
...H A P P Y R E A D I N G...
“Baby, kenapa mataku di sini sipit begini? Tapi, aku masih terlihat tampan 'kan?” tanya Benny yang langsung di jawab dengan ciuman oleh Arabella.
“Ya-ya aku tahu itu,” sahur Bella sembari menggelengkan kepalanya.
“Um, jika begitu ayo Baby kita lakukan sekarang. Ah! Aku jadi tidak sabar!” Benny begitu antusias hingga ia berlari lalu lompat-lompat tanpa sebab.
Arabella menepuk jidatnya saat menatap Benny terlihat bodoh. “Ayolah, Ben. Apa kamu sedang sakit?”
“Baby, bukannya kita akan melakukan um, anu hubungan dewasa?” tanya Benny sambil berdiri dengan kepala di miringkan seperti orang sedang berpikir.
“Ya ampun! Aku sedang tidak bisa melakukannya. Kau tahu kehamilanku masih di usia yang sangat kecil jadi tunggu sampai beberapa waktu lagi. Kau mau?”
Semoga Benny mau mengerti. Aku tidak ingin mengecewakannya lagi, batin Bella.
Benny menarik nafasnya lalu ia tersenyum dan mencoba untuk sabar. “Aku mengerti, Bella. Baiklah aku akan menunggumu kapanpun itu.”
Mendengar ucapan Benny membuat Arabella senang hingga akhirnya Bella mendekati dirinya lalu memberikan pelukan dan mencium pipi pria itu dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih, Baby. Aku mencintaimu," ucap Benny yang langsung di sambut senyuman oleh Arabella.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...(Pesta pernikahan)...
Arabella sedang di rias. Dengan gaun pengantin berwarna putih membuatnya sangat cantik. Hingga akhirnya riasan itu selesai dan Halu sebagai pihak dari Arabella untuk mendampinginya berjalan di atas altar. Pandangan ke depan sambil tersenyum memperlihatkan kebahagiaan yang sedang ia rasakan. Benny langsung gandengan tangan Arabella untuk naik keatas podium hingga akhirnya pendeta langsung memulainya.
Pendeta mempersilahkan kedua mempelai untuk berjabat atau berpegangan tangan, setelah dilakukan beberapa tatt cara kebaktian. Lalu setengah itu langsung mempersilahkan untuk kedua mempelai mengucapkan janji suci pernikahan yang akan diucapkan secara bergantian.
Arabella Delisa/Benny Ton, aku mengambil engkau menjadi seorang istri/suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum kita. Janji yang telah diucapkan oleh mereka berdua.
Hingga akhirnya sesi bertukar cincin dan mereka saling memperlihatkan kemesraan di depan semua orang. Benny mencium Arabella untuk kali kedua pernikahan. Mereka sudah resmi menjadi suami dan istri. Dan acara berpose ria sedang dilakukan oleh semua tamu undangan untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka.
...----------------...
Pesta selesai. Mereka berdua pun pergi dari gedung acara. Tiba di kediaman. Benny membopong tubuhnya Arabella untuk masuk kedalam kamar. Lalu ia juga membantunya melepas gaun pengantin hingga akhirnya membuat Arabella mengulum senyumnya saat melihat Benny yang begitu tidak sabar sampai melakukannya sendiri tanpa di minta.
“Um, kitakan baru menikah jadi seperti biasa suami dan istri melakukan hubungan anu. Aku sangat sulit mengatakannya, Baby,” sahur Benny dengan sedikit malu.
“Sayang, apa kamu sudah lupa kalau aku sedang hamil? Aku tahu ini tugasmu. Maafkan aku, Ben.” Arabella terlihat sedih sembari menundukkan kepalanya.
“Duh! Aku sampai lupa. Sungguh aku tidak mengingatnya sama sekali. Baby, kamu tidak perlu minta maaf. Aku tidak menyalahi mu. Seharusnya ini salahku yang tidak bisa membuatmu jatuh cinta dari dulu,” sahut Benny yang ikut-ikutan sedih.
“Ayolah, Sayang. Tidak perlu sesedih itu Benny ku. Tunggu beberapa saat lagi baru kamu bisa melakukannya.”
