Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
10. Pendaftaran


__ADS_3

Sabrina merasa khawatir dengan Suluh yang tak berbicara sama sekali. Sifat kakaknya itu berubah drastis dari antusias berubah muram dan keseringan melamun. Semenjak dia berbicara empat mata dengan Rahayu, Suluh dilanda kecamuk yang terus berkutat di kepalanya. Bukan disebabkan surat rekomendasi tersebut akan tetapi sebutan yang dinobatkan kepadanya.


Sang Mukhalis.


Dia tertekan. Terlalu memikirkan masa depan dan mulai membuat narasi-narasi khayalan yang berlebihan. Terutama bila dilibatkan dengan masyarakat Asarania yang mulai membicarakan Suluh, mungkin ramalan tersebut mencetuskan kebenaran. Suluh benar-benar kehilangan arah, tak tahu harus berbuat apa, kemampuannya masih minim dan hanya sekadar buih di lautan.


"Nak, kamu kenapa?" kata Arumi yang khawatir memecahkan lamunan Suluh.


Anak itu memaksa senyuman lalu memamah makanan yang disajikan, "Aku baik-baik saja, Bu."


"Nak, bila ada masalah, coba ceritakan kepada kami," kini Bara berseru, mencoba mencari tahu kasus yang dialami anaknya.


Suluh secara cepat mengangguk, "Jangan khawatir, Yah, tak ada yang perlu dicemaskan."


Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang membayang-bayangi Suluh, dia hanya tak mau membuka suara. Membiarkan terpendam. Mungkin belum waktunya menuturkan apa yang diterangkan Rahayu, tak ingin merusak suasana jamuan makan malam. Namun cepat atau lambat, mereka akan tahu bahwa Suluh adalah anak dalam ramalan.


Hal itu semakin merasuk ke dalam benak Suluh, membuat anak itu tak dapat berkonsentrasi ketika latihan dengan Guru Madiarta. Dia semakin lambat, tak cekatan. Berkali-kali terkena serangan sampai akhirnya sebuah sepakan memutar membuat Suluh mundur beberapa langkah lalu terkapar. Bahkan semangat Suluh seakan sirna, tak bertenaga.


"Kenapa denganmu?" celetuk Madiarta merasa ada yang aneh dari muridnya. "Tidak biasanya kau seperti ini."


Suluh tak menjawab, dia masih mencoba berdiri membiarkan gurunya berkata, "Surat rekomendasi itu tak ada gunanya bila kemampuanmu melemah, menurun drastis dari sebelumnya!"


Madiarta semakin mendekati anak yang masih bersimpuh lantas berujar, "Apa kau pikir dengan surat itu kau akan aman? Bangunlah!"


Suluh berusaha keras untuk fokus, melibas semua rekaan yang meracuni konsentrasinya. Dia pun bangkit, mengambil ancang-ancang dengan persiapan penuh. "Maaf Guru, kali ini tak akan terulang lagi."


"Untuk anak yang direkomendasikan ke Cenderawasih," Madiarta melakukan sikap yang sama persis dengan Suluh. "Kau sangat mengecewakan dengan penampilanmu saat ini."


"Bersungguh-sungguhlah!" kakek itu berteriak yang selalu bisa memercikkan emosi Suluh. "Seperti kau berusaha semaksimal mungkin meski tak ada harapan untuk bisa diterima."


Determinasi membara itu terlihat dari sorotan Suluh, dia tanpa aba-aba mulai beraksi. Mereka saling melancarkan pukulan dengan telapak tangan, menyerang dan menepis. Berkali-kali pula Suluh dapat mengimbangi Madiarta dikala dia mencoba mendinginkan kepala. Pertarungan sengit tersebut membuat Suluh terdesak, dia hanya perlu mengatur stamina dan tak boleh terkecoh walau sedikit.


Sampai suatu ketika, Madiarta kembali memberikan sepakan kaki dan kali ini, Suluh melakukan hal demikian. Kedua kaki mereka bertabrakan menimbulkan gelombang angin yang menyapu habis dedaunan di sekitarnya, menakuti burung-burung yang menonton di atas dahan. Suluh sedikit terpental akan tetapi Madiarta dapat mendarat dengan sempurna.


"Aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu, muridku," seru kakek itu menebak. "Kalau tidak, sedari tadi kau tak akan ada masalah berarti dengan latihan ini."


Perlahan-lahan kakek itu mendekati Suluh, "Apa yang kau sembunyikan terlepas dari surat itu?"

__ADS_1


Suluh mencoba untuk rileks, tak mau menimbulkan kerumitan dalam menebak alur yang akan datang. Dia menunduk sambil mengatur napas, berterus terang, "Guru, apakah ciri-ciri Mukhalis sepertiku?"


Madiarta yang berjalan sontak tersendat, ekspresinya seperti kebingungan. "Mukhalis? Kurasa aku pernah mendengarnya."


"Itu sebutan untuk orang yang menyelamatkan Bentala dari kerusakan," timpal Suluh memberitahu.


"Ah, benar, ramalan kuno dari buku Bahari," kakek Madiarta menaruh rasa curiga. "Kenapa? Kau mengira Mukhalis itu dirimu?"


Suluh tak merespons, mengulur beberapa detik sampai dia berkata, "Seseorang yang memberikan surat rekomendasi itu telah mempercayaiku, Guru."


Kakek Madiarta menautkan alis, memikirkan sesuatu. "Mukhalis si legenda. Kabarnya dia akan muncul tatkala masalah besar melanda Bentala. Namun selama berabad-abad sudah dia tak lagi terdengar rimbanya."


"Ya, mungkin orang itu benar," Madiarta tersenyum lebar kemudian berjalan di depan Suluh, menatap kedua iris hazelnya. "Pemberian berharga itu pasti ada maksud di baliknya. Tak peduli kau itu memang Mukhalis atau bukan, yang terpenting adalah jagalah kepercayaan orang tersebut dengan tidak mengecewakannya."


"Kerahkan yang terbaik, muridku." kalimat tersebut memberikan Suluh ketenangan, dia yang menunduk kembali memperhatikan Madiarta. "Apa kau mengerti?"


Anak itu seketika mengangguk mantap, tanpa keraguan. "Mengerti, Guru!"


"Kalau begitu," Madiarta lalu melenggang pergi meninggalkan muridnya. "Mari rehat dulu sebentar, masih ada banyak ikan yang belum dimasak."


Sudah dua hari berlalu, Suluh yang dibawah naungan Guru Madiarta sudah dapat menjernihkan pikirannya, mampu menguasai teknik yang diajarkan. Kini, waktu telah tiba untuk hadir ke Padepokan Cenderawasih demi membuktikan bahwa Suluh layak bersekolah di sana. Meski dengan kekurangan yang dimiliki, tak sekali-kali menghentikan langkahnya.


"Lihat saja, dengan obat-obatanku kelak, aku dapat menolong mereka yang membutuhkan!" Senyuman lebar Sabrina ditanggapi Suluh dengan mengusap lembut rambutnya. "Percaya padaku, Kak!"


"Ya, kakak mempercayaimu sepenuhnya," ujar Suluh lalu beralih kepada Sekar yang berada di belakang Sabrina. "Karena kamu belajar ke orang yang tepat."


Meski terlihat samar-samar, Sekar tersipu malu. Dia dengan suara merdunya membalas, "Suluh, semoga berhasil."


Suluh menaik-turunkan kepalanya sambil melambaikan tangan. "Terima kasih, Sekar. Aku pergi dulu."


Pemuda penuh ambisi tersebut berjalan cepat yang lama-lama seakan berlari, menembus kerumunan hiruk-pikuk kota dengan semangat membara. Setelah melewati beberapa putaran serta menerobos gang-gang kecil, sorotannya kini dengan jelas melihat pintu masuk Padepokan Cenderawasih. Tahu betul letak tempat tersebut sebab dia pernah berkunjung ke sana. Sekadar melihat-lihat.


