
...H A P P Y R E A D I N G...
Membuat Benny menelan ludahnya saat melihat pistol sudah berada di depan kepalanya. Batinnya berkata, mungkinkah hidupku akan berakhir sekarang?
“Hay anakku, Apa kabar? Kita bertemu lagi,” ucap Aland sembari menatap Benny dengan tatapan sinis.
“Um, aku baik-baik saja, Papa. Apa kamu hanya ingin datang untuk membunuhku?” tanya Benny dengan memberikan dirinya meskipun pistol berada di depan kepalanya.
“Huh! Ternyata kamu sudah tahu ajal mu. Aku akan membunuhmu seperti aku membunuh ibumu. Tapi, sebelum itu katakan di mana istriku berada?!” geram Aland.
“Apa aku tidak salah mendengarnya? Istri? Ha-ha-ha, Papa, Papa. Jangan dulu terlalu percaya diri. Bella adalah istriku bukan istrimu karena kamu sudah menceraikannya! Dan satu lagi jika kamu membunuhku saat ini silahkan tapi, Bella tidak akan pernah memaafkan mu. Camkan itu!” ancam Benny sembari melirik kearah pistol meskipun dia sedikit ketakutan.
“Jangan mempermainkan ku, Benny! Asal kau tahu. Aku sudah tahu semuanya. Kamu mencoba untuk menghilangkan ingatanku tapi, malangnya aku telah kembali mengingat semuanya. Dan saat ini aku akan membalas kembali dendam dan juga merebut semua yang menjadi milikku! Kamu harus mati!” geram Aland dengan berteriak cukup keras hingga sampai terdengar ke telinga Arabella.
Di sisi lain. Pelayan mencoba menahan majikannya namun Arabella tidak bisa di tahan justru dia mengancam akan memecat pelayan itu hingga akhirnya dirinya penasaran sampai berlari menuju ke pintu. Namun, betapa terkejutnya dia melihat orang yang telah lama pergi hingga sekarang berada di depan matanya.
Apa aku tidak sedang bermimpi bertemu dengan Aland? Kenapa Benny membohongiku padahal aku sudah begitu percaya padanya, batin Arabella sembari berjalan kearah mereka lebih dekat.
Aland ingin menembak Benny namun, tindakannya terhenti saat menatap wanita yang begitu ia cintai tiba-tiba berdiri di hadapannya. Lalu dengan cepat Aland berlari memeluk Arabella meskipun di depan Benny langsung.
__ADS_1
Benny berpaling dan tidak ingin menatap Aland yang sedang memeluk istrinya hingga batinnya berbicara. Astaga! Kenapa sampai Bella keluar? Duh ... Bagaimana ini? Posisiku sekarang bisa terancam apalagi aku sudah begitu membohonginya.
Arabella membalas pelukan Aland meski hanya sebentar lalu dirinya menatap Aland dan melirik Benny sambil menarik nafasnya memburu.
“Bella, apa kamu baik-baik saja? Aku begitu bahagia bisa melihatmu kembali. Sekarang lebih baik mari kita pergi dari sini. Aku tidak ingin pria tidak tahu diri itu melukaimu,” ucap Aland sambil menggenggam tangannya Arabella.
Arabella perlahan mencoba melepaskan tangannya yang di genggam. “Aland, aku bahagia melihatmu kembali. Aku telah salah berpikir tentangmu. Tapi, aku tidak bisa untuk kembali sekarang. Ada hal penting yang harus kulakukan.”
“Tapi, Bella. Ayo kita pergi. Apalagi yang kamu tunggu sekarang? Aku sudah ada di depan matamu jadi mari kita pergi sekarang.” Aland terus memaksa.
“Maaf, Aland. Kita akan membahasnya nanti. Tapi, sekarang aku harus mengerjakan sesuatu. Lebih baik sekarang pulanglah. Kita akan bertemu nanti ada hal lain juga yang akan kulakukan padamu,” sahut Arabella mencoba menolak dengan halus meskipun membuat Aland sedikit kecewa.
“Masuk sekarang juga kita selesaikan sekarang,” ucap Arabella dengan ketus tanpa menatap suaminya.
Benny hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya. Ia bahkan tidak berani menatap Arabella. Hingga membuatnya terkejut saat Arabella berbicara.
