Menjebak Suami Orang

Menjebak Suami Orang
Bunuh Diri


__ADS_3

Keesokan harinya Bunga bangun dengan begitu bersemangat, dia bergegas memandikan dan memberi sarapan pada Alea. Setelah itu, dia bergegas mandi. Tetapi, saat dia membuka lemari pakaian, Bunga tampak bingung karena dia tidak memiliki baju yang bagus dan pantas untuk dikenakan pergi bersama Billy. Sejenak Bunga termenung.


"Astaga, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin pergi dengan pakaian seperti ini," gerutu Bunga sambil memegang dress yang warnanya sudah memudar. Wanita itu, hanya bisa menggigit bibirnya sambil menatap pakaian-pakaian itu. Di saat itulah, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.


"Kau kenapa, Bunga? Kenapa kau tampak cemas seperti itu?" tanya Bi Arni yang tiba-tiba masuk ke kamar tersebut.


"Oh Bi Arni, ada apa?"


"Aku cuma ingin menanyakan ini, apa ini ponselmu? Tadi ponsel ini tertinggal di dapur."


"Oh iya, itu ponselku," jawab Bunga.


"Lalu, kenapa kau tampak cemas seperti itu, Bunga?" Bunga pun menggelengkan kepalanya.


Melihat gelengan kepala Bunga, Bi Arni tampak mengerutkan keningnya. Apalagi, saat ini Bunga sedang membuka lemari pakaiannya, wanita paruh baya itu pun seolah mengerti jika Bunga sedang bingung.


"Apa kau sedang bingung memilih pakaian, Bunga?" Bunga pun meringis.


"Tidak Bi."


"Jangan bohong, sebentar aku keluar dulu," ujar Bi Arni, lalu keluar dari kamar tersebut. Tak berapa lama, dia kembali dengan 3 buah stel pakaian di tangannya.


"Ini pakai saja, Bunga."


"Apa ini Bi?"

__ADS_1


"Beberapa bulan yang lalu, aku membelikan ini untuk putriku yang duduk di bangku SMA. Tetapi, sayangnya kekecilan karena tubuh putriku bongsor dan cepat membesar. Lalu, kusimpan saja tiga buah dress ini. Siapa tahu ada yang membutuhkan, dan kupikir sekarang kau jauh lebih membutuhkan pakaian ini. Jadi, lebih baik kuberikan saja padamu," ujar Bi Arni, seraya memberikan pakaian itu. Awalnya Bunga hanya menatap 3 buah dress tersebut.


"Kenapa kau hanya melihatnya seperti itu? Sudah ambil saja, daripada pakaian ini tidak terpakai di lemari. Tolong terima ini, Bunga."


Akhirnya Bunga pun menerima menerima pemberian Bi Arni tersebut.


"Terima kasih Bi."


"Sama-sama. Aku turun dulu ya, tadi Tuan dan Nyonya mengabarkan jika hari ini mereka mungkin belum pulang ke rumah ini. Jadi hari ini aku mau pergi ke pasar saja untuk membeli kebutuhan yang sudah habis."


Bunga pun mengangguk seraya tersenyum. Setelah Bi Arni keluar dari kamar tersebut, Bunga mengambil salah satu maxi dress berwarna putih dengan belt berwarna hitam di pinggang. Dan saat Bunga memakai dress tersebut, tampak sangat pas di tubuh langsingnya. Seketika, senyum pun merekah di bibir Bunga. Beberapa menit kemudian, deru mobil pun terdengar di bawah.


"Alea itu sepertinya Dokter Billy sudah datang, ayo kita turun, Sayang," ujar Bunga, lalu menggendong Alea turun ke bawah. Saat Bunga membuka pintu rumah itu, tampak Billy berdiri dengan membawa stroller di depannya.


"Selamat pagi, Dokter Billy. Kenapa anda membawa stroller seperti itu? Apa kita akan mengunjungi salah satu temanmu yang baru saja melahirkan?" Billy pun terkekeh mendengar perkataan Bunga.


"Tidak Bunga, stroller ini untuk Alea."


"A-apa? Itu untuk putriku? Anda tidak perlu repot-repot seperti ini, Dokter Billy."


"Tidak apa-apa, anggap saja ini hadiah dariku untuk kalian. Bukankah tadi malam aku sudah memberikan hadiah untukmu? Rasanya tidak adil kalau aku hanya memberikan hadiah untukmu saja, tetapi tidak untuk putri kecilmu itu. Sudah tidak usah protes, ayo kita pergi sekarang!"


"Tapi Dokter Billy..."


"Tidak ada tapi-tapian denganku, Bunga. Aku pemaksa, dan kau harus menuruti paksaanku! Ayo kita masuk ke mobil, Alea!" Billy mengambil Alea dari gendongan Bunga, lalu masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Bunga pun akhirnya mengikuti langkah Billy masuk ke dalam mobil. Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di sebuah mall. Ketila memasuki mall, Billy menggandeng tangan Bunga. Ketika melihat genggaman jemari tangan Billy di jarinya, seketika jantung Bunga pun berdegup kian kencang. Rasanya, dia begitu bahagia mendapatkan perlakuan semanis itu pada dirinya. Langkah mereka kemudian terhenti di depan sebuah salon yang ada di mall tersebut.


"Bunga kau masuklah ke dalam, aku akan menunggumu dengan berjalan-jalan bersama Alea di mall ini."


"Apa maksud ada, Dokter Billy?"


"Sudah saatnya kau menikmati hidup, nikmatilah hidupmu, Bunga. Ayo kita masuk!" ujar Billy, lalu menarik tangan bunga. Billy lalu mendaftarkan perawatan lengkap untuk Bunga, mulai dari perawatan rambut, wajah, kuku, dan tubuh pada resepsionis di salon tersebut. Dan lagi-lagi, Bunga tidak bisa menolak.


"Sudah ya Bunga, kutinggal dulu. Aku mau jalan-jalan dulu sama Alea." Billy lalu meninggalkan Bunga yang saat ini masih tertegun melihat perlakuan laki-laki itu padanya.


"Terima kasih, Dokter Billy."


Saat mtengah asik berjalan-jalan dengan mendorong stroller Alea, tiba-tiba ponsel Billy berdering. Billy pun mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Mauren.


[Halo Kak Mauren, ada apa?]


[Billy, tolong datang ke rumah sakit. Tadi malam, Erina melakukan percobaan bunuh diri.]


[Apa? Bunuh diri? Kenapa dia bertindak seperti itu? Bukankah hidup atau mati adalah sebuah pilihan? Kalau dia memilih mati sebagai jawaban permasalahan hidupnya, itu adalah pilihannya. Lalu, aku harus berbuat apa untuk pilihannya itu, Kak? Dia sudah dewasa, seharusnya dia tahu mana yang baik dan buruk untuknya. Tolong katakan padanya, jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu.]


[Tapi Billy...]


[Sampaikan maafku padanya, Kak. Saat ini, aku sedang sibuk.] ujar Billy, lalu menutup panggilan telepon itu.


"Maafkan aku, Erina. Memang, ini terdengar jahat. Tetapi, aku hanya ingin agar kau bisa melalui rasa sakit ini dengan bersikap dewasa. Bukan hanya kau saja yang pernah mengalami patah hati, tapi hampir semua orang di dunia ini pernah mengalaminya. Bukankah kau selalu mengatakan dirimu hebat? Jika dirimu hebat, kenapa kau tidak bisa melalui semua ini seperti orang lain yang tidak jauh lebih hebat darimu?"

__ADS_1


__ADS_2