
Mentari sudah berubah memerah, langit semakin lama semakin suram. Sore itu Niskala masih belum sembuh dari kekacauan, suara-suara teriakan masih berada di mana-mana. Kobaran api melesat meleburkan sesuatu yang dilalui, menewaskan ratusan makhluk berakal tanpa terkecuali. Wira berkumis tebal bernama Andrian itu terlihat membopong anak kecil laki-laki yang terluka bakar, tak sadarkan diri dengan cairan merah kehitaman keluar dari sudut-sudut bibirnya.
"Sial, masih ada banyak anak-anak di sekitar sini!" teriak Andrian kelelahan, membawa anak-anak tak bersalah itu ke suatu tempat.
"Andrian, bagaimana keadaan markas?" sambut rekan yang bernama Septian setelah memberikan kain kasa kepada anak yang berhasil diselamatkan, menempelkan ke cedera.
"Kacau," timpal Andrian menaruh anak itu dengan berhati-hati serta kelembutan. "Semuanya hancur. Pasukan Wira Tempur dilibas habis-habisan."
Suara ledakan masih memenuhi indra pendengaran, memeriahkan suasana yang mencemaskan. Septian menunduk setelah mendengar kalimat yang terlontarkan, menoleh ke kanan-kiri dengan muka memelas. "Bagaimana ini bisa bermula? Apakah Indrayana berkhianat?"
"Bisa dipastikan seperti itu," seru Andrian duduk bersandar di tembok rumah, seragam wira yang ia kenakan lusuh menempel abu serta kotoran. "Tak banyak yang bisa kita lakukan saat ini. Cobalah untuk mencari mereka yang masih membutuhkan dan bawa ke sini."
"Tapi Andrian," sahut Septian bernada lirih. "Kita bahkan tidak tahu mereka masih bertahan apa tidak."
"Hei!" Pria berkumis tebal tersebut lantas menarik kerah leher Septian dengan muka serius. "Kita masih diberikan kesempatan untuk menyelamatkan mereka. Apakah kau ingkar terhadap tugasmu sendiri sebagai wira?"
Namun Septian yang sudah di dasar nestapa, mencabut dengan kasar tangan Ardian serta berteriak, "Lihatlah di sekitarmu! Siapa yang akan peduli bila kau tak mematuhi tugas? Atasan kita bahkan entah berada di mana. Mereka sibuk menyelamatkan diri!"
Andrian tak dapat membalas, amarah kawannya itu bercampur kesedihan. Keputusasaan telah memenuhi isi hati yang tak dapat keluar dari neraka. Dia lalu meneruskan lalu merintih, "Kita sudah tamat, Andrian. Api-api itu akan menemukan kita cepat atau lambat."
Pria bernama Andrian terdiam sebelum berdiri tertatih, kaki kanan yang telah tertimpa batu-batuan dari atas masih diusahakan untuk terus melangkah. "Bila kau ingin mati tak melakukan apa-apa maka silahkan. Tapi aku tak mau kematianku sia-sia. Aku akan membawa anak-anak ini ke tempat lain dan memberikan kuburanmu di sini."
Karena sindiran keras itu Septian terperangah, membiarkan rekan yang sudah berkolaborasi selama bertahun-tahun tersebut berkata, "Kita semua akan menemui maut. Namun, bagaimana cara kita mempersiapkan kematian itulah yang dapat kita usahakan."
Kata-kata itu menusuk sanubari Septian, dia merasa bersalah. "Tunggu!"
Sesaat sebelum Andrian keluar dari tempat yang sudah tak karuan tersebut, dia berhenti, menoleh kepada Septian. Anak bertubuh jangkung tersebut lantas berdiri dengan sisa-sisa tenaga, mendekati Andrian dan membawa salah satu anak yang terluka. "Ini bukti budiku. Aku akan menemanimu meski kematian adalah arah yang kau tempuh."
Andrian tersenyum lebar, mereka lantas keluar sontak disambut kehancuran di mana-mana. Kota itu seperti lautan api, korban-korban berceceran di sana sini, erangan minta bantuan ditemukan di sudut-sudut mata mereka. Namun, Andrian dan Septian tak bisa membawa lebih dari ini, melaknat diri sendiri dalam batin tak kuasa sekadar memperhatikan. Menembus kepekatan asap hitam abu-abu yang berterbangan di udara. Para wira itu tak berhenti sampai ke tempat yang lebih aman dan terkendali.
Hantaman kuat berkekuatan masif tersebut masih terus memancarkan api menembus apapun yang dilalui, pertempuran empat manusia sakti itu sendiri mampu meratakan kota Asarania bila mereka menghendaki. Rumah-rumah besar nan tinggi yang berada di sebelah Andrian dan Septian memberikan tanda-tanda. Fasad-fasad yang terbuat dari beton mulai rontok dan turun dengan sekelebatan mata, menimpa trotoar secara instan menewaskan insan bila tepat mendarat di kepala.
