren pun mengambil ponsel tersebut dan melihat yang menghubunginya adalah Erina.
"Erina menelponku? Apakah sudah ada kemajuan hubungannya dengan Billy?" gumam Mauren.
***
Di sisi lain, Erina yang saat ini tengah ditelepon oleh anak buahnya terlihat begitu kesal. Kemarahan begitu terpancar pada sorot mata dan raut wajahnya. Beberapa saat kemudian, dia pun menutup panggilan telepon itu. Lalu, bergegas mengutak-atik ponselnya kembali untuk menelepon seseorang.
__ADS_1
"Halo Kak Mauren, aku ingin bicara denganmu!"