Mukhalis: Pahlawan Bentala

Mukhalis: Pahlawan Bentala
11. Padepokan Cenderawasih


__ADS_3

Semuanya membisu di tempat, lambat laun mulai berbisik satu sama lain. Raut muka mereka ada yang merasa aneh, terpukau, dan bahkan memuakkan. Suluh menunduk dalam-dalam bersedia menerima semua konsekuensi yang akan diterima. Sesekali dia melirik ke arah laki-laki yang masih membeku di depan, kerutan tua di sebelah mata itu terbelalak tak dapat menemukan kata.


"Apa-apaan itu?" teriakan memecah keheningan, memantik kericuhan.


"Ya, kenapa kau berada di sini?" hardik mereka yang entah berasal dari mana.


"Bagaimana mungkin tubuh cacat itu mendapatkan rekomendasi?" suara cercaan terdengar jelas merasuk ke telinga Suluh.


"Enyahlah dari sini!" usir calon-calon murid Cenderawasih yang sepertinya bersorak sorai untuk menarik Suluh dari sana.


"Kau nanti hanya menimbulkan aib untuk sekolah ini!" kalimat itu diteruskan dengan ketawa yang meledek.


"Dia pasti mencuri surat rekomendasi dari orang lain," racau insan tersebut dengan ekspresi kebencian. "Hanya orang bodoh yang mau memberikan surat tersebut kepada anak cacat!"


Hati Suluh yang semula retak diolok-oleh di tempat umum tiba-tiba tersulut amarah mendengar Rahayu dicemooh. Dia secepat kilat menoleh ke belakang, menyaksikan para peserta didik baru yang bersatu mendukung untuk menjatuhkannya. Seketika raut murka itu berubah muram, tak percaya bahwa mereka semua sepakat tak mau menerima Suluh.


Satu per satu wajah mereka terngiang-ngiang, penuh kebencian dan caci makian. Bahkan salah satu dari mereka secara kasar mendorong tubuh Suluh untuk segera mungkin hengkang, tak sudi berlama-lama memandang. Semua mengharapkannya menghilang. Terkecuali Satia yang tak berkomentar apa-apa, menaruh rasa simpati semata.


"Tunggu apa lagi?" pekik anak muda yang mengantri di belakang Suluh. "Pergi dari sini!"


Dia menarik Suluh dengan kasar, membuat laki-laki itu hampir terjungkal. Namun hal itu malah memeriahkan suasana, terbahak-bahak sambil terus mencerca. Jiwa Suluh seolah-olah hancur, matanya perlahan sembab dan jantungnya berdegup kencang kesakitan. Di benak Suluh terbayang-bayang kalimat orang tuanya yang menyayanginya, Rahayu dan Arnadi yang mempercayainya, serta Sabrina dan Sekar yang menerima apa adanya.


Sedangkan impian yang berada di depan mata, justru menjatuhkannya hingga ke dasar nestapa.


"Pak, bukankah dia harus tetap dites kemampuannya?" seru Satia memecah keramaian.


"Hah? Untuk apa?" cela laki-laki di sebelah pemuda itu. "Memangnya apa yang bisa dia lakukan?"

__ADS_1


"Kau tau bahwa surat rekomendasi tidaklah main-main," tukas Satia membuat mereka terbungkam. "Dia pasti memiliki kelebihan yang tak kita ketahui."


"Ya, kau benar anak muda," sahut laki-laki yang berada di barisan Satia. "Seharusnya demikian."


Guru tersebut menoleh ke rekan di sebelahnya yang masih terdiam, kelabakan mengambil keputusan. Tiba-tiba dari balik gerbang kayu yang besar menjulang bermotif burung cendrawasih, muncul kakek-kakek berjenggot putih panjang yang setara dengan perutnya. Aura yang dikeluarkan sungguh membuat siapa saja menaruh hormat, salah satu tetua Padepokan Cenderawasih yang lirikannya langsung tertuju kepada Suluh di sana.


"Ada apa ini Guru Winasura?" seru kakek tersebut sesekali menoleh kepada laki-laki yang berada di hadapan Suluh. "Kenapa lama sekali?"


"Tetua Ardiyasa," timpal pria berbadan besar itu membungkuk memberi salam. "Anda sudah pasti tahu siapa anak ini."


Kakek tersebut tak bergeming akan tetapi sorotannya terpusat kepada Suluh. "Ya, kenapa dengannya?"


"Dia memiliki surat rekomendasi," kata Winasura memberikan kertas itu kepada tetua. "Keputusan seperti apa yang harus dilakukan, Guru?"


Semuanya mendadak hening dan menegangkan, terutama untuk Suluh yang mencoba bangkit dari keterpurukan. Dia menilik Guru Ardiyasa yang irisnya bergerak membaca naskah dalam batin sanubari, sesekali teralihkan kepada anak yang tak diinginkan oleh sebagian besar calon kandidat siswa. Dia lalu menggulung secarik itu lantas mendekati bocah yang was-was bukan kepalang.


Kalimat itu segera mengubah mimik Suluh menjadi penuh harapan, merespons seruan dengan mencurahkan air muka berseri, "Baik, Tetua!"


Sebagian besar insan di sana tercekat, membisu tak percaya bahwa anak disabilitas diberikan kesempatan masuk. Bahkan di barisan buntut mereka terdengar berbisik-bisik, menebak-nebak misteri yang tercantum dalam surat yang membuat tetua menerima Suluh. Tidak, masih belum. Suluh harus dapat membuktikan bahwa dia mampu lolos tes dan itulah yang membuat mereka semakin tertarik. Penasaran dengan apa yang bisa dilakukan anak berkebutuhan khusus tersebut.


