
Savira melompati beberapa benda yang ada di hadapan, melewati tempat kumuh nan tak terawat. Sesekali menerobos insan-insan yang tak lekas cepat-cepat melangkah, menembus arus ke dalam keramaian acara di desa Sinambu. Di belakang Savira dengan busana serba hitam tersebut dibuntuti dua laki-laki yang berpenampilan sama, buru-buru menyusul tak mau kehilangan arah.
Kelihaian wanita itu sangat luar biasa, kelenturan tubuh serta bakat akrobatik membantunya menaiki rumah dengan alas rata. Kedua kaki kuat itu menempel di tembok dengan cepat secara bergiliran, memberikan tumpuan dan melompat sampai kedua tangan Savira dapat meraih sisi atap datar rumah tersebut. Reno dan Riki terdiam di bawah sana, tampak melongo memikirkan cara bagaimana mereka bisa melakukan hal yang sama.
Sementara Savira tak berhenti berlari, melompati satu rumah ke rumah lain tanpa ada kendala sama sekali. Sampai dia tiba-tiba berhenti tatkala melihat di tengah air mancur itu semua kereta berkumpul, membungkuk sembari mencermati lamat-lamat. Dia tak menemukan Suluh, Intan, dan Alan. Berpikir mungkin mereka tak dapat melewati wira-wira itu dan tertawan. Savira kembali melangkah, mulai mendekati keramaian dari genting-genting bangunan yang mulai berbentuk mansard.
"Di mana kalian berada?" kata Savira dalam hati dengan mimik khawatir.
Dahi Intan bercucuran keringat, topi bambu yang melindunginya dari terik mentari tak memberikan hasil maksimal. Sebab dia kali ini benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan, terlibat di dalam perhelatan. Sementara satu wira yang duduk bersamanya telah tiada, membiarkan Alan menemaninya dalam bersandiwara. Di sudut-sudut mata memandang, mereka disambut meriah bak tokoh terkenal, semakin membuat kedua insan tersebut cemas.
Tidak hanya itu, Suluh yang memutuskan tidak ikut campur bila sudah berada di desa menambah masalah mereka. Rencana Savira kacau sudah, tak tahu cadangan rancangan yang harus dilaksanakan setelahnya. Mereka murni menuruti arus, menunggu waktu sampai ketahuan. Alan kala itu menoleh ke arah Intan, mencoba menenangkan hati yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Semua karangan yang berada di benak untuk kabur terasa sia-sia belaka.
"Sekarang bagaimana, Alan?" bisik wanita tersebut dengan lirikan yang bergerak ke mana-mana.
"Rileks, kita tak dapat melakukan apa-apa saat ini," tutur Alan memaksakan senyuman tatkala ada beberapa orang yang memperhatikan, bersikap se-formal mungkin. "Beradaptasi adalah kekuatan utama saat ini sampai mereka menemukan wira-wira yang kita lucuti."
"Maksudmu?" Intan sontak terfokus kepada Alan.
"Kau tak tahu bahwa ada wira yang selalu berpatroli?" kata laki-laki berambut kecokelatan tersebut. "Saat mereka menemukan korban, situasi akan tak terkendali di sini."
"Waktu itulah kita harus memanfaatkan sebaik mungkin untuk kabur." Alan memeriksa ke ekor kereta, arah yang dilalui kini tertutupi insan-insan yang bersorak sorai.
"Kenapa ... kenapa Suluh tak mau membantu kita?" Intan masih shock sebab musafir itu menelantarkan mereka begitu saja dengan suatu masalah yang teramat serius.
__ADS_1
"Kita tak bisa memaksanya, bukan?" Alan berdehem mengembuskan napas. "Kita terlalu merepotkan seseorang yang bahkan hampir kita rampas."
"Untuk dia mau melakukan hal terkutuk ini," kata Alan masih mencerocos. "Sudah sangat berlebihan bila kita menuntut lebih."
"Tapi, Alan, bila yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan," timpal Intan sambil mengendalikan kuda tersebut untuk tidak berlari. "Mengapa selama ini kita tak menyadarinya?"
"Ketika aku melihat kalangan kita tersenyum bahagia, menitihkan air mata disaat kita kembali membawa makanan," imbuh Intan kini menatap Alan yang memperhatikan. "Apakah itu suatu keburukan?"
Alan terdiam lama sekali sembari menunduk. "Aku kira tidak seperti itu. Perihal bertahan hidup, hal yang dinilai baik dan buruk hanyalah suatu keabu-abuan."
"Kita diharuskan melakukan sesuatu yang mendesak untuk mempertahankan kehidupan mereka." Sudut-sudut bibir Alan merekah, mencoba membuat situasi membaik.
Namun belum sampai mereka berhenti di tempat tujuan, warga mendadak membeku mendengar sirene yang teramat keras. Wira-wira yang berada di sekitar sontak menghunus belati mereka, turun dari kereta. Alan menuruti, melakukan hal serupa. Karena semua merasakan kecemasan akan suatu masalah yang akan terjadi, Savira yang sudah berada di antara kerumunan tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"Ini saatnya!" Alan lekas-lekas kembali menaiki kereta. "Ayo keluar dari sini, Intan!"
Dengan membanting setir, wanita itu memecut kuda dan kereta tersebut secara cepat melesat. Wira yang berada di gerbang terlihat berlari berusaha menyusul, susah payah menerobos kericuhan yang tengah terjadi. Salah satu dari mereka lantas berteriak, "Hentikan mereka!"
