
Di toko itu, tampak Suluh dan Sekar membeli sesuatu. Wanita yang tengah membuat adonan tersebut terlihat kewalahan sebab konsumen yang antri terlampau banyak, baru kali ini dia mendapatkan masukan yang luar biasa. Mungkin dikarenakan sebagian besar dari mereka adalah imigran luar yang hendak menonton kompetisi semakin membeludak di Asarania.
Tanpa disadari, Niskala turut menarik semua kalangan dari seluruh dunia untuk mencicipi keanekaragaman wisata, menaikkan ekonomi mereka dalam skala berkali-kali lipat. Hal ini sudah diprediksi oleh Tuan Reswara demi meningkatkan mutu dalam terus memperluas mesin-mesin era revolusi industri. Tentu, menjadi tuan rumah memerlukan biaya yang tidak murah sama sekali.
"Kamu masih ingat kue kukus yang dibawa Sabrina tempo hari, bukan?" seru laki-laki berambut hitam itu tampil menawan. Kedua tangan buatan tersebut tergantikan oleh bahan yang relatif lebih kurus tetapi masih mempertahankan kekokohannya. Menambah fleksibilitas dalam bergerak. Tersembunyi di balik mantel lodon hitam yang dia kenakan.
Sementara Sekar yang berada di sebelah, menarik beraneka mata dari beberapa sudut. Dia cantik sekali dengan balutan busana krim trench-nya yang terkancing tepat di dada. Memakai sebuah kacamata bulat dengan tali yang melingkar di telinga, serta rambut cokelat kemerahan yang diikat konde, sungguh mempesona siapa saja terutama untuk Suluh. Dia harus menaruh usaha lebih keras demi memalingkan pandangan.
"Ah, ini tempatnya?" tebak Sekar dengan air muka berseri. "Ternyata tak terlalu jauh dari rumah, kenapa aku malah baru tahu," lanjutnya sambil tertawa kecil.
"Apakah boleh menonton kompetisi membawa makanan?" timpal Suluh yang teringat ada aturan-aturan ketat memasuki stadion.
"Tak apa-apa," tutur Sekar melangkah ke depan diikuti oleh Suluh. "Namun dibatasi. Kue kukus dan satu minuman sudah sangat cukup, kurasa."
"Ah ini buruk, aku sama sekali tak tahu minuman yang nikmat di sekitar sini," cerca laki-laki itu menoleh ke sana kemari, mencari-cari kedai yang menarik.
"Tak usah khawatir, aku tahu minuman yang cocok untuk itu," kilah Sekar merekahkan senyuman. "Itu minuman favoritku, sih. Kamu harus coba sesekali."
Suluh menoleh ke arah Sekar, membuat tingkah aneh dengan menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri. Kedua tangannya dimasukkan di dalam saku trench yang terlalu besar tersebut sambil sesekali melirik kepada Suluh. Laki-laki itu secara berani mendekatkan muka dan berkata lirih, "Baiklah, aku akan menilai seberapa enak minuman itu."
Ekspresi Sekar tiba-tiba memerah sekaligus merasa sebal. Sebab minuman kesukaannya dipertanyakan. "Aku tak keberatan, lagipula aku tahu kamu bakal suka nantinya!"
"Iya, iya," Suluh sadar bahwa antrian di depannya sirna. "Mari kita memesan dahulu."
Ibu Sahira yang mencuat setelah membungkuk mengeluarkan sesuatu, hampir meloncat mendapati Suluh tepat berada di hadapan. Dia terlihat sangat terpukau akan penampilan modis laki-laki itu seraya merasa sedikit kebingungan karena kali ini dia hadir bukan bersama Sabrina. Melainkan sesosok lain yang tampak mencurahkan aura wanita berada, bukan dari kalangan biasa.
__ADS_1
"Tokonya ramai sekali, bukankah begitu, Bu?" kata Suluh berbasa-basi.
"Nak Suluh, kau tampan sekali dengan busana itu!" seru Bu Sahira yang direspons ketawa kecil oleh Sekar tatkala melihat Suluh yang tersipu malu.
