
Pemandangan Asarania tidak karuan. Kota metropolitan dengan teknologi serta industrial yang lebih superior dari keempat kerajaan lain itu kini hanya sebuah kenangan. Kecantikan serta kemewahannya sirna, tergantikan malapetaka dan kehancuran. Balon-balon udara yang berada di udara ambruk menimpa rumah-rumah di bawahnya, meratakan bangunan dengan ledakan luar biasa menakutkan. Di stadion itu tertimbun mayat-mayat bergelimpangan, tak terkecuali sosok laki-laki bertubuh tambun dengan busana mewah yang mencolok mata. Pemimpin Indrayana sekaligus Kaisar Bentala, Mandala, sudah tak lagi bernyawa.
Di sekitar kunarpa itu terbaring Raja Reswara dengan tatapan kehampaan melihat antariksa. Pakaian yang dikenakan robek di mana-mana, di tangan kanannya terdapat belati yang terpecah dua bagian. Darah segar merembes keluar dari bibir yang dihiasi berewok itu, sesekali terbatuk-batuk meratapi keadaan diri yang sudah kalah. Tak mampu kembali melawan. Namun, di sela-sela napas terakhirnya, merpati indah mendarat tepat di sebelahnya. Senyuman sekilas tercetak di wajah tidak karuan raja, momen yang tepat memberikan pesan akan kegagalannya. Meminta maaf bila dia tak dapat kembali.
Setelah memberikan sepucuk surat, merpati itu tanpa disuruh mengepakkan sayap, meninggalkan orang terhormat itu sendirian menunggu ajal menjemput. Memejamkan mata secara perlahan sampai akhirnya benar-benar tertidur untuk selamanya. Sedangkan burung yang terbang tersebut melintasi kobaran api yang menyala-nyala di bawahnya, pertarungan antara guru dan murid itu masih belum usai memporak-porandakan semuanya. Kombinasi gerakan yang bergantian antara Tetua Mustari dan Ardiyasa memberikan waktu buruk bagi Candra yang kewalahan, dia sampai harus mundur tanpa henti melancarkan unsur Tingkat Alam tersebut.
Normalnya, unsur alam yang diubah menjadi elemen memerlukan Prana yang tidak biasa dari dalam tubuh. Tidak seperti Tingkat Mandraguna yang memerlukan energi mentah, memancarkan sedikit elemen saja memerlukan waktu dan konsentrasi tidak biasa. Namun, Candra justru seolah-olah tanpa usaha berarti tatkala mengeluarkan api-api tersebut, bahkan kuantitas dan kualitasnya sungguh luar biasa. Tak pernah sesekali dia rehat mengumpulkan tenaga maupun terlihat kelelahan. Prana di dalam sukmanya sudah dapat dipastikan di luar kapasitas manusia.
Duel sengit Tetua Mustari dan Candra mewarnai malam suram itu, disaksikan bulan dan bintang-bintang yang cerah berkilauan. Gerakan kakek tua itu sangat cepat terlepas keadaan fisik yang sudah renta, Candra dengan tatapan serius masih bisa menahan semua serangan tersebut. Bahkan dia sempat memberikan hantaman balik yang tepat mengenai Sesepuh Mustari, tergantikan oleh Tetua Ardiyasa yang turut andil berusaha menghentikan.
"Ini semakin lama semakin seru," kata Candra merekahkan sudut bibirnya dengan sinis. "Aku tak pernah merasa sesemangat ini."
"Dikau seharusnya tak usah kembali," sahut Tetua Ardiyasa yang menahan kedua tangan Candra. "Eramu telah usai. Tak ada tempat bagimu di sini."
"Benarkah itu, Pak Tua?" Pria tersebut tertawa kecil menimpali kalimat yang terlontar dari kakek di hadapannya. "Lalu kenapa kau tak mati?"
__ADS_1
Dia secara cepat memberikan sepakan, lalu dengan dorongan kedua tangan bola api melesat cepat yang tak sempat ditolak kakek dengan jenggot menjuntai tersebut. Sontak unsur panas itu membakar tubuhnya, sesegera mungkin dia merobek busana putihnya dan terbebas dari lalapan. Namun dia tak tahu bahwa selama dia melakukan tindakan tersebut, Candra sudah berada tepat di depan lantas memberikan bogeman kuat yang menghempaskan Tetua Ardiyasa sampai akhirnya menabrak bangunan di sana, menerobos masuk ke dalam.
"Tingkat Mandraguna ternyata tidak terlalu buruk," Candra menepuk-nepuk tangannya yang tiba-tiba mengepul. "Tapi elemen api masih sangat mema--"
Belum selesai Candra menuntaskan kalimat, lesatan cepat entah dari mana tepat berlabuh di tubuh laki-laki itu. Tetua Mustari dengan cekatan memberikan kombinasi teknik mematikan, Candra yang mencoba membalas hanya sia-sia belaka, menghantam udara. Serangan tersebut sampai mengakibatkan anak berambut abu-abu itu kesakitan, darah termuntahkan dari mulutnya. Sampai akhirnya, tangan kanan Tetua Mustari berada tepat di satu inchi perut Candra. Sekali hentakan sekelebatan mata, Candra terpental hebat dengan kecepatan yang dapat menembus rumah-rumah bertingkat di sana. Secara instan meretakkan tanah pijakan dan area di sekitar tetua.
