Mertuaku Perjaka! Mencintaiku

Mertuaku Perjaka! Mencintaiku
Tiba dan keinginan


__ADS_3

...H A P P Y R E A D I N G...


Setelah berpikir keras akhirnya Bapak tua pun menganggukkan kepalanya. Betapa senangnya Aland saat keinginannya di kabulkan meskipun ia harus kembali mengorbankan uangnya. Aland langsung memberikan pelukan sebagai tanda berterima kasih.


“Baiklah, Nak. Untuk mempercepat waktu apalagi hewan peliharaan saya tidak bisa di tinggal begitu lama kepada orang lain jadi sebaiknya cepat kamu bersiap-siaplah kita akan langsung ke Kanada. Oh ya, sebentar ya saya siapkan juga barang-barang saya dulu,” ucap Bapak tua sambil menepuk bahunya Aland hingga akhirnya ia pun.


Aland tersenyum lalu ia berpikir sesuatu. Kenapa rasanya hatiku begitu bahagia saat mendengar kalau aku akan kembali ke Negera itu. Andai pikiranku bisa lebih cepat untuk berpikir pasti saat ini aku sudah bisa mengingat banyak hal.


Singkatnya Aland bersama Bapak tua tiba di bandara. Mereka akan melakukan penerbangan ke Kanada. Rasa yang tidak bisa di ungkapkan oleh Aland saat dirinya mengingat Negera itu. Wajahnya tidak berhenti tersenyum.


Lebih baik aku tidur saja, batin Aland yang langsung memejamkan matanya. Ia berharap agar dirinya bisa cepat-cepat sampai dengan memilih untuk tidur.


...----------------...


(Kanada)


Aland masih tertidur. Ia bahkan tidak sadar jika pesawat sudah mendarat hingga akhirnya Bapak tua mencoba untuk membangunkannya sampai beberapa saat ia terbangun. Mereka turun dengan penuh kebingungan untuk tujuan yang akan mereka tempuh. Tapi, Bapak tua langsung mengeluarkan ponselnya saat itu untuk menentukan jalan yang akan di pilih. Dengan mata berbinar-binar Aland hanya menyimak apa yang sedang di tekan-tekan di layar sentuh tersebut.


Hingga akhirnya bapak tua itu melirik kearah Aland. “Hey, Nak. Kamu ingin mencobanya?”


Menganggukkan kepala dengan begitu antusiasnya. “Bolehkah saya pinjam, Pak?”


“Pinjam? Jangan dong nanti saya kasih kabar buat pacar gimana? Begini aja deh. Kita belikan ponsel buat kamu terus nanti saya ajarkan pelan-pelan. Eh sebentar, memangnya kamu enggak pernah pegang ponsel ya?” Bapak tua terlihat kebingungan.

__ADS_1


“Saya enggak tahu, Pak.”


“Astaga! Maaf, Nak. Saya sampai lupa kalau kamu sedang bermasalah dengan ingatanmu itu. Tapi, tidak perlu khawatir jika kamu minum obat yang rajin lalu rutin melakukan pemeriksaan pasti kamu akan cepat sembuh,” ucap Bapak tua.


“Terima kasih, Pak. Ya sudah ayo kita cari penginapan.”


Bapak tua langsung mengiyakan. Pertama mereka membelikan ponsel lalu kemudian langsung menyewakan rumah untuk Aland tinggal sementara selama mencoba memulihkan kondisinya.


Selamat satu Minggu penuh Aland tinggal berdua. Bapak itu mencoba mengajarkan beberapa macam hal. Mulai hal-hal kecil memasak agar sewaktu-waktu lapar dan malas keluar bisa membuatnya sendiri. Begitupun dengan caranya memainkan ponsel hingga dengan mudahnya Aland paham. Juga beberapa pekerjaan. Sampai akhirnya Bapak tua itu memutuskan untuk kembali pulang ke asalnya.


Bapak tua bersama Aland berdiri di depan pintu sembari berkata. “Nak, jaga dirimu di sini baik-baik. Jika kamu membutuhkan pertolongan telepon saja saya. Semoga kamu cepat sembuh saya kasihan melihatmu yang terus-menerus seperti orang linglung seperti ini. Jadi sekarang saya harus pergi.”