“Uuh ... kamu begitu manis, Baby. Eh sebentar! Rasanya aku mendengar mu memanggilku Sayang. Pendengaran ku tidak sedang rusak 'kan?” Benny bertanya begitu bodoh sampai membuat Arabella menjatuhkan tepukan tepat di pipinya.
“Hey! Aku memang memanggilmu, Sayang. Ben! Kitakan sudah menikah jadi sudah sepantasnya aku menghormatimu dengan melakukan hal-hal kecil.”
__ADS_1
“Aduh ... Istriku begitu pintar. Ya sudah sini aku akan memberikan ciuman spesial untukmu.” Benny langsung menarik Arabella kedalam pelukannya.
...----------------...
(Australia - Rumah Pak tua)
Aland merenung ditepi danau. Ia terduduk seorang diri hingga tiba-tiba pak tua membawakan obat untuknya lengkap dengan minuman. Saat orang itu menghampirinya ia sedikit terkejut namun, ia kembali bersikap tenang.
“Aland, minum obatmu dulu setelah itu jika ingin tidur pergilah,” ucap Bapak tersebut sembari memberikan obat-obatan.
Aland mengangguk-anggukkan kepalanya. “Saya akan meminumnya, Pak. Tapi, saya tidak ingin tidur. Entah kapan saya bisa kembali ke Kanada. Rasanya Negera itu begitu familiar.”
Ucapan Aland langsung membuat Bapak tua itu kaget hingga ia terburu-buru untuk duduk di sampingnya. “Kanada? Apa kamu punya kenangan tentang itu? Begini, Aland. Rasanya sangat tidak mungkin seseorang mengingat sesuatu jika dirinya tidak pernah berada di sana bahkan ingatanmu ini begitu jelas kalau kamu memang pernah tinggal di sana. Mungkinkah Kanada memang asal mu? Jika memang iya maka lebih baik cepatlah kembali.”
“Ayolah, Pak. Apa Anda sedang mengusirku? Saya bahkan tidak tahu jelas dengan Negera itu. Jadi bagaimana bisa Anda mengklaim bahwa dari sana saya berasal. Lagipula jikapun benar saya juga tidak tahu caranya kembali,” sahut Aland dengan pasrah sembari menarik nafasnya perlahan.
Kasihan anak ini. Dia bahkan tidak tahu lagi dari mana asalnya. Pasti keluarganya sudah begitu lelah mencarinya, batin Bapak tua.
Tanpa mengatakan apapun Bapak itu langsung pergi meninggalkan Aland sendirian. Lalu tidak lama dirinya langsung kembali sambil membawa beberapa kartu kecil. Dan langsung memperlihatkannya kepada Aland.
“Begini, Nak. Bukan maksudku ingin mengusir mu tapi, cobalah lihat beberapa kartu-kartu ini. Ini sebagai tanda pengenal mu. Jadi kamu tidak bisa memasuki sebuah daerah tanpa membawa tanda pengenal. Bisa-bisa kamu akan di tahan walaupun kamu saat ini aman denganku tapi, lihat tetangga sekitar lama-lama pasti akan penasaran siapa dirimu. Jadi karena aku sedikit kasihan denganmu sebaiknya kamu pulanglah jika memang kamu sudah mengetahui alamat mu. Mengenai obat-obatan kamu bisa memintanya padaku nanti aku akan mengirimnya dari sini jika sudah habis. Bagaimana pendapatmu, Aland?”
Aland terdiam sembari berpikir sejenak. “Jika memang keadaannya seperti itu bagaimana kalau Anda mengantarkan saya kembali, Pak. Dan juga mencarikan tempat tinggal untuk saya. Sebagai gantinya saya akan memberikan bayaran. Lagipula saya tidak tahu harus berjalan kearah mana.”
Bapak tua itu terdiam hingga ia menarik nafasnya perlahan. Duh ... gimana ya? Kalau enggak di tolong kasihan. Tapi, kalau di tolong iya sih dapat uang cuma hewan peliharaan saya siapa yang mau urusin? Apa kasih ke penampungan hewan untuk sementara? Batin.
__ADS_1