Candra baru berhenti di sebuah rumah dengan beton yang teramat kuat, mendarat lesu di atas tanah. Dia mencoba berdiri akan tetapi tubuh itu terasa berat digerakkan, sempat membuatnya terkekeh pelan. Kakek Mustari sudah berada di sana, tak terlalu jauh darinya secara berhati-hati mendekat tatkala laki-laki itu sudah terduduk di tempat. Menunduk dalam-dalam.
"Kehebatanmu tak luntur sama sekali, Guru Mustari," seru Candra bangkit dengan usaha keras. "Tapi aku tak akan dikalahkan olehmu."
"Kau hanya mengerti buku Bahari dan ramalan itu," lanjut pria yang menampakkan wajahnya, kedua mata abu-abu tersebut menusuk manik tetua. "Tapi aku telah membaca Gulungan Semesta dengan cara yang berbeda."
"Gulungan Semesta?" Sesepuh tersentak kaget, tak mempercayai apa yang dikatakan Candra. "Mustahil! Benda mitos itu sudah terkubur dan tak dapat dikenali!"
Candra tertawa terbahak-bahak dengan nada suara yang mencekam, kepalanya mendongak ke atas tak kuasa menahan jenaka. Sampai hal itu mereda, dia bertutur, "Pak Tua sepertimu yang menghabiskan waktu hanya di dalam Padepokan Cenderawasih takkan tahu sesuatu di luar sana!"
__ADS_1
"Pilihanku sangat tepat ketika memutuskan keluar dari didikanmu yang lemah itu!" Tiba-tiba sesuatu menguar dari dalam tubuh Candra, membentuk suatu aura kemerahan yang berkobar-kobar sampai menimbulkan angin kencang di sekitar. "Dan memperoleh kekuatan yang mustahil kudapatkan darimu!"
Sinar-sinar di sekitar tubuh laki-laki itu mendadak sirna, dengan kecepatan luar biasa melesat di depan Mustari. Namun, ketika dia hendak menepis serangan itu, secara tidak masuk akal tubuh Candra seolah-olah memudar dan tembus pandang, hampir seperti sebuah bayangan semata. Dia tidak tahu bahwa tubuh asli Candra sudah berada di belakangnya, bersedia hendak memberikan sambutan.
"Ini?" Saat Tetua Mustari sadar dan menoleh ke arah laki-laki itu berada, dia menerima bogeman ke atas, terpelanting di udara.
Dia mencoba menyeimbangkan tubuh ketika berada di atas, mendarat mulus di atas atap rumah dengan genting-genting merahnya. Disusul oleh Candra yang melompat tepat berada di depan. Kedua siluet itu bertarung sengit, disaksikan oleh bulan sabit yang tepat berada di latar belakang. Di bawah mereka diwarnai oleh api-api yang menjalar membumihanguskan kota, menambah nuansa duka sekaligus ironis. Guru dan murid tersebut berusaha untuk saling menikam, mengabaikan masa lalu yang pernah terjalin tanpa ada masalah.
Candra kembali memanfaatkan teknik yang memanipulasi kecepatan. Tetua Mustari menautkan alis, berkonsentrasi dengan naluri yang dikuatkan. Candra mencoba melakukan serangan dari depan yang lagi-lagi dapat dibaca oleh Mustari, secara bersamaan Candra berada di balik kakek itu. Gerakan serupa tersebut tak akan berhasil untuk kedua kali. Tetua Mustari tanpa diketahui Candra, memberikan sepakan tepat terarah kepadanya, menyentuh tubuh yang dibalut kain hitam itu.
Namun kakek Mustari salah memprediksi. Kedua-duanya adalah bayangan akan kecepatan anak itu. Tubuh asli Candra ternyata berada di depan tetua, mendaratkan hantaman yang terus menerus ke atas. Tiap serangan itu memantulkan kakek Mustari sampai-sampai membentuk seperti rasi bintang, menembus awan-awan dan terus ke atas. Kecepatan tak kasat mata itu membuat tetua kritis, diimbuhi dengan bogeman keras ke bawah sebagai akhiran.
Sebab energi tersebut, Tetua Mustari amblas menabrak bangunan-bangunan dan mendarat kasar di halaman depan sekolah itu. Penampilan kakek Mustari benar-benar kacau serta memilukan, kesusahan untuk berdiri maupun sekadar menggerakkan tangan. Dia lumpuh, mengubah posisi menjadi terlungkup berusaha keras untuk merangkak. Namun, Candra yang turun dengan cepat menimbulkan dentuman menggelegar tepat di hadapan Tetua Mustari, terselimuti oleh debu sampai akhirnya terlihat.
"Ah, tempat ini sama sekali tidak berubah, Padepokan Cenderawasih."
__ADS_1
...----------------...