
...H A P P Y R E A D I N G...
Benny tiba di hotel. Ia ingin bertemu dengan istrinya. Tanpa pikir panjang dirinya langsung memasuki hotel tersebut. Ia bisa mengetahuinya dari Halu yang dengan mudah bisa melacak kemana Bella pergi hingga membuatnya tidak susah untuk mendapat jejak.
Langsung memasuki hotel meskipun Benny tidak sadar bahwa Aland sedang berdiri mengikutinya. Hingga akhirnya Benny berhenti di depan kamar 212 lalu mengetuknya perlahan.
Arabella mengira jika itu pesanan datang yang baru ia pesan hingga akhirnya membuatnya membuka pintu. Melihat kedatangan suaminya sungguh membuat hatinya senang meskipun, ia sedikit kesal.
“Baby, maaf kalau aku masuk tanpa meminta izin. Tapi, aku kesini hanya ingin datang padamu karena aku merindukanmu,” ucap Benny yang langsung membawa Arabella kedalam pelukannya.
Bella membalas pelukan semuanya itu hingga membuat Benny mengecup pipinya. Melihat hal itu membuat Benny tersenyum lalu berkata.
“Kita pulang yuk! Baby,” ajak Benny sambil memegangi wajahnya.
Arabella menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa, Sayang. Kamu harus hidup sendirian dan menjaga anak kita. Aku harus pergi jauh agar semuanya kembali aman.”
“Tidak, Sayang. Kamu istriku, aku tidak bisa melihatmu pergi. Jangan katakan itu. Aku sangat mencintaimu,” ucap Benny yang terus memeluk istrinya.
Arabella lalu tertawa dalam pelukan suaminya. “Aku tidak akan pergi, Sayang. Tapi, pergilah aku ingin menenangkan diri sebentar. Apa kamu ingin menemui Brian? Dia masih tertidur.”
Benny menggelengkan kepalanya. “Tidak, biarkan dia tertidur. Aku hanya ingin menemui mu. Ya sudah, Sayang. Kalau begitu aku pergi dulu.” Benny pamit tanpa melupakan kecupan pada istrinya.
Saat ia berjalan keluar Benny mengingat satu hal. Bagaimana jika sampai tahu kalau Aland sudah tahu Brian anaknya. Tuhan, aku sangat takut. Jangan biarkan istri dan anakku pergi dariku, batin.
Mengetahui jika Benny ingin pergi dengan cepat Aland bersembunyi sampai akhirnya Benny benar-benar pergi dari hotel itu. Lalu Aland mendatangi kamarnya Arabella. Mendengar ketukan pintu hingga Arabella mengira jika itu suaminya.
“Sayang, aku sudah bi-bilang. Aland! Kamu kok bisa di sini?” tanya Arabella sembari menatap keluar melihat Benny.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan Bella. Aland langsung membawa wanita itu kedalam pelukannya. Namun, Arabella melepaskan pelukan itu hingga membuat Aland terheran.
“Bella, apa kamu tidak merindukanku?” tanya Arabella.
“Tentu saja aku merindukanmu, Aland,” sahut Arabella.
“Jika begitu kembalilah padaku, Bella. Aku merindukanmu, sungguh! Aku tidak lagi kita berpisah. Ingatanku sekarang telah kembali. Ku mohon ... Mari kita hidup bahagia bersama anak kita,” ucap Aland begitu serius dengan membawa menggenggam tangannya Bella.
Anak? Apa mungkin Aland sudah tahu jika Brian adalah anaknya? Batin Arabella.
“Darimana kamu bisa tahu kita memiliki anak, Aland?” Arabella kebingungan.
“Darimana aku tahu itu bukan menjadi masalah tapi, sekarang ikutlah denganku. Mari kita hidup lagi seperti dulu.”
Bella menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa ikut denganmu, Aland. Aku sudah menikah dengan Benny. Kau tahu, aku bahkan sedang mengandung anaknya. Mengertilah, Aland.”
“Aku tidak melupakanmu, Aland. Tapi, aku mencintai suamiku. Aku mencintainya. Jika kita berpisah ini adalah takdir yang harus kita jalani. Aland, lebih baik kita tidak lagi bersatu meskipun aku tetap mencintaimu. Karena aku tidak bisa memilih di antara kalian.”