Aland mengangguk-anggukkan kepalanya lalu memberikan pelukan untuk terakhir kalinya. Lalu ia mengeluarkan uang begitu banyak dan memberikan kepada Bapak tua itu. Namun, dia tidak mengambil justru kembali memasukkan kedalam tasnya Aland.


“Tidak perlu membayar ku. Kamu saat ini sedang jadi orang miskin jadi lebih baik simpan uang itu dan gunakan untuk hal penting. Anggap saja kita saudara apalagi saya sudah tua tinggal tunggu kapan mati meskipun saya baru punya pacar. Tapi, inilah bekal yang akan saya bawa nantinya. Kebaikan membantu orang lain meskipun kelelahan tapi, saya ikhlas menolong mu. Tuhan pasti akan menggantikan yang lebih besar untuk saya nantinya. Ya sudah saya pergi dulu takut ketinggalan pesawat.”


“Ya sama-sama. Jika kamu menolongku cukup berikan uangmu tapi, itu berlaku jika kamu kaya karena itu adalah hak ku sebagai orang miskin yang sudah seharusnya kamu tolong. Ah ya sudah saya pergi dulu daripada kepanjangan ceramah terus. Hati-hati ya, Nak.” Sambil melambaikan tangan Bapak itu pergi meninggalkan Aland.


Aland tersenyum mendengar ucapan sambil membalas lambaian tangan. Ia menatap kepergiannya meskipun ia sedikit sedih dengan kepergian dari Bapak itu yang telah banyak membantunya. Tapi, rasa sedih itu harus di hilangkan.


Merasa bosan berada di rumah terus-menerus sampai akhirnya Aland memilih untuk pergi keluar namun, ia tidak lupa membawa ponsel agar tidak tersesat saat kembali pulang. Entah kemana tujuannya namun, ia hanya berjalan-jalan. Saat tiba-tiba berjalan perutnya keroncongan hingga membuat Arabella berhenti di suatu tempat restoran. Tiba di dalam duduk sendirian sembari bermain game di ponselnya sambil menunggu makanan tiba.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


(Kediaman Benny)


Duduk berdua sambil merangkul mesra. Benny bersama Arabella berdiam diri di depan televisi tanpa adanya cemilan apapun hingga membuat Arabella menginginkan sesuatu. Apalagi dirinya sedang melihat di televisi iklan tentang mangga sampai membuatnya menelan ludahnya sendiri.


“Um, Sayang ... Beliin itu dong,” pinta Arabella dengan sikap manjanya sembari mengedipkan mata beberapa kali sambil menatap Benny dengan tatapan polos.


Membuat Benny gemes hingga akhirnya ia mendaratkan ciuman pada bibir istrinya. “Mau apa, Baby?”


“Mau itu, Sayang ...,” sahut Arabella sembari menunjuk ke depan.


“Oh ... mangga! Ya udah tunggu di sini bentar ya biar aku cariin dulu,” ucap Benny sambil mengangkat tubuh Arabella untuk bangun dari pangkuannya.


“Enggak mau! Maunya ikut!” ketus Arabella sambil memajukan bibir mungilnya.


“Enggak usah, Baby. Tungguin sini aja nanti kamu capek. Udah ya aku enggak lama kok cuma ke supermarket doang,” tolak Benny yang begitu siaga.


Arabella menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Aku enggak mau di beliin di sana! Maunya langsung dari pohon! Kamu harus manjat jangan beli gitu aku enggak mau makan.”


Mendengar hal itu membuat Benny menepuk jidatnya. “Baby, buahnya sama loh yang dari pohon langsung sama di supermarket. Sama-sama mangga bukan durian. Mau ya aku beliin itu aja.” Dengan begitu usaha keras Benny terus membujuk istrinya meskipun Arabella sangat susah di bujuk.


“Aku bilang enggak tetap enggak mau! Pokoknya langsung dari pohonnya, Sayang. Please!” Sambil menyatukan kedua tangan di depan suaminya. Arabella terus mencoba memohon.

__ADS_1


“Ya udah iya-iya aku ambil dari pohonnya langsung buat istriku tersayang. Ya udah yuk kita langsung pergi.”


Yah ... Harga diriku akhirnya kalah telak pas manjat pohon. Mana aku enggak pernah manjat lagi, batin Benny mencoba bersabar meskipun kesal.


__ADS_2