Dari ambang gerbang saja sudah tampak pemuda-pemudi yang bergerombol antri, berdesak-desakan. Jumlah mereka sekitar ratusan, jumlah yang luar biasa untuk saling bersaing mendapatkan bangku sekolah. Suluh mau tak mau harus menunggu sesuai giliran, sempat diperhatikan oleh anak-anak sepantaran.


"Halo, siapa namamu?" seru seorang laki-laki berambut cokelat bergelombang di sebelah Suluh--mereka membagi antrian dalam dua barisan.


Pemuda yang awalnya ragu-ragu itu, merespons, "Suluh."

__ADS_1


"Ah, Suluh," dia mengulurkan tangan dengan ekspresi ramah tamah. "Aku Satia dari desa Sawarinda."


Melihat itu Suluh mengurungkan niat bersalaman, sebisa mungkin tidak memperlihatkan tangan buatan yang dibalut pakaian berlengan panjang. "Aku dari Baturia."


Satia yang diabaikan seperti itu tak memendam benci, dia malah semringah. "Baturia, kah? Jauh sekali."


"Sudahlah, Satia," sahut laki-laki di depan barisan Satia yang terlihat tampan. "Kau tak bisa memaksakan diri menemukan teman baru di sini."


"Ayolah, Samudra," celetuk Satia sedikit terganggu dengan uraian kata temannya. "Tak ada salahnya menambah relasi, bukan?"


"Kau lihat saja dia," Samudra mulai kembali menatap ke depan, gilirannya pun akan tiba. "Sepertinya enggan tertarik denganmu."


Suluh merasa bersalah karena menolak uluran tangan Satia. Dia hendak memverifikasi alasan dibaliknya namun urung karena Satia kembali berujar, "Hey, sukses untukmu, Suluh."


Suluh tersenyum lebar seketika menjawab, "Terima kasih Satia. Aku berharap kau juga berhasil."


Suluh baru menyadari bahwa barisan di depannya kosong, ini saatnya Suluh untuk memperkenalkan diri. Dambaan hati berada tepat di depan mata. Di hadapannya kini ada pria berperawakan besar dengan tampang menyeramkan. Kalau berbicara pedas, tak peduli perasaan yang dicecar. Dia dengan suara keras dan mengintimidasi berteriak.


"Mau apa kau ke sini?" bentaknya hingga hampir kehabisan tenaga. "Apa yang membuat Cenderawasih menerimamu?"


"Aku ingin belajar bela diri serta ilmu menguasai Prana, Pak!" balas Suluh dengan nada tinggi.


"Dan untuk apa Prana bagimu?" cecar pria itu masih tak menurunkan volume suaranya.


Suluh langsung teringat tujuan hidupnya. "Untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi, Pak!"


"Oh?" Pria berbadan kekar tersebut tercekat, tak melanjutkan sumpah serapah. "Alasan yang bagus. Apa kau anak dalam rekomendasi?"


"Ya, Pak," Suluh buru-buru merogoh sesuatu yang ada di dalam baju. "Ini, suratnya."


Pria itu menyahut kertas tersebut, memeriksa keasliannya dengan sebuah kacamata lalu membaca dengan teliti kalimat yang tercetak. Namun entah kenapa raut mukanya berubah, berubah penuh ketidakpercayaan sembari berkali-kali melirik ke arah Suluh. Dengan sekali hentakan kaki dia berdiri, melantunkan perintah yang tak bisa ditolak Suluh.


"Lepaskan bajumu sekarang juga!" ultimatum itu membuat semua peserta tertuju kepada Suluh.


Perasaan anak itu buncah, dia seperti dikuliti di depan umum. Identitas yang dibungkam erat kini tak bisa lagi terus disembunyikan. Perlahan-lahan dia menanggalkan pakaian atas putihnya itu dan seketika semua mata memandang terkejut bukan main. Tak mempercayai apa yang sedang mereka perhatikan. Mesin-mesin itu, alat bantu itu, dia adalah anak yang dibicarakan.


"Tidak salah lagi," lirih pria yang berdiri di hadapan Suluh. "Kau adalah anak istimewa itu."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2