"Oh iya, Bu, ini Sekar," Sekar menunduk ketika diperkenalkan Suluh. "Sekar, ini Ibu Sahira."
"Nak Sekar, kah? Nama yang cantik seperti orangnya," ungkap wanita tersebut masih dalam keadaan berbunga-bunga. "Apakah kalian ini sepasang kekasih?"
Mendengar itu Suluh dan Sekar secara bersamaan menoleh satu sama lain. Kelabakan, rona merah muncul dari kedua muka mereka yang tak tahu harus merespons apa. Sekar yang terlampau salah tingkah membalas kalimat Bu Sahira, "Ah, tidak, Bu. Kami hanya bersama-sama hendak menonton turnamen."
"Benar," sahut laki-laki tersebut turut menimpali. "Itu benar sekali, Bu!"
"Oh mau menonton kompetisi?" tutur Bu Sahira membersihkan tangan dengan serbet. "Aku dengar tak banyak yang dapat melihat sebab keterbatasan tempat duduk. Namun tetap saja, total mereka semakin hari semakin meningkat."
Semua yang dikatakan wanita itu tak salah. Salah satu stadion terbesar di Bentala itu telah diserbu massa. Bagaimana tidak, kali ini yang bertanding adalah salah satu murid Cenderawasih melawan kandidat Turuwara Merah. Mereka sama-sama lolos ke babak berikut sampai akhirnya dipertemukan dalam satu arena. Dia adalah teman sekelas Suluh, Satia, melawan murid bernama Raka yang dikenal dengan teknik Pukulan Pemecah Angin.
Sebelum acara dimulai, Suluh dan Sekar sudah tiba terlebih dahulu dan menempati kursi mereka yang telah dipesan. Berkat kemurahan hati Tuan Arnadi dan Ibu Rahayu, Suluh diberikan dua tiket yang diperuntukkan untuk adiknya. Namun disebabkan Sabrina yang tak terlalu suka aksi bela diri, dia akhirnya bersama Sekar saat ini. Menyaksikan acara spektakuler bersama-sama dengan makanan favorit mereka.
Lambat laun insan-insan memenuhi tribun, sorak keceriaan berkumandang keras tatkala suara-suara petasan dari dalam arena menyala, meledak di langit biru dengan warna yang bermacam-macam. Kemeriahan itu tak berlangsung lama setelah pria memasuki arena, situasi mendadak senyap tanpa ada suara. Mereka memilih mendengarkan apa yang akan disampaikan.
Hari itu, ada dua pertandingan sekaligus yang akan dilaksanakan dengan hanya sekali babak. Mereka di antara lain adalah Satia dari Cenderawasih melawan Raka dari Turuwara Merah, kemudian Dimas dari Merak Hitam melawan Aditara dari Cemara Biru. Nanti ada sesi sambutan dari Raja Reswara dan Raja Mandala yang turut serta menyaksikan, diakhiri dengan kroscek kembali hasil dan jadwal pertandingan yang akan datang.
Setelah dibacakan urutan acara tersebut, penonton kembali ricuh dalam keantusiasan. Beberapa dari mereka membawa bendera untuk mendukung jagoannya, mendukung sekolah di mana mereka berada. Suluh yang tak sabar melihat kemampuan temannya, Satia, tak lama kemudian kandidat diminta untuk hadir ke dalam arena. Satia melawan Raka.
Dengan busana putih seirama satu sama lain, kedua insan itu muncul setelah dibacakan keras-keras nama mereka. Memasuki tempat yang memiliki matras berwarna merah, salah satu dari Satia dan Raka yang keluar dari tempat itu otomatis akan kalah. Pertandingan ini ditentukan oleh seberapa kuat mereka bertahan dan wasit akan memutuskan siapa yang berhak lolos. Jadi, meski mereka terjatuh, hal itu belum memastikan mereka kalah.