__ADS_1
Mereka yang sadar akan hal itu buru-buru mempercepat langkah, kesusahan sebab kaki yang berat sebelah. Mereka reflek menunduk, tak dapat melindungi kepala dengan kedua tangan karena membawa anak-anak yang masih bernapas. Septian yang tak cedera apa-apa lebih cepat mendahului, sempat membalikkan badan ketika meletakkan anak itu di dalam automobil yang terbuka, lekas-lekas menghampiri Andrian.
"Kita harus cepat, Pak Tua!" celetuk laki-laki yang lebih muda belasan tahun memapah Andrian.
"Bawalah bocah ini," seru Andrian menyerahkan anak laki-laki tersebut. "Keselamatan mereka adalah prioritas kita."
"Kau tak usah meracau!" Septian tersulut emosi ketika menyampirkan anak belasan tahun itu di bahu. "Aku akan membantumu keluar dari sini."
"Terima kasih anak muda," setelah Andrian mengucapkan hal demikian, bangunan di sebelah mereka ambruk secara tiba-tiba. Seseorang terpental dari atas, menembus rumah-rumah di sana-sini. Tak tahu bahwa di bawahnya ada dua wira yang berusaha keras untuk melarikan diri.
Gedung itu rubuh beserta api yang mulai mencuat dari dalam memuntahkan semua berhamburan ke luar. Peristiwa itu terlaksana sangat cepat sampai-sampai kedua wira tersebut hampir tak terselamatkan oleh reruntuhan. Namun, Andrian berinisiatif mendorong Septian dari sana, mendarat kasar di trotoar beserta anak yang dibawa. Sementara laki-laki berkumis tebal itu tersenyum lebar, menerima takdir dengan ketulusan.
"Andrian!" kedua mata Septian terbelalak, memekik keras-keras.
Rumah itu menimbun semua yang ada di bawah sembari api yang turut membakar tempat tersebut. Septian terhempas beberapa meter oleh angin yang dihasilkan dari reruntuhan, asap-asap hitam mulai menguar memenuhi jalanan memblokade akses lalu lintas. Panorama Asarania dari bukit itu tampak suram, malam temaram dengan cahaya bulan sabit yang cerah seakan-akan turut menyaksikan keruntuhan Niskala.
Di sana, ada insan yang berdiri dengan napas terengah-engah. Rambut acak-acakan berwarna hitam terlambai-lambai oleh silir-semilir. Kedua mata hazel itu tampak kelam dan dipenuhi kesedihan. Dia tak lain adalah Suluh yang sedikit lagi sampai di desa Baturia. Harapan semakin lama semakin terkikis mencemaskan, takut bila mereka yang dicintai kenapa-kenapa. Dengan meneguhkan diri, dia mengumpulkan niat dan tenaga untuk kembali ke kediaman.
Setelah berkali-kali membabat semak-semak dengan tangan buatan yang berbeda material, Suluh kaku di tempat tatkala melihat desa di sana tampak ada sebuah kebakaran. Asap hitam mengepul di udara, beserta cahaya benderang mencuat dari dalam sana. Suluh tanpa menunda lebih lama kembali berlari sampai rasa letih tak tertahankan, napas tak teratur terengah-engah. Dia tak memedulikan apapun akan kondisinya, hanya ingin memastikan bahwa orang tuanya aman.
Puluhan orang dengan seragam yang sama seperti tengah menuntun warga-warga desa, memaksa mereka berkumpul di depan salah satu rumah yang telah habis terkobar. Mereka semua bersimpuh, seperti tahanan yang hendak dieksekusi. Bahkan ada manusia yang sudah tergeletak tak bergerak, akibat telah melawan. Salah satu di antara mereka dengan tubuh besar mondar-mandir memperhatikan satu-satu dari insan tak bersalah tersebut, seakan memeriksa sesuatu.
"Apakah ini sudah semua?" seru pria itu dengan suara yang menakuti sebagian dari masyarakat Baturia.
Setelah bawahannya itu menaik-turunkan kepala, sosok bertubuh kekar lantas berkata, "Bila kalian menurutiku, kalian selamat. Jika tidak, maka kalian akan berakhir seperti dia."
Tanpa menunjuk pun mereka tahu siapa yang dia maksud. Sosok yang bernama Jaali meneruskan, "Niskala kini berada dalam kekuasaan Ganendra. Turuti semua apa yang kukatakan, melawan tak akan berarti."
"Tapi, karena rekan-rekanku ada yang mati karena ulah kalian." Jaali tersenyum lebar, ada maksud yang disembunyikan. "Maka aku menuntut balas yang setimpal."