“Baiklah jika memang itu keputusanmu! Aku harus memberikan pelajaran! Dia harus membayar segalanya! Aku harus pergi, Bella.” Tanpa mendengar Bella menyahut Aland langsung pergi. Di saat juga Bella melihat jika ada pistol terselip di dalam saku celananya hingga akhirnya Bella memutuskan untuk mengejarnya.
“Aku tidak bisa membiarkan Aland menyakiti Benny. Aku harus bisa melindunginya,” gumam Arabella.
Arabella berlari mengejar Aland namun, sayang langkah pria itu terlalu cepat sampai tidak bis di kejar olehnya. Aland pergi dengan mobilnya begitupun Arabella. Ia sampai melupakan bahwa bayi kecil tertinggal di dalam hotel.
...----------------...
Aland tiba di kediaman Benny. Ia keluar dari mobi sembari mengambil pistolnya. “Benny keluar kamu brengsek! Kamu telah membuat Arabella ku tidak memilihku lagi. Maka hari ini kamu harus membayar semuanya. Kamu harus mati!”
__ADS_1
Aland berteriak sampai suaranya terdengar kedalam kediaman itu hingga membuat Benny keluar apalagi dia kesal melihat Aland. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat Aland berada di halaman kediamannya dengan menyodorkan pistol.
“Benny! Kamu harus membayar semuanya!” geram Aland sembari menarik menarik senapannya.
Benny melotot 'kan matanya saat ajalnya berada di ujung tangan Aland. Tapi, saat itu juga Arabella merasakan ancaman begitu besar hingga akhirnya dia berlari berdiri di depan Benny. Sampai Benny berteriak.
“Bella! Jangan lari kesini.” Benny berteriak namun, sayang Bella tepat berdiri di depannya.
Hingga akhirnya Dor! Berhasil menembus jantungnya Arabella. Ia terjatuh namun, Benny berlari dan membawa istrinya kedalam pangkuannya. Begitupun dengan Aland. Terduduk lemas saat dirinya telah membunuh orang yang dia cintai.
Tinggal beberapa tarikan nafas Bella berada. Ia memegangi wajah Benny sembari mengeluarkan air mata. “P-pang-gil, Aland kesini.”
Benny menggelengkan kepalanya lalu ia juga melambaikan tangan meski dirinya tidak suka menatap wajah Aland.
Arabella memegang tangan Benny juga Aland. Ia lalu menggenggam secara bersama kedua tangan mereka. “A-aku ingin kalian berbaikan 'lah. Jangan saling bermusuhan apalagi jika kalian meminta untuk memilih siapa yang aku cintai. Tentu saja aku tidak bisa memilih karena aku mencintai kalian berdua. Benny, Aku mencintaimu, Sayang. Jika kamu mati dan aku hidup, aku tidak bisa berpikiran normal mungkin aku bisa gila. Jadi aku memilih untuk tidak melihatmu pergi. Jika nanti aku tidak selamat rawat bayi kita dengan baik. Dan untukmu, Aland. Brian ada di sini kamu juga bisa merawatnya. Ma-maafkan! Aku. Telah membuat hidup kalian berdua saling bermusuhan.”
Lalu di detik terakhir Arabella menarik nafasnya hingga akhirnya dia terdiam di dalam pelukannya Benny.
“BABY! JANGAN TINGGALKAN AKU! Mari kita rawat anak kita bersama,” teriak Benny sembari membawa Arabella kedalam pelukannya sampai dia menangis.
Saat itu juga hati Aland tersakiti. Ia juga menangis meskipun dia sangat ingin memeluk Bella terakhir kalinya namun, Benny lebih berhak untuk memeluknya.
“Maafkan aku, Bella. Aku menyakitimu, Maaf. Aku berjanji akan merawat Brian, anak kita dengan baik,” lirih Aland dengan pelan.
Semua orang di sana menyaksikan duka yang sangat dramatis. Hingga tangisan ikut membawa setiap orang yang di sana.
...----------------...
__ADS_1
...Akankah ini tamat?...