Sementara Reno dan Riki yang berada di atas rumah, membidik balon-balon udara yang teramat besar dengan anak panah. Alhasil benda itu bergerak tak tentu arah semakin membuat situasi tak karuan. Lambat laun merendah dan melibas semua yang ada di hadapan. Makhluk yang melihat hal tersebut kalang kabut menghindar, ada beberapa tak sempat harus rela menerima benturan. Teriakan berkesinambungan di berbagai arah, sedangkan Intan dan Alan melarikan diri.
Savira tak berhenti sampai di situ, dia secara kasar merampas kereta dengan bawaan ikan-ikan laut, sempat beradu tangan dengan sipir yang berakhir tertempak dari atas pedati. Wanita dengan keahlian bela diri tersebut dengan mudah mengambil alih, meluncur secepat mungkin dari sana. Namun, dia baru sadar bahwa bukan hanya mereka yang melakukan hal ini, ada kelompok lain ikut campur. Sekelompok itu berbusana kusut tak terawat, robek di mana-mana serta kelakuan yang sedikit aneh.
Dari punggung pakaian berwarna cokelat itu Savira tahu siapa mereka. Lambang tengkorak dengan dua bilah simitar yang saling beradu, dan topi kotak khas mereka yang menimbulkan cerita masa lalu kembali teringat. Kenangan yang sangat ingin dilupakan serta mengubur identitas di dalam tanah. Belum sempat dia hendak keluar dari lingkaran setan, kereta yang sudah dikuasai sekelompok itu tahu betul muka Savira, salah satu dari mereka dengan berewok tebal tersenyum sinis. Melompat tanpa aba-aba menerjang tepat ke arah Savira.
__ADS_1
Savira secara cekatan berbelok akan tetapi pria berbadan kekar itu sempat meraih sudut-sudut kereta, mengacaukan keseimbangan dan rubuh sesaat kemudian. Kuda tersebut merintih keras tatkala terkapar di tanah, Savira bahkan sampai berputar-putar di atas tanah berlumpur dengan kondisi tidak baik-baik saja, menumpahkan seluruh isi makanan yang dimuat. Perempuan berambut hitam itu lantas menoleh, berusaha berdiri tatkala laki-laki tersebut mendekat.
"Apakah itu kau, Savira?" serunya merekahkan senyuman simpul. "Kebetulan sekali, aku sangat ingin 'menikmatimu' lagi."
"Kenapa kau ada di sini, Sihan?" kata Savira terbata-bata berusaha keras untuk bangkit.
"Apa? Melewatkan festival makanan seperti ini? Kesempatan besar tak mungkin terlewatkan oleh kelompokku, bukankah begitu?" Pria bernama Sihan itu meregangkan otot-otot tangannya, sambil memutar kepala beberapa kali. "Kau sendiri ke sini dengan maksud yang sama."
"Sudah dua tahun semenjak kau melarikan diri dari rumah bordil itu, aku merasa kehilangan," kelakar Sihan sambil merentangkan tangan. "Kau sundal yang luar biasa."
Sesaat sebelum tangan Sihan meraih Savira, dengan lihai wanita itu jungkir balik seraya memberikan tendangan ke atas yang tepat mendarat di dagu Sihan. Pria berbadan besar nan kekar tersebut hanya sedikit tersentak, tatapannya berubah beringas akan tetapi masih sempat tersenyum. Dia lantas berseru, "Aku suka dengan keberanian dan keras kepalamu."
Sihan dengan nafsu tak terkontrol menyambar Savira dengan liar, memberikan hantaman berkali-kali. Namun, bakat Savira dalam akrobatik membantunya dalam menghindari semua serangan, sempat memberikan sepakan yang menimbulkan Sihan mundur beberapa langkah. Penuh emosi dan kesabaran yang terkikis habis, Sihan berteriak, "Keparat kau!"
Pria itu melakukan serangkaian serbuan yang tak mengenai Savira sama sekali, namun, Savira tak bisa terus menerus mundur. Di belakangnya ada tembok batas suatu rumah yang tak terlalu tinggi, akibat bogeman Sihan, dia harus mengelak dengan melompat, mendarat di atas tembok tersebut. Saat itulah hari kemalangan Savira tiba. Beberapa detik berlalu setelah dia menapak kaki, Sihan dengan brutal memberikan sambaran ke tembok tersebut sampai tembus. Melesat tepat menimpa Savira.
Puing-puing itu membuat Savira terluka di beberapa bagian, terkapar dengan kerobohan bongkahan tembok berwarna krem yang kucar-kacir. Di area luas seperti bunderan itu, di tengah-tengahnya terdapat air mancur yang indah. Tak seindah suasana yang tengah kacau tak memedulikan apapun kecuali dirinya sendiri. Dengan kesadaran yang masih tersisa, Savira mencoba berdiri, terseok-seok memberikan sela di antara Sihan. Namun tampaknya, usaha wanita itu sia-sia dikala kakinya secara nahas tertimpa serpihan. Tak dapat menahan rasa sakit lebih lama.
"Sayang sekali, padahal aku terpuaskan dengan servismu," cerocos Sihan bersimpuh di sebelah Savira, menilik muka cendayam yang banyak luka lebam dan robek; dengan kasar mencekik lehernya. "Tapi sepertinya aku harus merelakanmu."
Savira tak bisa melawan, tangan kuat Sihan benar-benar di luar kapasitas tenaganya yang sudah semakin lemas kekurangan asupan udara. Perlahan-lahan indera penglihatannya kabur, memori sempat terlintas memenuhi kepala. Masa lalu yang teramat terhina.
...----------------...
__ADS_1