Belum sampai dia terbungkam, salah satu warga desa dengan keberanian hendak menikam Jaali. Namun, keahlian bela diri yang tidak biasa itu dapat dengan mudah merebut belati yang malah menusuk pemiliknya sendiri. Orang itu melotot, darah keluar dari sudut-sudut bibir yang bergetar. Jaali secara kasar menendang tubuh itu sampai terkapar kaku di atas tanah. Saat dia hendak menoleh ke tahanan yang berbaris, dia kelabakan dengan suara wira-wira yang merintih kesakitan.
__ADS_1
Benar, Suluh yang hadir di sana dengan emosi membara melumpuhkan satu-satu dari mereka. Bahkan dia sempat memakai kekuatan Prana yang membuat musuh terpental hebat menembus kerumunan yang berniat mengeroyok. Karena aksi laki-laki itu, warga tersulut untuk sekali lagi berjuang mempertahankan hak-haknya, merebut belati-belati wira yang terjengkang kalang kabut. Perlawanan saat itu merubah keadaan walaupun sedikit, musuh mulai berceceran karena serbuan secara tersentak.
Namun hal itu tak bertahan lama tatkala Jaali memutuskan mendekati Suluh, masuk ke dalam medan pertempuran. Anak itu tanpa aba-aba melakukan serangan ke tubuh kekar pria berkulit sawo, berambut botak, serta berewok hitam tersebut. Jaali sedikit tertegun bahwa aksi anak itu cepat sekali, membiarkan hantaman kuat mendarat di dada. Dia merasa kesakitan sekaligus kewalahan mencoba melaraskan serbuan bertubi-tubi dari Suluh.
"Bedebah kau, bocah!" Erangan amarah itu terdengar keras dari Jaali, memukul tanah sampai retak bergemuruh.
Kuda-kuda Suluh terusik, tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan kaki kiri itu masuk ke dalam tanah yang terpisah. Saat Suluh sibuk menarik kembali dari retakan, Jaali tidak setengah-setengah melancarkan bogeman mentah, melesat tepat menyentuh kedua tangan Suluh yang bertahan. Akibat kekuatan dahsyat tersebut membuat Suluh terpental dan dapat disergap oleh wira-wira yang berada di sana. Memudahkan Jaali memuaskan emosi yang memburu.
"Bocah tengik! Berani-beraninya kau melawanku!" bentak Jaali mulai memukuli Suluh yang tak dapat bergerak, tangannya terkunci oleh dua wira di sebelahnya. "Kupastikan kau akan mati dengan rasa sakit yang tak kau kira!"
"Hentikan!" sergah suara yang berasal dari pria itu, diikuti oleh wanita yang membuntutinya. "Lepaskan dia dan taruhlah aku dalam siksamu!"
"Oh?" Jaali menoleh ke belakang, melangkah lambat mendekati mereka. "Kau pikir siapa dirimu hendak tawar-menawar denganku?"
"Tidak! Larilah dari sini!" kini Suluh berteriak keras-keras sampai urat di leher itu mencuat.
"Diam!" sahut salah satu wira meninju tepat di wajah Suluh, membuatnya membisu seketika dengan darah yang merembes keluar dari mulut.
"Jadi seperti itu," tutur Jaali yang kini berada di hadapan orang tua yang tak bukan adalah Bara dan Arumi. "Baiklah, aku akan membiarkan dia selamat."
Pria besar tersebut lantas memutar, berada tepat di belakang mereka yang berserah diri. Suluh semakin liar, dia tak dapat mengendalikan diri dan mulai meracau, "Jangan kau dekati mereka, keparat!"
"Tapi aku masih penasaran dengan kemampuannya setelah ini." Belati itu terhunus, Jaali membuat kuda-kuda. "Dengan begini, kita akan tahu."
Tatapan antara orang tua dan anak tertaut, terkoneksi satu sama lain. Kedua mata Suluh sudah sembab, bahkan air mata merembes hebat tak tertahankan. Namun, mereka masih sempat tersenyum tulus, barangkali adalah kali terakhir Suluh melihat mereka merekahkan bibir dengan muka berseri-seri. Semua seakan terdiam, waktu seolah-olah berputar lambat sekali. Momen-momen ini walau sesaat, memberikan kesan yang teramat bermakna.
"Maafkan, kami, Nak," kata Arumi lirih sekali, seakan berbisik. "Jaga adikmu baik-baik."
"Kami sangat bangga memilikimu," kini Bara yang berseru. "Kau anak yang luar biasa."
Sesaat setelah itu, tebasan hebat menuntaskan kehidupan mereka. Terkapar bersimbah darah, tewas tepat di hadapan anaknya. Suluh terbelalak membeku di tempat, kesadaran bocah itu kabur, tak bisa menelaah insiden nahas tersebut. Hatinya terlampau rusak, hancur, dan mati. Dunia dan harapannya telah sirna.
__ADS_1
...----------------...