Benny mengikuti dibelakang Arabella. Mereka lalu memasuki kamar dan tidak lupa menguncinya.
Arabella berdiri terduduk di tepi ranjang sambil membuang muka. Tapi, berbeda dengan Benny. Ia tiba-tiba berlutut di hadapan Arabella.
__ADS_1
“B-Baby, aku minta maaf,” ucap Benny sampai gelagapan.
“Minta maaf? Apa ini yang namanya ketulusan? Aku bahkan tidak menyangka kalau kamu sampai melakukan hal yang menjijikkan seperti itu. Kamu pikir dengan membohongiku maka semuanya akan aman, begitu?! Tapi, justru kamu mencoba merusak hubungan kita!” bentak Arabella dengan tegas.
“Baby, tolong jangan marah-marah. Aku takut jika nanti kandungmu kenapa-kenapa. Aku tahu salah tapi, kamu tidak perlu marah seperti itu. Ingat kandungan mu,” sahut Benny yang masih berusaha tenang.
“Biarkan saja! Kamu begitu tega. Kamu bahkan membohongiku dengan memalsukan kematiannya Aland bahkan makam miliknya. Kamu pikir semua ini lelucon? Aku tahu telah menyakitimu tapi, kupikir kamu benar-benar menyayangiku, menjagaku di saat aku sedang terluka tapi, ternyata kamu dalang dari semua ini. Aku begitu tidak menyangka kalau kamu seperti domba berbulu serigala!”
Benny menarik nafasnya saat melihat Arabella terus berkata kasar padahal dirinya sudah mencoba untuk mengalah. Hingga akhirnya Benny bangkit dan berdiri tegak untuk memulai peperangan.
“Jika memang aku di sini yang salah baik akan ku jelaskan ulang. Mungkin kamu sudah lupa siapa yang salah diantara kita. Harusnya sejak dulu aku membunuh Aland tapi, aku tidak sekejam kalian berdua yang dengan sengaja membunuh ibuku! Bahkan kamu sendiri ikut di dalamnya. Arabella, kau tahu cintaku untukmu tulus walaupun aku pernah berpikir mencoba untuk memanfaatkan situasi ini tapi, akhirnya aku menyadari bahwa semua itu tidaklah berguna jika bukan saling mencintai. Apa kesalahan ibuku? Dan apa dosaku? Hingga kalian berdua mencoba menyakitiku padahal jika memang kamu tidak ingin menikah denganku. Kita bisa bercerai baik-baik tanpa harus kalian melakukan hubungan terlarang. Aku akan memahami kalau saja kamu tidak mencintaiku saat itu tapi, kamu sama ikut-ikutan bersama dengan Aland.”
“Aku tidak mengerti apapun dengan semua dendam diantara Papaku dengan Aland. Namun, kalian seakan berpikir kalau aku ikut-ikutan. Harusnya aku yang marah, Bella. Aku! Kau lihat aku memang mencelakai Aland tapi, itu hanya kesakitan sementara. Jika aku memang jahat dan kejam mungkin hari itu juga aku sudah membunuh Aland. Bella, tolong maafkan aku,” sambung Benny yang kembali menundukkan kepalanya meskipun ia sudah mengungkapkan semua isi hatinya.
Arabella menggelengkan kepalanya. Lalu ia melangkah mendekati lemari pakaian hingga akhirnya ia mengeluarkan kopernya. Sampai membuat Benny ketakutan dengan tindakannya Arabella.
“Baby, tolong jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik. Ayolah apalagi kamu sedang hamil dan juga Brian juga masih kecil. Semuanya membutuhkanmu bukan aku saja. Ku mohon ... Taruh kembali pakaianmu. Aku mencintaimu, Baby,” ucap Benny sembari membujuk agar Arabella lebih tenang.
“Tidak, Ben. Aku harus pergi. Tolong berikan waktu untukku agar aku bisa menenangkan diriku. Minggir aku ingin mengambil pakaianku,” jawab Arabella tanpa mau mendengarkan suaminya.
__ADS_1
“ Arrgh! Ayolah, Baby. Aku tidak ingin lagi marah-marah denganmu. Apa jangan-jangan kamu ingin pergi karena melihat Aland sudah kembali, begitu?”