Mertuaku Perjaka! Mencintaiku

Mertuaku Perjaka! Mencintaiku
Lupa


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


(Kediaman Aland)


Arabella sedang berada dipangkuan suaminya. Mereka baru sehari masuk kedalam pernikahan. Aland tidak merasa kelelahan saat Arabella sedang bermanja-manja dengannya bahkan ia sengaja memeluk istrinya agar nyaman duduk di atas pangkuannya. Berbeda dengan Arabella, justru ia sangat suka menarik-narik bulu tangan Aland, meskipun sang pemilik kesakitan namun, itu adalah hal menarik untuknya.


“ Sayang, kamu mau kita honeymoon kemana?” tanya Aland sambil menenggelamkan wajah di bahu istrinya.


“ Um, bagaimana kalau ke Jepang, Singapore, atau ke Filipina? Ah serah deh, aku kemana aja boleh kok,” sahut Arabella.


“ Duh ... Istriku baik banget! Ya udah nanti kita ke Jepang aja.”


“ Iya, Sayang.”


Saat mereka sedang bermesraan tiba-tiba Lena datang sembari membawakan sesuatu. “Maaf menganggu, Tuan, Nyonya. Ini saya bawakan jus buah. Kebetulan tadi kami di dapur lagi sepakat bikin ini. Soalnya cuaca panas, Nyonya.”


“ Oh! Bagus dong! Harusnya memang kalian seperti ini. Tanpa kami minta dulu kalian sudah siap siaga di musim apapun,” sahut Arabella sembari mengambil jus yang langsung di serahkan kepada Aland.


“ Iya, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu, Nya."


Arabella mengangguk. Mereka langsung memakan jus buah tanpa khawatir sedikitpun. Di sisi lain, Lena yang merasa puas dengan kerja pertamanya. Saat Lena sudah menjauh dari majikannya justru ia berdiri sembari mengintip.


“ Makan tuh yang habis! Untung banget Tuan Benny memberinya di waktu yang tepat. Aland, hidupmu akan hancur seperti kehancuran yang telah tuanku rasakan,” gumam Lena sembari tersenyum sinis.

__ADS_1


Lena yang begitu semangat bahkan ia bergegas menghubungi tuannya. Tidak butuh waktu lama Benny langsung menjawab panggilan.


“ Lapor, Tuan. Pekerjaan pertama sudah beres. Aland bahkan tidak curiga sedikitpun dengan makanan yang kuberikan. Sepertinya dia memang sudah sangat percaya denganku,” ucap Lena dengan suara pelan.


“ Bagus! Lanjutkan semuanya jika nanti obat itu habis katakan secepat mungkin padaku. Ingat! Sebisa mungkin jangan sampai membuatnya curiga, dan jangan terlalu sering memberikan makanan yang tidak dia minta, mengerti?”


“ Mengerti, Tuan. Ya sudah, saya sudahi dulu, Tuan. Oh ya jangan lupakan transfer uangnya, hehe.”


“ Aman-aman,” sahut Benny sembari mematikan ponsel.


...----------...


Di sisi lain Aland yang sama sekali tidak curiga dengan isi dari makanan tersebut. Padahal Lena sudah memasukkan obat dalam dosis yang tinggi. Saat detik-detik terakhir suapannya tiba-tiba Aland merasakan pusing yang cukup serius sampai membuat Arabella cemas, bahkan Arabella meminta untuk Aland langsung istirahat.


“ Sayang, aku enggak mau istirahat. Palingan cuma pusing bentar aja kok,” ucap Aland sembari memegang kepalanya.


“ Ya udah tapi, aku mau kamu juga istirahat yah, Sayang.”


“ Iya-iya aku bakal temenin kamu, Sayang.” Arabella mengangguk.


Arabella langsung membawa suaminya untuk istirahat bersama. Meskipun Aland hampir kehilangan fokusnya saat berjalan, ia tetap mencoba tersenyum manis agar Arabella tidak terlalu cemas dengannya. Merekapun langsung istirahat berdua sambil saling memeluk.


...----------------...

__ADS_1


Setelah hari itu, Aland setiap harinya pusing namun, ia mencoba untuk merahasiakan tentang sakitnya kepada Arabella. Bahkan ia sudah mulai melupakan hal-hal kecil seperti di mana arah jalan ke kamarnya. Pernah sekali ia salah memasuki kamar, justru ia masuk kedalam kamar pelayan hingga membuatnya malu setengah mati. Bukan cuma itu tapi, segala hal kecil ia hampir tidak mengingatnya sama sekali. Seperti hari ini Arabella ingin sekali di temani shoping oleh Aland. Namun, dengan memberanikan diri Aland langsung menyetujuinya.


Aland yang sudah duluan bersiap, ia langsung pergi turun dari kamarnya namun, saat itu juga Arabella memanggil suaminya.


“ Sayang, tunggu! Ini dompet sama handphone kamu ketinggalan!" teriak Arabella dari kamar mereka.


Aland menepuk jidatnya sendiri. ‘Astaga! Kenapa rasanya semakin hari aku sering merasa lupa,' batin.


Aland pun kembali ke kamarnya untuk mengambil barang yang ia tinggalkan. “Maaf, Sayang. Aku lupa lagi.”


“ Kamu sih kebiasaan! Ya udah yuk! Kita pergi terus keburu malem. Oh ya, nanti kita makan di luar, mau enggak?” tanya Arabella sembari menggenggam tangan Aland.


“ Iya sayang boleh.”


Tanpa banyak bicara mereka langsung berjalan berbarengan menuju ke mobil. Namun, saat tiba di dalam mobil justru Aland kebingungan caranya untuk menyetir.


‘Ya ampun ... Kenapa aku malah lupa cara bawa mobil? Gimana cara ngomongnya ya sama Bella?' batin Aland sembari melirik istrinya.


Sudah dua menit merek masuk ke mobil namun, tidak juga jalan-jalan hingga membuat Arabella kesal. “Sayang! Kamu kenapa sih? Kaya males begitu pas aku ajak. Ayo cepat kita jalan biar nanti enggak keburu telat.”


“ Iya-iya, Sayang. Ehem! Bisa enggak kamu yang nyetir aja? Soalnya enggak tahu kenapa nih tanganku tiba-tiba pegel banget. Bolehkan, Sayang?" pinta Aland yang mencoba ngeles.


“ Ihhh kamu alasan! Bilang aja lagi males! Ya sudah cepat turun biar aku yang nyetir.” Arabella pasrah.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2