Di sebuah arena luas yang terlihat ciamik, semua kuota murid-murid Cenderawasih berkumpul. Mereka adalah murid yang lolos kekebalan daya tahan tubuh seperti membelah balok dan latihan fisik lainnya. Namun untuk Suluh yang memiliki surat tersebut, dia dialihkan dan melangkah ke tahap selanjutnya yaitu beradu bela diri. Pada titik ini, nasib dan masa depan Suluh akan ditentukan.


Seluruh mata memandang ke tempat itu, baik senior beserta para tetua antusias menonton dan ingin tahu kemampuan siswa baru. Terlebih anak istimewa yang menyita perhatian. Pemuda yang mendedikasikan dirinya pada seni bela diri tatkala tubuhnya tak mendukung demikian, benar-benar pertunjukan yang tak dapat dilewatkan. Semuanya penasaran tentang apa yang mampu Suluh demonstrasikan.


Dengan arahan tangan, Suluh diminta maju ke depan oleh Tetua Ardiyasa kemudian memerintahkan murid lain yang ternyata adalah Satia. Tepuk tangan semarak dari hadirin memeriahkan acara tersebut, seakan-akan menyaksikan perhelatan yang dahsyat. Senyuman tercetak dari muka Satia yang terlihat ramah, sedikit membuat Suluh merasa buncah. Mereka saling bertatapan di antara Tetua Ardiyasa, memberikan jarak satu sama lain.


"Suluh, bila kau tak dapat memberitahu kepada kami keahlianmu, surat rekomendasimu tak dapat diterima," titah kakek itu dengan suara menggema ke segala penjuru. "Sebab di kertas ini tertulis bahwa kau memiliki bakat alami dalam bela diri."

__ADS_1


"Kami di sini hanya ingin bukti itu," kalimat Ardiyasa memaksa Suluh menelan saliva berkali-kali. "Apa kau sedia?"


Suluh harus memantaskan diri, harus percaya diri. Dia berlatih hanya untuk dapat melaju sejauh ini, tak ingin mengecewakan mereka yang mempercayai. Terutama Rahayu dan Arnadi. Dengan mimik penuh ambisi, Suluh mengangguk mantap seraya menautkan dahi. "Saya bersedia."


"Bagaimana denganmu, Satia?" kini kakek itu menoleh kepada pemuda berambut cokelat.


"Saya bersedia, Tetua." kata Satia tanpa keraguan.


"Baiklah, beri hormat!" sesaat setelah Ardiyasa memberi aba-aba, dua anak itu membungkuk dalam-dalam.


"Ambil sikap," kali ini mereka mengatur ancang-ancang, kedua mata Suluh dan Satia saling tertaut menebarkan rasa serius. "Mulai!"


Mereka sama-sama berjalan memutar secara perlahan, menjaga tiap langkah untuk selalu waspada. Kondisi di sekitar mereka seakan hanyut dengan kesenyapan, berkonsentrasi atas segala hal yang akan terjalin. Satia yang melihat ada kesempatan, langsung memberikan sepakan memutar dengan kecepatan yang sontak membuat Suluh harus menahan itu dengan kedua tangan.


Daya yang diberikan Satia terasa besar sampai-sampai membuat Suluh sedikit terguncang. Dengan buru-buru anak itu memfokuskan diri walau dia dapat mendengar suara-suara yang meremehkan. Lebih ke menjatuhkan martabat Suluh. Pemuda tersebut berusaha untuk mengabaikan dan terus berkonsentrasi, ini adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan.


Satia kembali melancarkan serangan akan tetapi kali ini dengan telapak tangan, mengarah tepat ke muka yang kelabakan. Suluh dapat membaca gerakan itu mencoba menangkap, menangkal hantaman. Namun dia tak sadar bahwa tatkala Satia meluncurkan tangan, kaki laki-laki itu turut serta memberikan tendangan. Alhasil, Suluh terkecoh dan menerima rasa mual yang memaksanya bersimpuh di atas dataran.


Kericuhan seketika membahana di area aula, mereka berteriak heboh, terpincut akan keahlian Satia. Bermacam-macam makian kemudian berseru kepada Suluh, mengolok-olok serta mempertanyakan keaslian surat rekomendasi yang didapatinya. Ini tidak manusiawi, Suluh sama sekali tak dapat dukungan sekan diperlakukan seperti sampah.


"Diam!" bentak Tetua Ardiyasa mendadak membuat keramaian menjadi senyap. "Masih belum. Kau masih belum fokus."


"Bersungguh-sungguhlah!" tukas kakek itu seakan memberikan motivasi kepada Suluh. "Apa kau memang tidak serius memperjuangkan kesempatan besar yang ada di hadapanmu?"


Tidak, sama sekali tidak! Suluh tak akan pernah memaafkan diri bila dia berputus asa. Harus berusaha keras, kudu dapat membuktikan bahwa dia bukanlah manusia lemah. Mesti melawan meski dunia seakan menekan, tak memberikan kemungkinan. Emosi terus membara, mencetuskan adrenalin ambisi yang tak akan terlepaskan. Suluh saat itu bangkit kembali, menolak takdir yang mendambakan keruntuhannya.


Di momen itulah tetua-tetua yang berada di balkon merasakan bahwa ada sesuatu dari dalam tubuh Suluh. Sesuatu yang teramat kuat.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2