
...H A P P Y R E A D I N G...
“Um, Aland. Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak suka aku datang padamu? Kau tahu aku sangat merindukanmu saat ini,” ucap Rere sembari mendekat lebih dekat.
“Aku juga merindukanmu, Rere. Hanya saja aku heran sampai kamu mau menemui ku. Seharusnya wanita cantik sepertimu ini harus dijemput,” sahut Aland dengan begitu semangat.
“Aww! Kamu bisa saja. Jadi jika kamu suka aku datang bolehkah kalau aku menginap di sini?” tanya Rere sambil menyatukan kedua jarinya berkali-kali.
Aland mengerti dengan tujuannya Rere. Hingga ia mengangguk pelan. Lalu Aland bangkit sembari menggandeng tangan wanita itu.
Duh ... Ini sangat mudah bahkan Aland tergoda padaku, harusnya aku memakai pakaian lebih terbuka jadi aku terlihat lebih menarik. Tapi, sudahlah sebaiknya aku harus memberikan Aland kepuasan. Batin Rere sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Tiba di kamar Rere begitu bahagia. Ia dengan sengaja menggoyangkan pinggulnya untuk membuat Aland lebih suka. Lalu Aland mencoba mendekatinya dengan perlahan hingga wajah mereka begitu dekat sampai akhirnya Rere menutup matanya berharap Aland langsung memberikan ciuman untuknya.
Tapi, saat mereka begitu dekat bahkan Rere dengan sengaja menyentuh dada bidang Aland. Namun, dengan cepat Aland mendorong tubuhnya Rere begitu kuat sampai kepalanya membentur di dinding. Rere sempoyongan namun, ia berusaha untuk bertahan dan memilih untuk duduk sambil memegang kepalanya.
“Aland, kenapa kamu melakukan ini padaku? Bukankah kamu sudah tergoda dan kita akan melakukannya. Kamu sangat tega, kepalaku sangat sakit,” ucap Rere yang terus memegangi kepalanya.
Aland mencoba mendekatinya. “Kamu pikir aku akan tergoda denganmu? Sama sekali tidak. Aku hanya akan tergoda jika itu Arabella. Kamu bahkan tanpa malu datang ke tempatku dan menyerahkan tubuhmu sendiri. Ingat, Rere. Aku tidak akan mengampuni mu karena kamu terlibat saat mencoba menghilangkan ingatanku!”
Astaga! Rasanya aku seperti menyerahkan diriku kedalam kandang singa, batin Rere.
__ADS_1
Melihat Rere terdiam membuat Aland kesal. “Hey! Kenapa kamu diam?! Apa kamu memang ingin mati?”
“T-tidak, Aland. Aku bisa jelaskan semuanya tolong percayalah kali ini aku tidak akan berbohong,” sahut Rere sampai gelagapan.
“Katakan sejujurnya atau jika tidak maka aku tidak segan-segan untuk menghabisi mu saat ini. Kamu pasti ingat tragedi saat ibunya Benny pergi. Jadi jangan sampai kamu yang keduanya kalinya,” ancam Aland sembari mengambil pistol yang ia taruh di atas lemarinya.
Ya ampun! Ternyata aku sudah salah mencintai seseorang. Rupanya aku mencintai iblis berwujud manusia, batin Rere sambil menelan ludahnya.
“B-baiklah! Aku memang mengakui kalau aku juga terlibat untuk menghilangkan ingatanmu tapi, jujur aku mencintaimu walaupun aku tahu tindakan itu salah. Tapi, meskipun begitu kamu pasti ingat kalau selama ini aku mencoba untuk menyembuhkan ingatanmu kembali. Yah ... aku tahu semua itu uang milikmu. Aland ... tolong jangan membunuhku. Aku harus terlibat karena aku mencintaimu, karena aku ingin hidup denganmu. Meskipun begitu aku akan akan mengembalikan uang yang sudah kamu pakai saat pengobatan. Tolong berikan aku waktu untuk bisa mencicilnya.”
Mendengar perkataan Rere sampai membuat terduduk dengan lemas hingga menatap langit seperti orang yang sedang putus asa.