__ADS_1
Setelah basa-basi formal yang diutarakan Penguasa Niskala dan Indrayana, Satia dan Raka sama sama berdiri berhadapan. Wasit di antara mereka memberikan arahan untuk bersedia. Satia membuat kuda-kuda, kedua bola mata cokelat itu terfokuskan. Sementara Raka melakukan hal serupa, dengan iris kebiruan tersebut memberikan tanda bahwa dia sudah sangat berambisi merebut kemenangan.
"Siap?" seru wasit tersebut lalu berteriak keras. "Mulai!"
Kedua kandidat melangkah memutar, Raka lebih cepat mendekatkan diri kepada Satia yang harus terus diwaspadai. Tak menunda waktu lama, Raka dengan bernafsu memberikan hantaman yang dapat dihindar oleh Satia. Terlebih, dia berhasil menangkap tangan Raka dan detik setelahnya, Satia melakukan serangan balik dengan tangan kanan. Hal itu sukses membuat laki-laki berambut keemasan mundur beberapa langkah.
"Kupikir kau tak ada bedanya dengan lawan-lawanku sebelumnya," cetus Raka sambil melakukan suatu peregangan tangan. "Tapi aku salah."
"Kau tak seharusnya meremehkan lawan," Satia kembali memperkuat kuda-kudanya.
Raka tertawa kecil sambil menoleh ke kanan dan ke kiri lalu berkata, "Aku tak meremehkan mereka. Aku hanya memastikan kapan aku mengeluarkan semua kekuatanku kepada mereka yang layak mendapatkan."
"Dan sepertinya, aku tak bisa setengah-setengah kali ini," sambung Raka mempersiapkan ancang-ancang. "Ini akan sangat menarik, kau tahu?"
Dengan kecepatan luar biasa dia melesat, memberikan sambaran kuat yang harus ditangkis oleh kedua tangan Satia. Karena kekuatan besar itu, anak berambut cokelat tersebut sampai terdorong ke belakang, tangannya ikutan terbuka karena tak mampu menahan. Raka secara cekatan memberikan sepakan memutar akan tetapi Satia tak sesekali lengah. Dia mengelak lalu memberikan sepakan yang sama. Demikian pula serangan Satia dapat dihindari oleh Raka.
Pertarungan yang baru dimulai beberapa menit itu sudah terasa mendebarkan. Semua yang menyaksikan tampak terpana, terdiam membeku memberikan ketegangan. Suluh terlihat melongo, terkesan dengan kemampuan Satia dan di sisi lain iri bahwa dia tak berada di sana. Dia masih belum bisa merelakan secara keseluruhan keputusan tersebut. Mata yang tak dapat berdusta itu mampu terbaca oleh Sekar yang malah memperhatikan Suluh, merasa iba dan kasihan.
Kali ini Satia dibuat melakukan pertahanan walaupun sudah berkali-kali dia hendak keluar dari kemelut gempuran Raka. Tiap serangan balik yang diusahakan Satia bisa Raka antisipasi, dia harus dapat menghemat stamina. Namun satu hal yang tak dia tahu adalah, tatkala dia bersembunyi di balik kedua tangan, Raka melompat secara tiba-tiba, melakukan teknik andalan.
"Rasakan!" dengan jemari yang terapatkan sempurna, tangan kanan itu seakan melakukan suatu aksi mengiris ke bawah. Daya yang dihasilkan serangan tersebut secara instan membelah defensi Satia, memberikan kelemahan yang terbuka lebar. "Pukulan Pemecah Angin."
Dengan telapak tangan kiri Raka, dia menghantam Satia tepat di dada membuat anak itu terpental hingga beberapa meter. Namun dia berhasil menahan tubuhnya agar tidak keluar dari matras, terengah-engah mencoba mengatur napas. Dia yang dalam posisi bersimpuh, mendongak ke arah Raka yang melangkah mendekat secara lambat. Menambah aura mencekam.
"Kau cekatan menahan diri untuk tidak keluar," cetus laki-laki berambut keemasan tersebut. "Aku terkesan kau tak menyerah begitu saja."
__ADS_1
Satia sedikit demi sedikit bangkit dari keterpurukan, kembali bersedia melawan. Kedua mata cokelat itu terlukiskan determinasi. "Aku tak akan kalah!"
...----------------...