Lagi-lagi Rere menelan ludahnya sendiri saat Aland menyodorkan pistol kearahnya. Ia sedikit terkejut. “Y-ya! Baiklah aku akan memenuhi apapun itu tapi, tolong jangan bunuh aku.”
“Bagus, aku mau kamu pergi dari kehidupanku. Sejauh mungkin. Pindah negara sekalipun. Dan tidak perlu lagi untuk membayar kejahatan mu karena dengan kamu memenuhi syarat ini maka aku sudah menganggapnya sebagai kata maaf, bagaimana?”
“Apa?! Pindah Negera? Bagaimana mungkin aku pergi? Tapi, untuk apa semua itu, Aland?” tanya Rere begitu kebingungan.
“Aku hanya ingin kamu hidup bahagia dan mencari kebahagian mu sendiri. Juga aku tidak lagi bisa melihatmu karena jika tidak maka dendam mungkin akan selalu menghantuiku jika melihat orang yang membuatku celaka. Ku mohon pergilah. Jangan menunggu sampai aku memaksamu dengan pistol ini,” ucap Aland dengan tenang meskipun pistol dalam genggaman.
“Tapi, Aland. Aku mencintaimu. Jikapun kita tidak bisa bersama setidaknya aku bisa melihatmu bahagia bersama Arabella,” sahut Rere yang tetap tidak ingin pergi.
__ADS_1
“Aku sudah katakan! Kamu harus pergi dan cari kebahagiaannya diluar sana! Jangan lagi berhubungan dengan Benny! Dan satu hal lagi. Aku tidak mencintaimu sekalipun kamu mengatakannya berpuluh kali atau memaksaku. Tetap pendirian ku tidak akan goyah karena aku hanya mencintai satu wanita dan itu selamanya.”
Ucapan itu langsung membuat air mata Rere jatuh. Aku lebih baik terluka pada fisik ku daripada aku harus terluka saat orang yang kucintai menolak ku dengan terang-terangan. Batin.
“Rere, aku tahu rasanya sakit saat mendengar orang yang kita cintai tidak mencintai kita. Tapi, itulah kenyataannya daripada kita harus membuang tenaga dan waktu demi orang itu. Lebih baik pergi dan cari kebahagiaan mu. Apalagi kamu cantik, Rere. Hatimu juga tulus mencintai orang lain. Pesanku sebaiknya tunggu sampai pria mencintaimu jangan kamu mencintainya. Karena mungkin resikonya akan kembali terulang seperti saat ini.”
Aku terus mencoba mengatakan yang sejujurnya walaupun Rere masih terus menangis mendengarkan penolakan darinya. Hingga akhirnya Rere pun mengangguk pelan, lalu berkata.
“Baiklah, Aland. Aku mengerti. Aku akan pergi dan mulai memperbaiki hidupku ini. Tapi, bolehkah jika aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya? Hanya ingin memeluk jika tidak aku tidak masalah.” Mencoba memberanikan dirinya meskipun Rere menundukkan kepalanya karena malu.
Tanpa mengatakan apapun Aland langsung menarik tubuh Rere lalu membawanya kedalam pelukan hingga ia mengusap rambut wanita itu tepat di tempat yang sedang sakit karena dorongnya sendiri. Hingga akhirnya Aland menjatuhkan sebuah kecupan di keningnya Rere.
“Maafkan aku telah membuat kepalamu terluka. Ini hanya sebagai ciuman permintaan maaf ku. Ya sudah kalau begitu pergilah. Ingat yang tadi kukatakan,” ucap Aland sembari melepaskan pelukannya.
Rere pun menganggukkan kepalanya lalu ia berkata. “Baiklah, aku akan pergi. Semoga kamu bisa kembali bahagia bersama Arabella dan juga anakmu.”
Ucapan Rere sampai membuat Aland tercengang hingga akhirnya Rere yang sedang melangkah pergi sampai terhenti hingga membuatnya kebingungan dengan tingkah Aland.
...----------------...
...Guys ... Um, hehe....
__ADS_1